Kata “adha” dalam kalimat Idul Adha yang digunakan untuk menamai hari besar Islam tanggal 10 Dzulhijjah berasal dari bentuk kata “adha-yudhi-udhiyatan” yang artinya adalah “berkorban”. Maka Idul Adha jika diterjemahkan dalam bahasa kita artinya adalah Hari Raya Korban PENGORBANAN. Maknanya hari tersebut merupakan hari di mana umat Islam yang merayakannya melakukan sebuah pengorbanan.

Pengorbanan apa?

Itulah pertanyaan yang masing-masing dari kita silahkan menjawabnya..
10 Dzulhijjah dinamai dengan Idul Adha bermula dari kisah yang sering kita dengar di mana Nabi Ibrahim AS mengorbankan putera tercintanya Ismail AS dan menyembelihnya karena Allah SWT. Seperti yang diceritakan di dalam Alquran. Selanjutnya umat manusia diharapkan mengingat momen tersebut dengan saling menanyai diri sendiri.

“Jika Nabi Ibrahim AS mengorbankan jiwa puteranya untuk Allah swt, maka apa yang sudah aku korbankan untuk-Nya?“

Namun sebelum kita bahas lebih jauh tentang jawaban dari pertanyaan tersebut, ada baiknya jika kita bahas lebih dulu tentang arti berkorban itu sendiri.

Saya kesulitan utuk mendefinisikan arti berkorban, namun barangkali kurang lebihnya begini: “Berkorban adalah memilih untuk memberikan sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh seseorang kepada yang lain.”

Dari pengertian ini maka dapat disimpulkan bahwa orang yang terpaksa harus kehilangan anggota tubuhnya karena kebakaran, misalnya, tidaklah dikatakan berkorban tapi dikatakan mendapat sebuah musibah sebab dia tidak memilih.

Dan perbedaan antara berkorban dengan sekedar berbuat baik ada pada “sesuatu yang berharga” yang saya sebutkan di atas.

Lihat saja bahwa jika ada orang kaya memberi sedekah nasi bungkus kepada seorang tukang sampah misalnya dia hanya disebut berbuat baik namun tidak dikatakan berkorban sebab apa yang dia berikannya kepada tukang sampah tersebut bukanlah sesuatu yang berharga untuk dirinya setidaknya jika dibandingkan dengan apa yang dimilikinya.

Namun jika si tukang sampah yang sebenarnya tengah kelaparan itu memberikan nasi bungkusnya kepada seorang gelandangan tua yang dia pikir lebih lemah dari dirinya misalnya kita membahasakan bahwa orang tersebut telah mengorbankan makanannya demi orang lain karena sebungkus nasi untuk si miskin adalah sesuatu yang berharga mengingat tak selalu ada untuk setiap harinya.

Maka objek atau sasaran berkorban adalah “sesuatu yang berharga” yang dimiliki oleh seseorang, dan berharga bagi tiap orang adalah berbeda, ia bisa jadi tidak sama. Relatif dan bergantung.

“Bergantung apa?“

Ini jugalah pertanyaan yang timbul dalam benak saya. Dan saya cukup lama memikirkan hal ini, hingga mendapatkan kesimpulan yang semoga selalu dalam jalan yang benar.

Sesuatu yang berharga bagi seseorang bukan bergantung dari seberapa banyak sesuatu tersebut dimiliki olehnya, meskipun tentu saja nyawa yang karena cuma satu lebih berharga dari pada nafas yang seringkali dimiliki seseorang dalam jumlah yang banyak.

Sesuatu menjadi berharga bagi seseorang bergantung dari seberapa hatinya menCINTAI sesuatu tersebut. Karenanya kita melihat seorang ibu akan menangis histeris atas kematian anaknya meski sebanyak apapun jumlah anak yang dimilikinya.

Ya, sesuatu menjadi berharga karena ia dicinta. Semakin dalam cinta seseorang kepada sesuatu semakin takut ia kehilangan dan semakin berat ia melepaskannya dari kepemilikan.

Dan ketika suatu saat dia memilih untuk memberikannya kepada orang lain di sanalah sebuah pengorbanan telah diperjuangkan.

Berdasarkan inilah para pecinta Allah SWT mengorbankan apapun yang mereka miliki yang sejatinya mereka cintai untuk membuktikan cinta mereka kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :
“Dan orang-orang yang beriman cinta mereka kepada Allah luar biasa besar” Mereka korbankan harta mereka, pekerjaan mereka, kehidupan mereka bahkan nyawa mereka demi cinta kepada Allah SWT.

Lihatlah para sahabat Nabi yang rela gugur di medan pertempuran, lihat shodaqoh Abu Bakar RA tatkala Nabi membutuhkan bekal dalam sebuah peperangan, dia membawa seluruh hartanya di hadapan Nabi dan menyerahkannya kepada beliau tanpa menyisakan apapun untuk dirinya sendiri.

Lihat pula para sahabat Muhajirin yang meninggalkan rumah, harta dan pekerjaan mereka di Mekkah untuk ikut serta hijrah ke Madinah bersama Nabi Muhammad SAW.

Inilah pengorbanan..

Dan kita kini berada di bulannya, bulan PENGORBANAN, bulan yang di dalamnya kita dituntut mengingat maknanya.

Apa yang sudah kita korbankan dalam hidup kita untuk menerjemahkan makna cinta kita kepada Allah SWT?

Allah SWT menanti pengorbanan kita… Karenanya mari kita mulai belajar berkorban. Saya katakan belajar sebab pengorbanan-pengorbanan besar selalu diawali dengan yang kecil, dan pengorbanan sekecil apapun butuh pelatihan diri untuk melakukannya.

Kita tentu tak akan mulai dengan pengorbanan nyawa kita, seluruh harta kita, atau seluruh kesenangan kita.

Tapi setidaknya kita bisa mulai menyisihkan sebagian dari waktu tidur kita untuk tahajjud, mengorbankan sedikit dari pakaian di lemari kita untuk kita korban bencana alam, mengorbankan kenyamanan tubuh kita dengan    berpanas-panas    menutupi auratnya, mengorbankan sebagian akal dan pikiran kita untuk memikirkan ilmu agama-Nya, mengorbankan rasa kantuk, rasa bosan, rasa sebal, rasa marah untuk mencari keridhoan-Nya, mengorbankan kesenangan kita demi mencari cinta-Nya.

Memahami hal ini maka makna berkorban adalah: Memilih untuk memberi yang kita cinta kepada yang kita cinta karena cinta.

Berkorban adalah pembuktian cinta. Dan jika cintamu sudah terbukti, ia tinggal menunggu balasan.. dari Dia yang tak pernah mengecewakan pecinta-Nya..

Ustadzah Halimah Alaydrus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *