Inspirasi Kebaikan: Sebarkan hanya kebaikan dan syi’ar Islam di beranda media sosial

media sosial ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan waktu bagi kita umat muslim untuk membina diri melalui amalan, perbaikan sikap dan menjauhkan diri dari hal-hal yang dimurkai Allah, termasuk banyak hal-hal sepele yang terlontar melalui ucapan baik langsung atau lewat media sosial yang berpotensi merusak ibadah puasa tanpa kita sadari. Termasuk dalam ikhtiar menaikkan level puasa apabila kita bisa mempuasakan mata kita dari berinteraksi dengan sosial media terlalu lama.

Namun, “Teknologi adalah karunia dan ujian dari Alloh, bisa memudahkan kita untuk memperbanyak kebaikan atau memperbanyak dosa.” Begitu pesan guru kita KH. Abdullah Gymnastiar.

Alangkah baiknya jika keberadaan media sosial digunakan secara bijak untuk #SyiarkanKebaikan di bulan Ramadhan

Bagaimana caranya? Simak 5 tips #SyiarkanKebaikan melalui media sosial di bawah ini

Pertama, Ubah Pola Pikir.

Berpikir panjang saat menulis setiap kata dan kalimat dalam tulisan di jejaring sosial media kita

Pertimbangkan manfaat yang penulis maupun pembaca lainnya dapatkan dari sebuah tulisan yang kita kirimkan.

Apalagi ketika berpuasa; nafsu, kemarahan, dan keluh kesah harus menjadi faktor utama yang harus dikendalikan untuk tidak dibagikan lewat media sosial.

Ingat, sebagai seorang hamba, kelak setiap yang kita perbuat termasuk tulisan di media sosial akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.

Kedua, Pilih Input yang baik.

Satu ungkapan terkenal mengatakan “You are what you read”.

Apa yang kita baca mempengaruhi pikiran yang akan menentukan keputusan dan tindakan kita.

Setiap hari kita tidak bisa menghindari jutaan informasi, berbagai status dan komentar di beranda media sosial yang belum tentu membawa manfaat baik kepada pembacanya.

Untuk itu, secara bijak kita perlu memilih siapa yang jadi teman dan kita ikuti update-nya di jejaring media sosial, Informasi yang baik dan berguna untuk dibaca akan memberikan dampak positif terhadap diri kita

Ketiga, Kurangi Porsi Menggunakan Media Sosial Saat Ramadhan

Bukan tidak boleh aktif di media sosial, namun hindari menggunakannya secara berlebihan. Jangan sampai  kegiatan berselancar di media sosial, chat, streaming, dan sebagainya membuat kita lalai dan lupa waktu untuk ibadah kepada Allah, apalagi di bulan yang detik demi detiknya berharga. Rugi!

Atur waktu agar gadget dan lainnya dapat dijauhkan ketika sedang beribadah, buka puasa dan sahur bersama keluarga. Manfaatkan informasi-informasi menarik tentang ramadhan melalui media sosial serta aplikasi yang dapat membantu ibadah.

Keempat, Hindarkan Media Sosial Dari Hal-Hal Yang Haram

Segala muatan yang mengandung unsur konten negatif, seperti: pornografi, kejahatan, dengki, kesombongan, kemarahan, permusuhan,sumpah serapah dan lainnya, merupakan suatu hal yang haram dan bertolak-belakang dengan semangat Ramadhan.

Kelima, #SyiarkanKebaikan

Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk berbagi dan menyebarkan syiar Islam melalui media sosial. Bagikan konten positif, tunjukkan inspirasi citra Islam yang santun dan rahmatan lil ‘alamin. Dengan begitu, kita menggunakan media sosial sebagai alat untuk memperbanyak amal kebaikan. Semoga menjadi amal shalih dan menambah pahala di bulan dimana dilipatgandakan pahala. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin

Humas DT Jakarta

Amalan Istimewa di Bulan Ramadhan

aagym amalan istimewa di bulan ramadhan
aagym amalan istimewa di bulan ramadhan
Aagym-Amalan istimewa di bulan Ramadhan

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dialah Dzat Yang Maha Kuasa atas segalanya, tiada yang mampu menciptakan seluruh alam ini dengan segala isinya dan mengurusnya selain Dia. Dialah pula yang masih memberikan kita kesempatan untuk menyambut bulan yang paling kita rindukan, yaitu bulan Ramadhan. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw, atas perjuangan beliaulah, cahaya Islam yang penuh keadilan dan keselamatan ini sampai kepada kita,

Hari berganti hari, tak terasa hari-hari Ramadhan sedang kita jalani. Bagi kita yang setiap tahun melalui Ramadhan, tidak seharusnya menjadikannya rutinitas ritual formal yang hampa dari nilai, yang dilakukan untuk sekedar menggugurkan sebuah kewajiban. Sebab jika demikian, puasa Ramadhan tidak mempunyai imbas apapun dalam perbaikan jiwa yang bersangkutan.

“…Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya)…” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan bulan Istimewa

Ramadhan ini sebaiknya berbeda dengan ramadhan yang lalu. Caranya sedherhana: Ramadhan itu bulan istimewa, hari demi harinya istimewa, jam demi jam-nya istimewa. Maka jangan melakukan kecuali yang istimewa, pastikan setiap kita melakukan sesuatu dengan niat istimewa Lillahi ta’ala.

Kalau ada sampah di hadapan, kita biarkan atau ambil?

Kalau ada yang menghina, kita balas atau kita diamkan?

Kalau mau makan, kita habiskan sendirian, atau berbagi dengan yang lain?

Nah seperti itulah contoh dan amalan yang istimewa yang perlu kita terapkan di bulan Ramadhan, dengan niat untuk meraih ridha Allah.

Fastabiqul Khairat

Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Berlomba-lomba melaksanakan kebaikan lebih baik daripada hanya sekedar melakukan kebaikan, ibarat orang yang sedang lomba lari maka akan lebih cepat daripada orang yang latihan lari biasa. Begitu besarnya keutamaan bulan Ramadhan ini, sehingga rugi jika tidak kita gunakan untuk berlomba dalam kebaikan.

“Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan” (H.R. Tirmidzi)

Putus Harapan dari Makhluk (Ikhlas)

Dari semua yang di atas tadi, yang paling istimewa adalah melakukan sesuatu tanpa mengharap apapun dari Allah Swt. Itulah Ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah Swt. Jadi misalnya ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak dilihat orang, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.

Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa. Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan.

Masya Allah, bayangkan, jika kita melakukan segala sesuatu di bulan Ramadhan dengan niat dan amalan istimewa, disertai dengan semangat fastabiqul khairat dan keikhlasan, insya Allah kita bisa mempersembahkan pahala terbaik di bulan terbaik ini. Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin.

Kiat Ramadhan Penuh Makna

kiat ramadhan penuh makna


Sahabat, Sya’ban semakin bergegas meninggalkan perputaran waktu. Ia pun akan segera digantikan dengan bulan baru. Tak terasa kedatangan Ramadhan tiba. Menjadi bagian dari sendi waktu setiap manusia. Aroma kedatangannya melingkupi seluruh penjuru langit dan bumi. Semua ciptaanNya pun kian mempersiapkan diri untuk menyambut mesra kedatangan bulan ini. Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita sambut dengan gembira, Marhaban Yaa Ramadhan.

Senang, sebab Ramadhan menjanjikan segalanya, khususnya memberi “bonus pahala” kepada kita dalam beribadah. Bahagia, karena hampir semua orang berlomba dalam memperbanyak amalan baiknya. Sehingga, peluang untuk berbuat dan menyaksikan maksiat otomatis berkurang.

Maklum, saat Ramadhan, dari mulai anak-anak, remaja, sampai bapak-ibu, kakek-nenek, semua berlomba mencari pahala. Yang sebelumnya jarang ke masjid untuk shalat, tiba-tiba saat Ramadhan ramai memakmurkan masjid. Kegiatan tadarus dan membaca Al-Qur’an selepas Isya, juga mampu mengalihkan perhatian sebagian besar umat Islam dari lagu-lagu yang selama ini jadi favoritnya. Ya, Ramadhan memang mampu memberi nuansa yang berbeda dengan bulan lainnya. Itu sebabnya, bulan Ramadhan selalu disambut gempita oleh kaum muslimin. Masya Allah…

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (H.R. Ahmad)

Nah, Sahabat. Maukah Ramadhanmu berbeda dari Ramadhan sebelumnya? Agar terjaga puasa kita, lebih baik dan penuh makna ramadhan kita, kami hadirkan beberapa tips:

Pertama, jaga kondisi tubuh.

Caranya? Olahraga adalah alternatif paling mudah. Istirahat cukup, tetapi jangan berlebihan (jangan terlalu banyak tidur) Menjaga kondisi tubuh tentu tujuannya agar kita bisa sukses menjalani puasa satu bulan penuh tanpa sakit, insya Allah.

Kedua, perbanyak aktivitas amal sholeh.

Semakin banyak aktivitas, semakin cepat waktu berlalu. Aktivitas di sini adalah yang berkaitan dengan pelaksanaan amal baik kita; seperti tarawih berjamaah di masjid diusahakan tanpa putus, tadarus Al-Qur’an minimal satu hari satu juz, membuat atau ikut acara sanlat, menghadiri kuliah subuh, dauroh Ramadhan, kajian Islam, dan lain-lain. Pastikan niatnya adalah dalam rangka mencari pahala dan ridha Allah semata.

Ketiga, hindari perbuatan maksiat, baik yang terang-terangan maupun tersembunyi.

Terus terang, kalau menahan lapar, insya Allah kita kuat. Tetapi, untuk urusan menahan hawa nafsu, ini yang perlu kuat ikhtiar. Tapi, ya namanya juga manusia, tempatnya lupa dan salah. Adakalanya kita tanpa terasa atau bahkan sengaja berbuat dosa. Aduh, bisa-bisa menguap pahala puasa kita, bahkan hanya dapat lapar dan dahaga saja. Naudzubillah min dzalik.

“Apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah berbicara tentang perkara yang keji dan kotor. Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata: Sesungguhnya hari ini aku berpuasa, sesungguhnya hari ini aku berpuasa.” (HR Bukhari Muslim)

Keempat, hilangkan aktivitas yang miskin manfaat bagi puasa kita.

Menonton TV atau berselancar media sosial? Ya, meski aktivitas itu tergolong mubah alias boleh-boleh saja dilakukan, tetapi kalau seharian bagaimana? Sahabat, puasa bukan berarti menghambat aktivitas kita yang lain. Sehingga inginnya di rumah saja. Itu kurang bermanfaat, dan yang pasti bisa membuat Ramadhan kita tidak nikmat dan bermakna. Ayo, jangan sia-siakan bonus pahala dari Allah.

Kelima, #SyiarkanKebaikan di bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan selalu identik dengan Islam dan kaum muslimin. Nah, agar kebaikan di bulan ini sempurna, niatkan segala aktivitas baik yang kita lakukan sebagai syi’ar dakwah Islam. Inilah momen yang tepat untuk setiap individu muslim menggambarkan islam rahmatan lil ‘alamin

Itulah tips menjadikan bulan Ramadhan kita penuh makna. Siapkan segala bekal untuk terjun di medan yang penuh pahala, sekaligus tantangan. Inilah kesempatan kita untuk memperbaiki kualitas amal dan sekaligus memperbanyak amal shalih. Sahabat siap?

Lima Amalan yang Jangan Sampai Lepas

Aa Gym
Aa Gym
Aa Gym

Hadirin, jangan sampai lepas mengamalkan 5 amalan ini:

  1. Shalat. Perbanyak shalat. Kalau bisa minimal 40 rakaat sehari (17 fardhu, 10 Rawatib, 11 Tahajud+Witir, 2 duha)
  2. Qur’an. Jangan pernah lepas dari Qur’an. Tiap hari harus baca Qur’an, tidak boleh kalah dengan sibuk di Sosial Media. Usahakan 1 juz, mudah bila dicicil satu lembar sebelum shalat, dan satu lembar sesudah shalat. Cobalah hadirin, ajaib hidup ini bila kita semakin banyak sibuk dengan Qur’an
  3. Shalawat. “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali” (H.R. Al Baihaqi). Jadi, Allah akan membalas shalawat dengan kebaikan untuk kita. Lebih khusyuk jika sambil shalawat, mengenang perjuangan Rasulullah SAW.
  4. Istighfar. Perbanyak istighfar. Selain berharap terhapusnya dosa, ada 3 keutamaan istighfar: “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad) Rasulullah yang bebas dari dosa saja 100x istighfar setiap hari. Bagaimana dengan kita?
  5. Shadaqah. Siapkan di saku ini siap sedekah. Lebih afdhol lagi, guru dari Aa Gym berpesan agar sedekah yang siap makan (misal beras), karena besar sekali pahala memberi makan.

kajian tauhid
Kajian Dzuhur di Masjid DT Jakarta

Lebih lanjut, Aa Gym menyampaikan tentang Sabar dan Shalat

“Hai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan Salat; sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. 2 / Al Baqarah : 154).

Sabar bukan berarti pasif, tetapi aktif mengendalikan diri tetap berada di jalan yang Allah sukai. Pikiran terkendali, perkataan dan perbuatan terkendali.

Setelah itu baru kita kerahkan diri untuk meminta tolong pada Allah dengan shalat. Jika shalatnya baik, maka segala aspek kehidupan akan menjadi lebih baik. Sebelum meminta tolong ke orang, sebelum bicara dengan orang, minta tolonglah ke Allah (sholat). Nanti Allah pertemukan kita dengan orang yang tepat yang bisa menjadi solusi. Karena Dia yang Maha Tahu setiap manusia.

Jangan takut dengan persoalan hidup, tapi takutlah tidak ditolong Allah. Jika Allah mempermudah urusan, maka urusan akan mudah, dan sebaliknya.

(Humas Daarut Tauhiid Jakarta)

Bukti Cinta

Bukti CInta kepada Allah

Sahabat yang baik,
Apa yang membedakan pecinta sejati dengan pecinta palsu? Pengorbanan-lah pembedanya. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang ia berikan untuk sesuatu yang dicintainya. Sejarah orang-orang mulia menunjukkan bahwa cinta dan pe-ngorbanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dan kita pun terlahir kedunia karena pengorbanan hidup dan mati ibunda kita mengandung dalam lemah dan berat serta melahirkan dalam sakit dan kepayahan.

Sahabat yang penuh cinta,
Bercerminlah dari sahabat Abu Bakar Shiddiq. Pembelaannya terhadap Rasulullah saw demikian hebatnya. Kecintaannya sungguh besar. Saat situasi genting menjelang hijrah Rasulullah saw. ke Madinah, Abu Bakar -semoga Allah meridhoinya- tampil dengan segala pe-ngorbanan. Ia membersamai Rasulullah saw dengan segala risiko, menjadi tameng Rasulullah saw. dari segala kemungkinan buruk yang direncanakan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ia korbankan pula seluruh hartanya. Bahkan ia kerahkan anggota keluarganya untuk menolong dakwah Islam. Apa yang beliau lakukan itu sesuai dengan ungkapannya sendiri, “Hal yanqushud-dinu wa ana hayyun” (Tidak boleh Islam berkurang sementara saya masih hidup).

Sahabat,
Seorang da’i bernama Hasan Al Banna menyeru jalan kebangkitan dan salah satu pilarnya adalah pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran.

Mari belajar kepada seorang sahabat bernama Basyir Bin Al-Khashashiyyah. Ia datang kepada Rasulullah saw. untuk berbai’at atas Islam. Rasulullah saw. mensyaratkan kepadanya untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah abdi dan utusan-Nya; melaksanakan shalat lima waktu; berpuasa di bulan Ramadhan; mengeluarkan zakat; menunaikan haji; dan berjihad di jalan Allah. Mendengar itu semua, Basyir menyahut, “Ya Rasulullah, yang dua hal (terakhir itu), saya tidak mampu. Tentang zakat, saya tidak punya harta selain sepuluh ekor unta. Dan itu adalah andalan dan kendaraan keluarga saya. Sedangkan tentang jihad, saya dengar orang-orang mengatakan bahwa siapa yang lari dari medan jihad maka ia akan mendapatkan murka Allah. Dan saya memang orang yang penakut.” Mendengar itu Rasulullah menarik kembali tangannya kemudian menggerak-gerakkannya seraya mengatakan, “Wahai Basyir, tanpa shadaqah dan tanpa jihad? Lalu dengan apa kamu akan masuk surga?” Basyir akhirnya menjawab, “Jika demikian, saya berbai’at untuk semua itu.” (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al- Baihaqi, dan lain-lain)

Di momen yang lain, saat kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Quraisy dalam perang Badar, Rasulullah saw. mengatakan kepada para sahabat, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Demi mendengar kalimat itu, ‘Umair bergumam, “Surga seluas langit dan bumi? Wah, wah!” Mendengar itu Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang membuatmu mengucapkan kata itu?” ‘Umair menjawab, “Tidak apa-apa, saya cuma ingin termasuk penghuninya.” Rasulullah saw. menjawab, “Ya kamu termasuk penghuninya.” ‘Umair yang tengah memakan kurma pun lantas berkata, “Sungguh terlalu lama bila saya harus menunggu habisnya kurma ini.” Maka ia pun meletakkan kurma-kurma di tangannya lalu menyeruak masuk ke tengah barisan musuh untuk bertarung hingga mati syahid. (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

Sahabat,
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) bagaikan pohon yang baik. Akarnya menghujam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Tuhannya.” (Q.S. Ibrahim: 25)
Pengorbanan generasi-generasi terdahulu telah ditorehkan. Atas izin Allah, dengan pengorbanan mereka, keindahan Islam menyebar ke tengah manusia, menyebarkan cahaya dan membuat berbondong-bondong manusia mendapatkan cahaya hidayah.
Lalu, apa pengorbanan kita?

Ust. H.M. Hari Sanusi

Abu Lahab-pun mendapat Keringanan

Abu Lahab pun mendapat keringanan api neraka

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Semoga Allah Yang Maha Baik, menggolongkan kita sebagai orang-orang ahli syukur, yang istiqomah di jalan-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW kekasih Allah, suri teladan bagi seluruh manusia.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan sebuah kisah. Ketika itu hari Senin, seorang hamba sahaya bernama Tsuwaibah datang kepada tuannya yaitu Abu Lahab. Tsuwaibah datang untuk mengabarkan perihal kelahiran seorang bayi laki-laki bernama Muhammad yang tidak lain adalah keponakan Abu Lahab. Mendengar berita itu betapa riang gembiranya Abu Lahab sampai-sampai di hadapan orang banyak ia menyatakan kemerdekaan Tsuwaibah.

Seiring bergulirnya waktu, Muhammad kecil tumbuh menjadi seorang Nabi dan Rasul. Kemudian seperti yang telah kita ketahui, Abu Lahab menjadi penentang yang sangat keras dan suka menyakiti beliau. Oleh sebab itulah Allah mencelanya dengan celaan yang sangat keras yang akan berbuah kehinaan baginya hingga hari kiamat tiba. Hal ini terabadikan dalam Q.S. Al Lahab.

“Celakalah kedua tangan Abu Lahab, dan binasalah ia. Tidak bisa mencukupinya harta maupun apa yang diusahakan olehnya. Kelak dia akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala. Demikian juga istrinya sang membawa kayu bakar.” (Q.S. Al Lahab:1-4)




Abu Lahab diringankan siksa kuburnya tersebab bahagia atas kelahiran Nabi SAW dulu

Sepeninggal Abu Lahab, salah satu sahabat nabi SAW yaitu Abas bin Abdil Muthalib bermimpi berjumpa dengan Abu Lahab yang sudah wafat. Dalam mimpinya itu Abu Lahab menjelaskan bahwa dirinya disiksa terus-menerus di dalam kubur, namun setiap hari Senin siksanya diri-ngankan karena dahulu ketika ia masih hidup di dunia ia pernah memerdekakan seorang hamba sahaya disebabkan rasa gembira atas kelahiran nabi Muhammad.


Sepeninggal Abu Lahab, salah satu sahabat Nabi SAW yaitu Abas bin Abdil Mutholib bermimpi berjumpa dengan Abu Lahab yang sudah wafat. Dalam mimpinya itu Abu Lahab menjelaskan bahwa dirinya disiksa terus-menerus di dalam kubur, namun setiap hari Senin siksanya diringankan karena dahulu ketika ia masih hidup di dunia, ia pernah memerdekakan seorang hamba sahaya disebabkan rasa gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Masya Allah!
Jika Abu Lahab saja yang sudah jelas-jelas dimurkai oleh Allah SWT saja sampai mendapatkan keringanan karena rasa gembiranya atas kelahiran Nabi Muhammad, maka apalagi kita yang insya Allah bertauhiid dengan bersih dan lurus.

Sudah sepatutnya kita pun bergembira, berbahagia atas kehadiran Nabi Muhammad SAW, sosok yang telah menjadi jalan hidayah untuk kita sehingga kita bertemu dengan nikmatnya iman dan Islam. Sudah seharusnya kita mencintai Rasulullah minimalnya dengan menjadikan hari kelahirannya sebagai momentum untuk membaca kembali sejarah hidup beliau SAW.

Yang utama adalah kita mencintai beliau dengan bersungguh-sungguh beriman kepada Allah, mengikuti petunjuknya, menjalankan sunnah- sunnahnya, bershalawat kepadanya, meneladani kemuliaan akhlaknya. Semoga di akhirat kelak kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat beliau dan bisa berkumpul bersamanya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Dia yang Menunggu di Telaga Al Kautsar

Telaga Al Kautsar
Ilustrasi telaga Al Kautsar
Ilustrasi telaga Al Kautsar

Dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat”, jawab beliau. Lalu beliau membaca,

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).

Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Lalu ada seorang hamba dari umatku terhalang darinya, aku berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya dia termasuk umatku’. Allah berfirman, ‘Kamu tidak tahu sesuatu yang terjadi setelah (meninggalmu)’” (HR. Muslim)

Di telaga itu Rasulullah menanti umatnya yang dicintai. Beliau  menyambut mereka yang kehausan. “Aku menunggu kalian di al Haudh, telaga. Siapa yang mendatanginya, dia akan minum airnya. Dan siapa yang minum airnya, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari)
“Telagaku panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Sudutnya pojoknya sama. Airnya lebih putih dari pada susu, baunya lebih wangi dari pada misk. Gayungnya seperti bintang di langit. Siapa yang minum sekali, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Rasulullah Menyambut Umatnya

Di tepi telaga yang luas itu, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman, beliau berdiri menantikan umatnya. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Beliau menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap yang hadir di sana dengan sepenuh dirinya. Beliau memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berseri dan senyumnya merekah bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Beliau bersabda, ”Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat sebelumnya. Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan dan betis yang berkilauan karena bekas air wudhu,” (HR. Muslim)

Di telaga itu kelak, Rasulullah setia menanti umatnya dengan cinta dan kasih sayangnya. Tiada yang patut dilakukan, kecuali senantiasa memohon, agar bila tiba saatnya nanti, Allah memudahkan kita untuk mendatangi al Haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bisa menikmati airnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad hingga Yaumat Tanaad (hari kiamat saat manusia diseru di padang Mahsyar).

Ya Allah, kami bersaksi Engkaulah Tuhan Kami

Allah, kami bersaksi Engkaulah Tuhan kami

Sebelum manusia lahir ke muka bumi ini, Allah SWT menanyai ruh manusia tentang kesiapan  mereka mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya di alam rahim. Ruh – ruh manusia menjawab bahwa mereka bersaksi tiada Tuhan  selain Allah yang berhak manusia sembah . Tentunya tidak ada manusia yang mengingat akan hal itu. Meskipun demikian, Allah telah mengabadikan perjanjian yang manusia lakukan kepadaNya dalam  Al Quran surat Al Araf sebagai berikut.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap (ketauhidan) ini” (QS. Al-A’raf: 172)

Saat lahir ke dunia ini, bayi dalam  keadalaan fitrah (suci). Fitrah adalah  jiwa yang suci yang menjelma dalam tauhid, ketundukan dan penghambaan, serta memelihara kesucian diri sebagai hamba Allah SWT.  Fitrah merupakan ketentuan Allah (Sunnatullah) yang melekat pada diri manusia. Sunatullah yang yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian dan bisa dijadikan potensi dasar. Potensi dasar yang menggerakkan manusia menuju ke arah tujuan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

 “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah fitrah Allah. Yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya( Q.S Ar-Rum : 30)

Fitrah manusia  bukanlah satu-satunya potensi yang dimiliki, karena manusia juga memiliki potensi nafsu yang memiliki kecenderungan pada kejahatan. Untuk itu manusia perlu menjaga fitrahnya agar tidak terpedaya hawa nafsu.

Seorang muslim yang memelihara fitrahnya maka  akan selalu mengokohkan ketauhidah. Tidak menjadikan segala sesuatu selain Allah sebagai sumber pengharapan. ia pun akan memelihara komitmennya dalam beribadah, diantaranya :

1.      memelihara shalat yang diwajibkan kepadanya dan melengkapinya dengan shalat-shalat sunnah

2.       menjalankan  puasa wajib, ia juga melengkapinya dengan puasa-puasa sunnah.

3.      Mengeluarkan zakat dan menyempurnakannya dengan infak dan sedekah.

4.      Melaksanakan haji ke Baitullah dan menyempurnakannya dengan umrah.

Dengan  terus mengokohkan ketauhidan,  istiqomah dalam beribadah dan menegakkannya secara sempurna, seorang muslim In Sya Allah  akan terpelihara fitrah kesuciannya.

Doa agar tergolong orang-orang yang beriman

Pengingat Hari Ini Doa Nabi Ibrahim
Do’a Nabi Ibrahim a.s

Do’a ini diambil dari rangkaian ayat kisah Nabiyullah Ibrahim a.s tentang ketauhidan yang terabadikan dalam Q.S Asy Syu’ara [26], yaitu dimulai dari ayat ke 69 s.d 103
.
Bermula dari Beliau a.s menanyakan kepada ayahnya, “Apakah yang kamu sembah?” (Q.S 26:70), dan mereka menjawab “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya” (Q.S 26:71)
.
Nabiyullah Ibrahim-pun melemparkan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai sesembahan mereka tersebut: Apakah berhala-berhala itu bisa mendengar do’a (72), dapatkah mereka memberi manfaat ataupun mudharat? (73) dan beliau mendapat jawaban bahwa menyembah berhala hanya karena mengikuti nenek moyang saja (74)
.
Nabi Ibrahim a.s kemudian menyatakan bahwa berhala-berhala itu adalah musuh beliau (77), dan meminta ayahnya dan kaumnya untuk memperhatikan / membandingkan berhala-berhala tersebut dengan Rabbnya, Allah SWT
.
Dialah Allah, yang menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku (78)
Dialah Allah, yang memberi makan dan minum kepadaku (79)
dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku (80)
dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81)
dan Dialah Allah, Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat (82)
.
Seusai itu, barulah Nabi Ibrahim a.s berdo’a, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh (83), dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian(84),
.
Do’a beliau berlanjut, “dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh keni’matan (85), dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat (86)”
.
Selengkapnya silakan cek di Qur’an masing-masing. Semoga Allah SWT senantiasa mengkaruniakan nikmat iman dan islam hingga akhir hayat kita. Aamiin Yaa Rabb.
.
Like, comment, & share jika bermanfaat.
– @daaruttauhiid.jkt

Hati-hati Ghibah Online

ghibah online

Dalam sebuah mejelisnya bersama Abu Dzar, Rasulullah pernah memberi nasehat berikut :
“Wahai Abu Dzar, hindari dari perlakuan GHIBAH (menggunjing) karena dosanya lebih berat dari pada zina”.

“Ya Rasulullah apa itu ghibah?”

“Ghibah yaitu menyebut-nyebut saudaramu dengan yang tidak disukai.”

“Ya Rasulullah walaupun sesuatu itu ada pada dirinya”

“Ya apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun bila kau sebut aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memFITNAHnya.

——-<<<<<<<<
Ghibah (menggunjing) termasuk dosa besar, namun sedikit yang mau menyadari hal ini.
—————————————
“Ghibah itu Apa?” Sekarang kita akan melihat dalil yang menunjukkan bahwa ghibah tergolong dosa dan perbuatan haram, bahkan termasuk dosa besar.

Kata seorang ulama tafsir, Masruq, “Ghibah adalah jika engkau membicarakan sesuatu yang jelek pada seseorang. Itu disebut mengghibah atau menggunjingnya. Jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak benar ada padanya, maka itu berarti menfitnah (menuduh tanpa bukti).” Demikian pula dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 167).

Ghibah yang terjadi bisa cuma sekedar dengan isyarat. Ada seorang wanita yang menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tatkala wanita itu hendak keluar, ‘Aisyah berisyarat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa wanita tersebut pendek. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

قَدِ اغْتَبْتِيهَا

“Engkau telah mengghibahnya.” (HR. Ahmad 6: 136. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Dosa ghibah sudah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Allah Ta’ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak mengetahui siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj.” (Fathul Qadir, 5: 87)

Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar setiap muslim menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.” (Idem)

Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Allah mengharamkan mengghibahi seseorang ketika hidup sebagaimana Allah mengharamkan memakan daging saudaramu ketika ia telah mati.” (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 168).

Qatadah rahimahullah berkata, “Sebagaimana engkau tidak suka jika mendapati saudarimu dalam keadaan mayit penuh ulat. Engkau tidak suka untuk memakan bangkai semacam itu. Maka sudah sepantasnya engkau tidak mengghibahinya ketika ia masih dalam keadaan hidup.” (Lihat Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 169).

Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Taubat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertaubat. Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.

Dalam Kunuz Riyadhis Sholihin (18: 164) disebutkan, “Para ulama sepakat akan haramnya ghibah dan ghibah termasuk dosa besar.”
————————–————————
Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa dalil yang melarang kita dari perbuatan ghibah yang kami ringkaskan dari kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An Nawawi rahimahullah ta’ala.

1. Firman Allah ta’ala:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Tawwab (Maha Penerima taubat) lagi Rahim (Maha Menyampaikan rahmat).” [QS Al Hujurat: 12]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “Di dalamnya terdapat larangan dari perbuatan ghibah.”

As Sa’di rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “(Allah) menyerupakan memakan daging (saudara)nya yang telah mati yang sangat dibenci oleh diri dengan perbuatan ghibah terhadapnya. Maka sebagaimana kalian membenci untuk memakan dagingnya, khususnya ketika dia telah mati tidak bernyawa, maka begitupula hendaknya kalian membenci untuk menggibahnya dan memakan dagingnya ketika dia hidup.”

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: ذكرك أخاك بما يكره. قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال: إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi berkata: “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika padanya ada apa saya bicarakan?” Beliau menjawab: “Jika ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau berbuat buhtan terhadapnya.” [HR Muslim (2589)]

Hadits di atas menerangkan tentang definisi ghibah. Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau aib seorang muslim dengan tidak secara langsung di hadapannya. Sedangkan buhtan adalah berkata dusta terhadap seseorang di hadapannya mengenai sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.

3. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata:

قلت للنبي صلى الله عليه وسلم: حسبك من صفية كذا وكذا – تعني قصيرة. فقال: لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته! قالت: وحكيت له إنسانا، قال: ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا

“Saya berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Cukuplah bagi anda dari Shafiyyah begini dan begini -maksudnya dia itu bertubuh pendek.” Beliau berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan kalimat yang kalau dicampur dengan air laut niscaya dapat merubah (rasa dan bau)nya!” Aisyah berkata: “Saya juga menceritakan tentang seseorang kepada beliau. Lalu beliau menjawab: “Saya tidak suka menceritakan seseorang sedangkan pada diriku terdapat (kekurangan) ini dan ini.” [HR Abu Daud (4875) dan At Tirmidzi (2502)]

Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini merupakan larangan yang paling tegas dari perbuatan ghibah.”

4. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم. كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Cukuplah kejelekan bagi seseorang dengan meremehkan saudara muslimnya. Setiap muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lain.” [HR Muslim (2564)]

Hadits di atas menerangkan larangan untuk menumpahkan darah, mengambil harta, dan menodai kehormatan sesama muslim. Dan perbuatan ghibah adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap kehormatan seorang muslim yang tidak dibenarkan di dalam Islam.

5. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لما عرج بي، مررت بقوم لهم أظفار من نحاس يخمشون وجوههم وصدورهم. فقلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم

“Ketika saya dimi’rajkan, saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka. Saya bertanya: “Siapakah mereka ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan melecehkan kehormatan mereka.” [HR Abu Daud (4878). Hadits shahih.]

Hadits ini menerangkan bentuk hukuman yang dialami oleh orang-orang yang gemar membicarakan kejelekan dan menjatuhkan kehormatan orang lain.

Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur`an dan hadits yang melarang kita dari perbuatan ghibah. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita semua untuk dapat meninggalkannya.
—————-

Wallahu a’lam. Moga Allah menjauhkan dari setiap dosa besar termasuk pula perbuatan ghibah. Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini supaya senantiasa berkata yang baik.