Kita belajar bahwa Islam, meskipun Nabinya seorang laki-laki, tapi dikelilingi oleh perempuan-perempuan hebat. Makanya kita sering mendengar istilah “Di belakang laki-laki hebat, ada wanita yang hebat.” Betapa sangat berpengaruhnya seorang perempuan untuk suaminya. Mereka adalah didikan Nabi Muhammad SAW sekaligus pendukung nomor satu dakwah beliau.

Khadijah Binti Khuwailid
Dari awal menikah, niat Sayyidah Khadijah adalah untuk mendukung dakwah Rasulullah SAW. Beliau adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah bahkan sebelum Nabi sendiri yakin bahwa beliau utusan Allah. Jika kita bercerita tentang Sayyidah Khadijah, beliau adalah seseorang yang tidak pernah berkata tidak kepada suaminya. Kita belajar darinya bagaimana menjadikan hidup untuk Allah SWT dan Rasulnya.

Kita bayangkan sekarang seorang perempuan di jaman itu (sekitar 1400 tahun yang lalu), saat perempuan lain bahkan belum bisa baca-tulis, Sayyidah Khadijah sudah berkarir, punya perniagaan ekspor-impor, jaman. Terbayang, seperti apa dewasanya, bijaknya, majunya pemikiran Sayyidah Khadijah radhiallahu ‘anha. Semua dari yang beliau punya, dari profesi, harta, kedermawanan dan lain sebagainya, itu semua digunakan untuk Allah dan Rasul-Nya.

Beliau pernah sangat kaya dan sangat miskin. Kejadiannya waktu Nabi SAW diboikot oleh Kaum Quraish, sehingga membuat Nabi kemudian bersama keluarga besarnya memutuskan untuk berada di lembah selama dua setengah tahun. Mereka sangat dibatasi, orang-orang luar tidak dibolehkan kirim dan jual makanan kepada mereka. Sampai-sampai Sayyidah Khadijah harus mencari tumbuh-tumbuhan hijau di sela-sela padang pasir. Hingga Nabi sendiri merasa malu terhadapnya.

Menjawab kegalauan suaminya, Sayyidah berkata, “Ya Rasulullah, jangan pernah merasa malu. Karena jangankan sekedar harta, seluruh pemikiranku, seluruh tenagaku, seluruh waktuku, seluruh hidupku, seluruh seluruh nyawa yang aku punya, hidup-matiku, semuanya sudah aku persembahkan untukmu, ya Rasulullah.” Bahkan dalam keadaan susah seperti itu, beliau tidak kehilangan kata-kata manisnya kepada suaminya.

Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar
Nabi menikahi Sayyidah Aisyah untuk membuat generasi perempuan yang beriman, muslimah, thawadhu, taqwa, pandai secara ilmu agama. Kenapa Nabi menikahi Sayyidah Aisyah yang usianya jauh di bawah beliau? Teman-teman saudariku semua yang saya muliakan, siapa yang paling bisa mengajari perempuan kalau bukan dari kalangan Nabi Muhammad? Siapa di antara wanita yang kalau perempuan bertanya terhadapnya, mereka tidak akan malu? Kalau guru laki-laki banyak selain Nabi SAW. Namun urusan secara khusus dengan perempuan, seperti tentang haid misalnya. Diperlukan ada seorang guru perempuan untuk bisa menjawab pertanyaan kaum wanita. Dan siapa yang bisa untuk terus-menerus bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang urusan agama, kalau bukan isteri beliau sendiri. Apalagi hanya Aisyah wanita yang paling muda dinikahi Nabi karena wanita lainnya yang diperisteri beliau sudah berusia lanjut.

Saat kita mengajari orang tua, daya tangkapnya lebih lemah. Sementara jika mengajari anak kecil, saat memang di masa-masa belajar, dia akan sangat kritis, apalagi kalau anaknya cerdas. Itulah yang terjadi pada Aisyah. Itu yang diharapkan terjadi oleh rasulullah SAW terhadap diri Aisyah yang memang sangat kritis saat bertanya pada Rasulullah SAW. Para ulama meriwayatkan, “Seperempat dan fiqih-nya ummat Islam (bab sholat, wudhu, zakat, haji, puasa, halal/haram, perdagangan, dan lain sebagainya) itu dari Aisyah.” Sementara sepertiganya lagi dari beratus, bahkan beribu sahabat yang meriwayatkan haditsnya Nabi Muhammad SAW.

Sayyidah Ummu Salamah
Salah satu dari meriwayatkan hadits Nabi SAW di mana Nabi suka untuk mengajak Ummu Salamah berdiskusi karena punya pikiran yang panjang dan sangat dewasa. Saat Nabi Muhammad SAW sedang sakit dan tetap ingin mengunjungi dan bermalam di rumah isteri-isterinya, Ummu Salamah memberi usul bahwa sebaiknya Nabi tinggal di saya di rumah Aisyah dan mereka yang bergantian mengunjunginya karena Asiyah lah yang usianya paling muda, masih kuat untuk mengurus dan melayani Nabi. Lagipula rumahnya juga paling dekat ke masjid, sehingga Nabi tidak akan kesulitan jika ingin bertemu dengan sahabat-sahabatnya.

Jika menghadapi usatu permasalahan tidak panik. Semua dipikirkan beliau dengan begitu bijaksananya. Termasuk saat Nabi Muhammad SAW menunaikan haji dan meminta para sahabat untuk menggunduli rambutnya (tahalul). Namun setelah berkata seperti itu, beliau melihat tidak ada sahabat yang bergerak untuk melaksanakan gundul rambut. Nabi kemudian diskusi dengan Ummu Salamah. Jawab beliau, “Ya Rasul, mereka tidak melakukannya karena mereka ingin mencukur rambut sesuai dengan caramu melakukannya. Oleh karena itu, cukurlah rambutmu di hadapan mereka semua. Mereka pasti akan segera melaksanakannya.” Dan ternyata perkataan beliau benar adanya.

Ustadzah Halimah Alaydrus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *