Di antara beberapa pembimbing jamaah haji khusus MQ Travel 1434 Hijriah, ada nama Ust. Mulyadi Al Fadhil yang secara konsisten mengemban amanah spesial ini sejak 2009. Pertama kali beliau mengunjungi Tanah Suci pada 2001 dan langsung diamanahi sebagai pembimbing haji regular hingga 2006. Lebih dari 10 tahun hampir rutin ke tempat lahir dan dakwah Rasulullah SAW tersebut, kesan yang didapatkan Ust. Mulyadi adalah suasana yang selalu khitmad dan luar biasa. “Secara pribadi setiap tahun jamuan Allah ini luar biasa. Bisa merasakan bagaimana keagunagan Allah, yang diundang adalah tamu Allah. Sekalipun jamaah haji khusus, jika Allah tidak mengizinkan, tidak akan bisa.

Tinggal bagaimana bisa mengikuti peraturan haji secara sunnah,” ungkap Ustadz yang juga menjabat sebagai kepala SMK Daarut Tauhiid Bandung ini.

Menurut Ust. Mulyadi, hakikat utama ibadah yang termasuk dalam Rukun Islam ke lima ini adalah manasik dan segi esensi yang perlu didalami oleh jamaah. Maka dari itu, dalam manasik yang diadakan selama empat hari di Pesnatren DT Bandung, MQ Travel berusaha menggali hikmah dan makna dari setiap aktivitas haji, bagaimana bisa menemukan esensi dan pelajaran dari ibadah yang dijalani.”

MQ Travel ingin menguatkan keyakinan yang bisa didapatkan jamaah dengan ibadah haji, tepatnya saat mereka nanti sudah berada di Tanah Suci: tempat ayat-ayat Al Quran diturunkan, tempat Rasul berdakwah, tempat yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS lalu merasakan sendiri bagaimana kebesaran Allah di sana,” paparnya.

Bersyukur dan Kembali ke Amalan Masing-Masing

Ada satu pengalaman yang tidak terlupakan oleh Ust. Mulyadi yaitu waktu pertama kali beliau menjalani ibadah haji. “Saat ini saya dan rombongan sedang tanazul, bertemu dengan jamah asal Suria yang sama sekali tidak punya ongkos, tidak punya penginapan dan makan pun seadanya. Kekuatan yang dia dapatkan saat itu hanyalah niat ibadah untuk Allah semata. Dia seorang petani kapas di negaranya. Dari beliau, saya memahami bagaimana kesungguhan melaksanakan haji. Maka dari itulah, para jamaah haji plus juga harus bersyukur dengan segala fasilitas yang didapatkan dibandingkan dengan jamaah asal berbagai negara lainnya dengan segala keterbatasan mereka,” kata salah satu Assatidz Daarut Tauhiid ini.

Dari jamaah yang dibimbing pun, beliau berbagi cerita. Ada yang sudah sepuh dan sakit-sakitan di Tanah Air, namun saat di sana justru kuat dan sebaliknya, ada yang masih muda dan sehat tapi justru sakit saat berinadah. “Saya terkesan dengan salah satu jamaah haji tahun lalu yang shaum Daudnya tidak pernah lepas. Orgnya sangat sederhana, tapi istiqomah dalam ibadah. Jadi semuanya memang kembali ke amalan masing-masing dari ilmu sudah diberikan lewat manasik.”

Ciri-Ciri Haji Mabrur

Berikut ciri-ciri haji mabrur menurut Ust. Mulyadi:

  1. Semua aktivitas haji dilaksanakan sesuai dengan sunnah Rasul, mulai dari niat dan tahalul
  2. Haji mabrur tidak dilihat dari saat berangkat tapi justru setelah pulang: bagaimana ibadah lebih baik, sedekah dari yang tadinya sedikit jadi dermawan, dan sebagainya.
  3. “Intinya ada perubahan dan peningkatan dari sisi kedekatan dengan Allah,” kata Ust. Mulyadi

Empat Persiapan Menuju Haji Menurut Ust. Mulyadi

  • Persiapan ilmu. Jika tidak sesuai ilmu, ibadah akan ditolak.
  • “Walaupun saat ini belum punya uang untuk haji, tambah saha ilmu dari sekarang. Jadi kalau nanti takdirnya ada, sudah siap berangkat kapanpun.”
  • Persiapan Niat. Tidak cukup dlm hati tapi juga dilakukan dengan perbuatan, nabung misalnya. Agar memperkuat niat
  • Persiapan Fisik. Diupayakan bisa berangkat di usia yang tidak terlalu tua agar bisa melaksanakan ibadah dengan maksimal karena haji juga merupakan ibadah fisik.
  • Persiapan hati (ruhiyah). Khususnya bagi jamaah yang sudha mendapat nomor porsi dan tidak lama lagi akan berangkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *