“Kehendakmu untuk meninggalkan usaha dan kerja, seraya menghabiskan waktu hanya untuk beribadah, sedangkan Allah masih menempatkanmu di dalam kedudukan orang yang mesti melalui sebab-sebab untuk memperoleh rizki, itu termasuk syahwat yang tersembunyi. Dan kehendakmu untuk menempuh sebab-sebab meraih rezeki, sedangkan Allah telah menempatkanmu di dalam kedudukan orang-orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah, berarti turun dari cita-cita yang tinggi” (al-Hikam : 2).

Semoga Allah swt membimbing dan menolong kita untuk bisa menjadikan semua aktifitas dan kesibukan hidup kita ini sebagai ibadah atau pengabdian kepada-Nya, karena untuk itulah Allah menciptakan kita semua, sebagaimana firman-Nya, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Qs. 51. adz-Dzariyat: 56).

Dalam hal ibadah kepada Allah, manusia terbagi dalam 2 golongan. Pertama, orang-orang yang beribadah kepada Allah di sela-sela waktu kesibukannya menjalani usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia ini dengan bekerja secara zhahir melalui berbagai profesi seperti  petani, pegawai, pedagang atau pengusaha. Kedudukan ini disebut “Maqom Asbab”. Tanda-tanda bahwa Allah swt menempatkan kita di maqom asbab adalah tersedianya pekerjaan atau bidang usaha yang dapat kita tekuni untuk menjadi jalan menjemput rezeki yang halal, sehingga kita dapat mencukupi kebutuhan hidup dan terbebas dari tamak terhadap bantuan orang lain.

Selain itu, di tengah-tengah jerih payah kerja dan sibuknya usaha itu urusan agama kita tetap selamat dan bisa menunaikan kewajiban amal-amal ibadah, baik yang zhahir maupun yang bathin. Hal ini sesuai dengan perintah Allah swt, “Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi, dan carilah karunia Allah. Dan berdzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu sekalian beruntung” (Qs. 62. al-Jumu’at: 10).

Kedua, orang-orang yang  waktu hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya, sehingga mereka tidak sempat menjalani kesibukan usaha dan kerja yang bersifat zhahir sebagaimana kebanyakan orang, namun kebutuhan hidupnya dicukupi dengan rezeki karunia Allah yang  ia dapatkan dari arah yang tidak terduga. Kedudukan ini disebut “Maqom Tajrid”. Tanda-tanda bahwa seseorang telah Allah tempatkan di maqom tajrid adalah bahwa Allah mudahkan ia untuk memperoleh kebutuhan hidupnya dari arah yang tidak terduga, Allah jadikan hatinya tetap tenang di saat ada kesulitan karena ia hanya bergantung kepada Allah semata, serta dalam keadaan apapun ia terus istiqomah sibuk menunaikan kewajiban dan tugas-tugas ibadahnya kepada Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan untuknya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak terduga. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Ia akan mencukupi (kebutuhan)nya”. (Qs. 65. ath-Thaalaq: 2-3).

Jika Allah masih menempatkan kita di “Maqom Asbab”, maka kewajiban kita adalah menekuni ibadah kepada-Nya dan tetap gigih menjalani tugas profesi kita sesuai dengan waktu dan tempatnya. Kita tidak boleh nekad memaksakan diri untuk naik ke ”Maqom Tajrid”, karena sikap seperti itu hakikatnya muncul dari dorongan halus hawa nafsu atau syahwat yang tersembunyi.  Disebut syahwat tersebunyi, karena sikap tersebut menunjukkan bahwa kita tidak mau menempati kedudukan yang sedang dikehendaki oleh Allah, namun justru memenuhi kehendak hawa nafsu diri sendiri.

Pada zhahir atau luarnya seakan-akan kehendak untuk tajrid itu agar kita bisa tiada putusnya menghabiskan seluruh waktu hidup untuk berbadah dan mendekat kepada Allah tanpa terganggu aktifitas kerja dan usaha, namun di dalam bathinnya sesungguhnya kehendak kita adalah untuk memperoleh kemashuran dengan menjadi orang yang dikasihi Allah atau “Waliyullah”, sehingga orang-orang awam akan menghadap kepada kita untuk mendekat dan mempercayai kita.

Akibat buruknya adalah kita akan terputus dari menekuni tugas dan kewajiban amal-amal ibadah dan wirid-wirid yang ada di hadapan kita karena terlena dengan berbagai penghormatan, pujian dan kemashuran. Selain itu terkadang kita akan jatuh kepada tamak terhadap uluran bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup. Itulah sebabnya Ulama Ahli Ma’rifat mengingatkan, “Menghadapnya manusia kepada seorang murid sebelum ia sampai kepada kesempurnaan ibadahnya adalah racun yang mematikan”.

Sebaliknya, orang yang Allah telah menempatkannya di “Maqom Tajrid”, kemudian ia meninggalkan sebagian amal ibadahnya untuk terjun menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas dunia kerja dan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup yang diinginkannya, berarti ia telah menurunkan diri dari hasrat dan cita-cita yang tinggi dan mulia. Karena dengan sikap tersebut, berarti ia hendak kembali menuju kepada makhluk setelah sebelumnya ia hanya menujukan gantungannya kepada Allah al-Haq. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari di dalam Kitab al-Hikam, “Kehendakmu untuk tajrid sedangkan Allah masih menempatkanmu di dalam asbab itu termasuk syahwat yang tersembunyi. Dan kehendakmu untuk asbab sedangkan Allah telah menempatkanmu di dalam tajrid berarti turun dari cita-cita yang tinggi” (al-Hikam: 2).

Kewajikan kita sebagai “Murid”, orang yang hendak mendekat kepada Allah swt, dan sebagai “Salik”, orang yang sedang menempuh perjalanan amal ibadah untuk sampai ke Hadirat Allah adalah tetap tekun dan ridha menjalani segala ibadah dan kesibukan di dalam maqom yang Allah sedang tempatkan kita dalamnya, sampai pada waktunya nanti Allah yang akan mengeluarkan kita dari maqom ini untuk pindahkan ke maqom lainnya dengan petunjuk, perintah dan kuasa-Nya.

Kita dilarang keluar dari satu maqom menuju ke maqom yang lain karena mengikuti kehendak hawa nafsu sendiri dan bujuk rayu syetan, karena akibatnya bisa menjatuhkan kita ke dalam samudera keterputusan dari hidayah, rahmat dan barokah Allah swt. Sebagaimana ketika Allah swt mengingatkan Nabi Adam as dan Siti Hawa,  “Dan kami berfirman: “Hai Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang akan menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu syetan menggelincirkan keduanya dari surga itu dan mengeluarkan keduanya dari keadaannya yang semula. Dan Kami berfirman: “Turunlah kamu !” (Qs.2. al-Baqarah : 35-36).

Derajat kita dalam ibadah pada hakikatnya tidak terletak pada masalah tajrid atau asbab. Kemuliaan kita tidak terletak pada sebutan kita sebagai ustadz, kyai, petani, pedagang, pegawai atau pengusaha. Kemuliaan itu ada di dalam ikhlas dan istiqomah kita menjalani hidup dan ibadah sesuai dengan kedudukan yang sedang Allah tempatkan kita di dalamnya. Apabila kita menjadikan seluruh aktifitas dan kesibukan hidup ini sebagai pengabdian kepada Allah dan dijalani sesuai dengan ketetapan Hukum Syari’ah-Nya, maka jadilah hidup kita selalu menjadi ibadah kepada Allah Azza Wa Jalla. Sebagaimana ikrar kita di do’a iftitah sholat, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku kupersembahkan untuk Allah Tuhan semesta alam”.

<Ustadz Shoffar Mawardi>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *