Kenapa kita tidak mempunyai ukhuwah, karena kita tidak mempunyai wadah. Kenapa kita tidak punya wadah, karena kita tidak bersatu. Kenapa kita tidak punya persatuan, karena kita mempunyai krisis ukhuwah, karena masing-masing bangga dengan caranya masing-masing. Kenapa itu bisa terjadi, karena mengalami krisis keimanan yang luar biasa. Makanya kalau ingin mengubah, ubah ulamanya dulu.

Dalam pemilihan presiden, kita bukan memilih pemimpin agama, tapi memilih Manajer Negara. Seperti halnya kita memilih pengemudi untuk mengemudikan mobil kita. Supir bukanlah imam kita, tapi walaupun begitu kita juga ingin memilih supir yang terbaik dan selalu ingin yang maksimal. Begitu juga dengan pemimpin. Semua kriteria yang sempurna dari seorang pemimpin ada pada diri Rasulullah saw. Semua sifat Rasul adalah sebaik-baiknya kriteria. Tetapi untuk mendapatkan pemimpin yang mempunyai sifat seperti Rasulullah saw sangatlah sulit. Jika dari calon-calon yang ada tidak bisa mendapat nilai 100 maka carilah yang mendekati 100. Carilah nilai tertinggi dari calon-calon yang ada. Dan penilaian tersebut disandarkan pada kesamaan sifat dengan Rasulullah saw. Bagaimana kalian begitu pemimpin kalian.

Kalau orang yang sholeh tentu imam yang sholeh yang terpilih. Kalau merah semua, ya pemimpinnya merah, kalau kuning ya kuning, kalau biru ya biru, kalau putih ya putih, karena masyarakat kita warna-warni, maka pemimpinnya pun begitu. Dan karena ini semua ikhwah fillah harus bersifat realistis tapi optimis, artinya terus berjalan prosesi tawasoubil haq watawasoubis shobr (saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran) sehingga kedepannya lahir yang waj’alna lil muttaqiina imama (pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa). Alhamdulillah dari periode ke periode, dari orde ke orde, kelihatan makin terjadi perbaikan-perbaikan.

Lalu mengapa para ‘alim ulama tidak ingin mengajukan diri sebagai pemimpin? Karena ‘alim ulamanya belum bisa menjadi pemimpin. Memimpin secara keseluruhan berarti memimpin dirinya untuk rela memimpin di luar dirinya, dan itu adalah suka dalam ketidaksukaan. Kita masih belum bisa menerima perbedaan. Karena di Indonesia fanatik terhadap suatu organisasi agama sangat besar. Ketika ada seseorang ‘alim ulama dari sebuah organisasi Islam mengajukan diri, maka organisasi Islam yang lain merasa keberatan, begitu pula sebaiknya.

Kita masih dalam tahap pemahaman agama. Kalau sudah beda faham, menjadi lawan, kalau berbeda mazhab, jadi lawan, karena dianggap membahayakan buat dirinya. Padahal perbedaan faham itu bisa menjadi indah kalau berangkat dari kekuatan iman. Saat berbeda paham dia mempunyai iman, maka dia sayangi saudaranya karena imannya yang membuat dia bersaudara. Nah, inilah yang menjadi tugas besar para ‘alim ulama dalam menanamkan keimanan yang sesungguhnya lewat dakwah. Walaupun berbeda cara dakwahnya. Ada majelis dzikir Azzikra, Manajemen Qolbu Daarut Tauhiid Jakarta dan masih banyak lagi. Semua itu menjadi variasi yang asik dan indah dalam strategi dakwah. Dan keindahan ini dengan keimanan “ke-aku-annya” menjadi “ke-kami-an”. Untuk menjadi “ke-kami-an” dibutuhkan ulama pemersatu.

Keberagaman yang menciptakan perbedaan semakin lama semakin dipahami menjadi sebuah keindahan. Karena ada pemahaman, kesadaran bersama, kalau tidak seperti itu tidak akan bangkit, tidak akan bisa bersama, tidak akan bisa jaya. Alhamdulillah kesadaran ini sudah mulai bangkit. Tapi ini akan memakan waktu lagi.

Kenapa kita tidak mempunyai ukhuwah? Karena kita tidak mempunyai wadah. Kenapa kita tidak punya wadah? Karena kita tidak bersatu. Kenapa kita tidak punya persatuan? Karena kita mempunyai krisis ukhuwah. Masing-masing bangga dengan caranya. Kenapa itu bisa terjadi? Karena kita mengalami krisis keimanan yang luar biasa. Makanya kalau ingin mengubah, ubah ulamanya dulu. Dari cara berfikirnya. Karena itu ulama harus mengedepankan dakwahnya, ukhuwahnya. Kedepankan dakwahnya maka dia akan berukhuwah. Karena di sana ada keberkahan-keberkahan. Kalau kita semua-para ulama-mengedepankan dakwah, pasti semua bersaudara. Iyya kana’ budu (kepada-Mulah kami menyembah), kalau sudah iyya ka, ka disini artinya ke kami-an bukan ke-aku-annya.

Sedang ulama itu ada dua, Ulama Da’i, dan Ulama Mubaligh. Ulama Da’i itu yang menyampaikan. Ada konsekuensi dan konsistensi dibalik sikap yang disampaikan oleh seorang da’i. Kalau mubaligh siapa pun bisa, dia berdakwah tapi apa yang diungkapkan belum tentu ada pada dirinya. Dia ibarat lilin. Dia terangi yang lain, dirinya sendiri terbakar. Nah, kita banyak mengalami yang di sini. Padahal seorang ulama itu harus ‘abid (ahli ibadah), istiqomah, dan dia siap menjadi generasi rabbani, dia siap lagi menjadi muttarobbiyah, duduk ngaji lagi, belajar lagi, jangan berbeda saat dia naik. Naik sedikit dibilang naik daun. GR (gede rasa) dengan kondisinya, belagu dengan keadaannya, padahal dia meninggalkan point yang kuat, yaitu silaturahmi. Dari tahun 2000 di Istiqlal saya sering melihat ulama, dari Ayahanda Abu Bakar Ba’asyir, Ja’far Umar Thalib, Quraish Shihab, Ali Yafie, Miftah Faridl, Habib Ali, kemudian Amien Rais, dan lain-lain. Saat ini sudah banyak ulama yang berjatuhan karena tidak kuat menghadapi tantangan. Misalnya ketika sudah terkenal timbullah godaan. Dan akhirnya banyak yang jatuh. Misalnya mulai bertingkah kepada umat, seperti memasang tarif, atau sudah mulai memilih siapa yang mengundang. Maka terjadilah musibah besar. Yang didakwahkan bukan lagi dari hati. Padahal yang disentuh itu jiwa agamanya setiap hati.

Dakwah itu marifat (mengenal) tapi bukan marifat dalam pengertian tasawuf. Jadi dakwah itu bukan hanya muktaribin. Yang memindahkan manusia dari maksiat jadi taubat. Hal itu belum selesai dan ini ditarik lagi pada fikroh (pemikiran), dimulai dari pemahaman, kesadaran, dan keinsyafan. Dari sini sudah mulai masuk lagi pada taraf ketiga harokah (gerakan). Nah, harokah itu menuju persatuan, ada kebersamaan di situ di mana yang tadinya pribadi bermaksiat, bertaubat lalu mengajak yang bermaksiat untuk bertaubat lagi. Terjadilah proses yang waj’alna lilmuttaqina imama, ini makan waktu.

Saya optimis ke depan akan lahir ulama yang sidiq, fathonah, tabligh dan amanah. Karena agama ini bukan milik siapa-siapa tapi milik Allah. Pemimpin itu akan hadir di sana karena proses itu akan terjadi di sana. Pemimpin dari orde ke orde kelihatan semakin baik, dakwahnya semakin baik, retorika-retorika lebih ke amaliyah dan sentuhan yang nyata yang membawa perubahan sehingga seorang murid pun merasa ini dakwah. Dakwah itu kan bila orang yang mendengar akan takut kepada Allah, akan semakin cinta kepada Allah, akan hijrah, bahkan bisa menangis tersungkur. Itu namanya dakwah.

Nah dakwah yang seperti ini yang disenangi oleh masyarakat. Masyarakat sudah ingin berubah, alam juga berdakwah, Situ Gintung berdakwah. Dulu dakwah besar di Aceh. Allah berdakwah, malaikat berdakwah semua pohon berdakwah.

*Wawancara Ustadz M. Arifin Ilham dengan Tim Majalah Shaff Daarut Tauhiid Jakarta

<Ustadz KH. M. Arifin Ilham>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *