Doa telah menjadi bagian penting dan tak terpisahkan dari kehidupan kita. Kita meyakini ada banyak hal yang dapat kita capai melalui kerja keras kita, tetapi tidak sedikit pula yang tidak dapat capai dengan usaha-usaha kita. Untuk yang terakhir ini biasanya orang menggunakan doa sebagai cara untuk mewujudkan harapannya.

Tepatlah ujaran Nabi saw: “Doa adalah senjata seorang mukmin.” (HR. al-Hakim dari ‘Ali ra)

Melalui doa kita dapat meraih berbagai manfaat dan terhindar dari berbagai kemudharatan. Bahkan ketentuan Allah (qadhâ) sekali pun dapat berubah karena doa.

Nabi saw bersabda: “Tidak ada yang dapat menolak qadha (ketentuan Allah) kecuali doa dan tidak ada yang dapat memperpanjang umur kecuali al-birr (kebaktian).” (HR. al-Tirmidzi dari Salman ra., hadits hasan Gharib)

Doa tidak saja menjadi kebutuhan kita tetapi sekaligus diperintahkan Allah Ta’ala dan Allah pun menjamin pengabulan doa.

Dan Tuhanmu berfirman,”Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri enggan beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. 40:60)

Namun, tidak jarang dalam beberapa peristiwa di mana seseorang sangat berharap doa yang ia panjatkan dengan penuh kesungguhan dapat dikabulkan justru ia tidak melihat pengabulan tersebut. Tidak sedikit kemudian orang berburuk sangka terhadap Allah atau bahkan berputus asa dan berhenti berdoa.

Pertanyaannya adalah: apakah benar doa orang itu tidak dikabulkan? Atau justru doa itu dikabulkan namun ia tidak menyadarinya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita petik sebuah ujaran al-‘Ărif billâh Shaikh Ahmad ibn ‘Athaillâh al-Sakandarî (semoga Allah merahmatinya) dalam kitab al-Hikam beliau:

“Janganlah lambatnya masa pengabulan, padahal engkau telah sungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkan keputusasaanmu. Karena Dia telah menjamin kepastian pengabulan doa, tetapi dalam bentuk terbaik yang ia pilihkan untukmu bukan dalam bentuk yang engkau pilih untuk dirimu dan pada waktu yang ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.” (al-Hikam)

Secara tersirat ujaran itu dapat mengandung arti, ada doa-doa kita yang terkabul sesuai yang kita minta dan pada waktu yang kita harapkan, tetapi ada juga doa-doa kita yang terkabul bukan seperti yang kita minta dan pada waktu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Bentuk apa pun pengabulan itu dan kapan pun terwujudnya, jika kita berdoa dengan penuh kesungguhan, memenuhi syarat, rukun dan adab-adabnya, pastilah bentuk pengabulan dan waktu terwujudnya adalah yang terbaik yang Allah pilihkan untuk kita.

Sehingga, ketika seseorang memutuskan untuk berdoa kepada Allah maka dalam dirinya ia harus memiliki kesiapan hati, yaitu: di satu sisi merasa dirinya bodoh, lemah, dan miskin sedangkan di sisi lain ia merasa yakin Allah swt lah satu-satunya yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Kaya. Perasaan bodoh dihadapan Allah membuat ia merasa yakin bahwa bentuk pengabulan apa pun dan kapan pun adalah sebaik-baik kejadian yang Allah pilihkan untuknya berdasarkan ilmu dan hikmah Allah yang tiada bertepi. Perasaan lemah di hadapan kekuasaan Allah membuat ia merasa yakin bahwa tidak sulit bagi Allah untuk mewujudkan harapannya. Perasaan miskin di hadapan kemahakayaan Allah menimbulkan perasaan rendah diri dan membutuhkan Allah. Bila perasaan ini telah hadir maka orang itu siap untuk berdoa. Bila tidak, maka orang itu belum siap untuk berdoa.

Bila hati telah dikuasai perasaan bodoh, lemah dan miskin maka lisan akan menjadi penerjemah bagi hati. Di sanalah terlihat hakikat doa, yaitu kita adalah ‘abd (hamba) dan Allah adalah Rabb (Tuhan). Doa kita bukan untuk memberitahukan Allah apa yang tidak Ia ketahui, tetapi lebih pada menunjukkan kita adalah hamba yang selalu membutuhkan-Nya  dan Dia lah satu-satunya Tuhan yang menjadi tumpuan seluruh mahluk. Ini yang diisyaratkan dalam ucapan lain Shaikh Ahmad ibn ‘Athaillâh (semoga Allah merahmatinya) tentang tujuan terpenting dari doa:

“Bukanlah tujuan utama hanya sekedar minta, tetapi justru yang terpenting adalah engkau dianugerahi tatakrama terhadap Tuhan.” (Al-Hikam)

Berkenaan dengan adab terhadap Allah yang paling terlihat ketika seseorang berdoa telah menjadikan doa sebagai peristiwa terbaik yang memperlihatkan hubungan langsung dan pengakuan hamba terhadap Tuhannya, Nabi saw bersabda:

“Tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah ketimbang doa.” (HR. al-Tirmidzi dari Abu Hurairah ra, hadits hasan gharib)

Bila hati sudah siap berdoa maka perhatikanlah tiga hal berikut:
1.    Jagalah adab-adab berdoa, seperti: menjaga kehalalan makanan, minuman dan pakaian, ikhlas karena Allah, memulai dengan amal shalih, berwudhu, menghadap kiblat, shalat, bertobat, memulai dengan memuji Allah, bersahlawat atas Nabi saw, mengangkat kedua tangan setentang bahu dan membuka kedua telapak tangannya, meminta dengan asma al-Husna, hadir hati, penuh keyakinan dan kekhusyu’an, harap dan cemas, tidak meminta sesuatu yang mustahil, mengandung dosa atau memutuskan silaturahmi, tidak tergesa-gesa mengatakan’aku sudah berdoa tetapi tidak dikabulkan

2.    Pilihlah waktu-waktu mustajabah, seperti: Lailatul qadar, hari ‘arafah, bulan Ramadhan, malam jum’at, siang jum’at dan satu saat di hari jum’at, tengah malam, sepertiga malam yang pertama dan terakhir, waktu sahur, ketika azan, antara azan dan iqamah, setelah shalat fardhu, ketika sujud, ketika membaca dan ketika mengkhatam al-Quran, ketika minum zamzam, ketika berkumpul di majelis dzikir, dan ketika turun hujan

3.    Tempat-Tempat istimewa, seperti: multazam, tempat-tempat di sekitar Ka’bah dan masjid-al-Haram, ‘Arafah, Muzdalifah, Mina, raudhah Nabi saw, masjid-masjid, dan majelis dzikir

Jika kita melakukan hal-hal di atas maka tidak bisa tidak, doa pasti dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
Apa jaminannya? Jaminannya adalah janji Allah swt  dan Rasul-Nya saw.

“Dan Tuhan kalian berfirman,” Berdoalah kepada-Ku, pasti Aku perkenankan doa kalian…” (QS.40:60)
“ …Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku….”(QS.2:186)

Dari Abu Sa’id r.a, bahwa Nabi saw bersabda,” Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi melainkan Allah pasti mengabulkannya dalam bentuk salah satu dari tiga kemungkinan. Mengabulkan segera di dunia, atau menyimpannya untuk balasan di akhirat, atau menghilangkan keburukan setara dengan kadar doanya.”
Shahabat berkata,” Jika kami memperbanyak doa, bagaimana?” Beliau saw bersabda,” Allah pun akan lebih banyak mengijabahnya.”
( HR.Ahmad dan Al-Hakim dari Abu Sa’id r.a., sanadnya shahih menurut al-Hakim dan sanad Ahmad adalah jayyid menurut Syu’aib al-Arnuth)

Ijabah dari Allah sudah pasti, hanya saja bentuk pengabulannya dan waktu terwujudnya ada dalam pilihan Allah swt sesuai ilmu dan hikmah-Nya yang tiada bertepi. Sebagai hamba, diberikan taufik untuk dapat berdoa dan menjaga adab dalam berdoa sudah merupakan kemuliaan yang luar biasa yang harus kita syukuri. Apa pun yang Allah pilihkan kemudian untuk kita sebagai bentuk pengabulan doa maka itulah yang terbaik untuk dunia dan akhirat kita, dan itu pun harus kita syukuri.

Tidak semua yang kita pikir baik untuk kita adalah suatu kebaikan. Tetapi, semua yang Allah pilihkan untuk kita pastilah yang terbaik untuk kita.

“….boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ia baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. 2:216)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *