“Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At Taubah 105)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan bahwa setiap kegiatan yang kita lakukan ternyata tidak hanya dilihat oleh Allah SWT, tapi juga oleh Rasulullah (melalui izin Allah) dari dalam kuburnya saat ini. selain itu orang-orang beriman pun dengan izin Allah juga bisa mengetahuinya, serta orang tua kita yang sudah meninggal dari dalam kuburnya.

Oleh karena itu, kalau kita lagi malas-malasan beramal atau ada keinginan untuk berbuat jahat, ingatlah kalau Rasul lagi melihat kita. Bapak-Ibu kita yang sudah wafat juga melihat ini dari dalam kuburnya. Alangkah kecewanya mereka kalau kalau kita sampai melakukan hal itu. Lalu saat di Padang Masyhar nanti, kita akan diperlihatkan semua perbuatan-perbuatan yang sudah kita lakukan, dari lahir sampai meninggal, baik perbuatan yang kecil atau yang besar.

Peringkat Hamba yang Dicintai Allah
Rasulallah SAW bersabda, “Innallaha yuhibbul muhtarif  (Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan)”.

Saat kita sedang beramal shaleh seperti zikir, membaca Al Quran atau sholat, amalan ini memang diridhoi Allah, tapi mendapat peringkat yang paling rendah. Di atas itu ada Muta’alim, yaitu orang yang menuntut ilmu. Keluar rumah untuk nuntut ilmu selama sejam lebih baik daripada zikir empat jam. Dan itu diridhoi Allah, akan dibukakan jalan menuju pintu surga. Kalaupun nanti dia meninggal, hitungannya mati syahid.

Peringkat ketiga adalah Mu’alim, yaitu pengajar (guru). Dengan mengajar, dia bisa dapat ilmu dan murid atau orang yang kmendengarkannya nanti bisa mengajarkan/mengamalkan ilmunya. Peringkat keempat adalah Mutharif, yaitu orang yang bekerja dengan cara yang halal. Tetes keringatnya dan keluh kesahnya mendapat pahala, keletihannya bisa menghapuskan dosa. Bahkan ketika dia tidur, badannya yang pegal-pegal bisa menghapuskan dosa. Jadi ada dosa yang tidak bisa dihapus dengan puasa, sholat dan haji, tapi bisa terhapus dengan keletihan mencari nafkah.

Ada sebagian dosa yang tidak dihapuskan kecuali dengan rasa susah payah mencari rizki” (HR. Thabrani)

“Barangsiapa bersusah payah mencari rezeki untuk keluarga dan dirinya, maka orang tersebut serupa dengan mujahid fi’sabilillah.” (HR Imam Ahmad)

Tapi ada yang lebih tinggi lagi dari mutharif, yaitu Amir (Pemimpin atau Pejabat), jabatannya lebih tinggi dari ulama (guru/pengajar), karyawan atau penuntut ilmu. Sebab, ulama, karyawan atau penuntut ilmu tidak bisa bekerja dengan baik jika pemimpinnya tidak amanah. Kedudukannya paling tinggi dalam Islam. Kalau mereka bisa membina rakyatnya dengan baik, pahalanya banyak. Tapi kalau pemimpinnya jahat, maka seluruh dosa rakyatnya bisa dipikul oleh dia. Dan yang paling tinggi lagi adalah Muwahhid, yaitu orang yang mentauhidkan Allah, seperti para wali

Keutamaan Mencari Nafkah
Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada dosa yang tidak bisa dihapus dengan sholat atau dengan shodaqoh bahkan dengan haji, yaitu keletihan mencari nafkah dengan cara yang halal. Mengapa orang-orang bertahan dengan mencari nafkah yang halal? Karena mereka takut sama Allah. Nah, ketakutan sama Allah inilah yang pasti Allah bayar.

Kalau kita perhatikan di jalan, bagaimana susahnya orang-orang yang mencari nafkah dengan cara yang halal. Misalnya pemecah batu pakai martil, dengan cuaca yang panas, di pinggir jalan. Ada juga yang pergi ke sawah untuk mengumpulkan siput dan ketika dijual dapat sekitar Rp 3.000, hanya dapat  beberapa genggam beras. Kalau kita saja kasihan melihatnya, Allah pasti lebih kasihan. Padahal kalau misalnya mereka mau merampok kan bisa? Tapi mereka tidak melakukannya karena takutnya pada Allah SWT.

“Allah memberikan rejeki kepada hamba-Nya sesuai dengan kegiatan dan kemauan kerja keras serta ambisinya” (HR. Aththusi).  Jadi kalau kita punya niat atau cita-cita yang besar ke depan, maka Allah akan berikan. Tapi kalau kita hanya pasrah, ya mungkin hanya segitu-segitu saja yang kita dapat. Kalau Allah bisa kasih kita kaya mengapa tidak? Supaya bisa kasih manfaat ke banyak orang. Tapi kaya memang tidak wajib. Makanya, bekerja saja, nanti Allah yang kasih.

Rasulullah SAW bersabda, “Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu.” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Kata “sesudah fardhu” di sini artinya amalan fardhu seperti shalat, puasa, zakat dan sebagainya. Fardhu itu artinya wajib tapi di waktu yang sudah ditentukan. Termasuk bekerja, sebenarnya waktunya adalah pada siang hari. Dalam QS Al Furqaan ayat 47: “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk, istirahat dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. Jadi jangan kerja siang-malam. Karena malam adalah waktunya istirahat.” Sesudah mencari rezeki dengan cara yang halal pun 2,5%-nya masih haram. Di situlah ada hak delapan golongan yang wajib menerima zakat: fakir, miskin, amil, muallaf, hamba sahaya, gharimin, fisabilillah, ibnu sabil.

Hadits lainnya: “Apabila dibukakan bagi seseorang pintu rezeki maka hendaklah dia melestarikannya. (HR. Al-Baihaqi)” Misalnya kita jualan tempe goreng, sudah dapat rejekinya dari situ. Maka sebisa mungkin tidak beralih atau mengganti dagangan ke singkong goreng. Karena nanti ada orang atau langganan kita yang terbiasa membeli tempe di kita akan kecewa dan berpindah ke tukang tempe yang lain. Orang yang seperti ini bisa bangkrut dan tidak maju. Istilahnya pada saat ini adalah brand image. Sebenarnya ilmu ini sudah diajarkan dari jaman Rasulullah SAW.
Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *