Surat ini diawali dengan sumpah, dan Allah SWT banyak melakukannya dalam Al Quran. Ketika ingin menekankan sesuatu, biasanya Allah mengawalinya dengan sumpah. Allah bersumpah dengan masa atau waktu.

Perlu dipahami pula bahwa Allah tidak akan bersumpah kecuali kalau itu adalah sesuatu hal yang penting di mata Allah, dan seharusnya juga penting dalam pandangan kita sebagai hamba-hamba Allah SWT.

Demi masa. Ada perbedaan pendapat di antara ulama tentang arti “masa” di sini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masa di situ adalah sebaik-baiknya masa yaitu masa Nabi Muhammad SAW, masa Sahabat-Sahabat Rasulullah, Tabi’in (masa hidup setelah Sahabat) dan Tabiut Tabi’in (masa hidup setelah Tabi’in). Pendapat kedua mengatakan, “masa” tersebut artinya masa kapanpun. Sebab masa adalah sesuatu yang orang tidak bisa main-main dengannya atau mengendalikannya. Masa di sini merupakan isyarat agar kita menggunakan waktu semaksimal mungkin karena itu adalah modal kita yang diberi Allah di atas bumi.
Inna dalam istilah tata bahasa, artinya adalah untuk menekankan sesuatu atau “sesungguhnya”. Maksudnya adalah pasti. Kata Lafii artinya benar-benar atau sungguh-sungguh. Mengapa ditekankan sekali bahwa manusia itu betul-betul rugi? Sebab Allah ingin menekankan bahwa kita sebagai ummat Rasul SAW agar jangan sampai masuk dalam kelompok tersebut.

Allah menggunkan kata “insan”, bukan “basyar” atau “naas” yang artinya juga “manusia”, karena insan di sini artinya menekankan dari sisi manusiawi atau batinnya atau hati. Manusia dikatakan berada dalam kerugian sebab di situ ada “perang” antara setan dan malaikat dan “perang” antara dia dan hawa nafsunya dan biasanya manusia sering kalah.  Nafsu yang pertama kali “ditunggangkan” kepada manusia adalah nafsu yang membawa pada keburukan atau kejahatan. Misalnya saat diajak sholat tahajjud rasanya begitu berat namun sangat segar saat menonton pertandingan sepak bola yang waktunya bersamaan dengan waktu tahajjud. Itulah nafsu yang masih tidak terdidik, selalu memerintahkan kepada keburukan atau sering juga disebut nafsu ammarah bissu’.

Jadi setiap kali kita kalah pada bisikan setan, kita jadi kelompok orang-orang yang rugi dan kebanyakan manusia seperti itu. Rugi yang dimaksud yaitu tidak sukses dalam pertarungan hidupnya, mengalahkan bisikan buruk yang ada pada dirinya.

Kisah Rabi’ah Al Adawiyah
Para pejuang, orang-orang hebat terhadap diri-diri mereka dan orang-orang sukses adalah orang yang berhasil mengalahkan bisikan-bisikan setan dan melawan hawa nafsunya. Salah satunya adalah Rabi’ah Al Adawiyah, tiap malam melaksanakan 1.000 rakaat dalam sholatnya. Beliau mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang bisa menyusahkan hatiku selama 40 tahun ini selain datangnya fajar karena berhenti waktu tahajjud saya kepada Allah.” Ketika ditanyakan tentang mujahadahnya (mengalahkan bisikan-bisikan buruk yang datang dlaam hati dengan berbagai macam cara yaitu dengan memberatkan amal ibadah dan tidak mengikuti bisikan-bisikan setan), beliau mengatakan, “20 tahun saya belajar qiamullail dan baru benar-benar bisa qiamullain 20 tahun berikutnya.”

Rabi’ah Al Adawiyah melakukan sholat malam di atap rumahnya (daerah Timur Tengah atap rumah masyarakat dibuat datar dan di pinggirnya tidak ada pembatas atau penghalangnya- red). Jadi tiap beliau mengantuk, sholatnya semakin ke pinggir atap. Itu dilakukan untuk mengalahkan hawa nafsunya sebab jika sedikit saja dia lengah, maka resikonya adalah jatuh ke bawah hingga akhirnya dia merasa nyaman beribadah sholat malam 20 tahun berikutnya. Di situlah ada usaha dan pertarungan yang luar biasa sampai beliau menjadi salah satu kekasih Allah SWT.

Saling Nasihat-Manasihati
Rasakanlah bahwa ibadah yang kita lakukan belum ada apa-apanya, masih jauh dari sempurna. Melakukan segala sesuatu karena Allah dan tidak menunda-nunda, mengerjakan amal kebaikan dan meninggalkan keburukan. Kebaikan di sini tidak melulu dalam ibadah antara kita dengan diri kita. Allah memberitahukan bahwa syarat kita keluar dari kerugian, adalah dengan menjadi hamba yang kebaikannya meluas. Tidak hanya memikirkan diri sendiri yang selamat, tapi juga memikirkan banyak orang dengan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran (urusan lahiriah, seperti mengajak puasa, mengaji atau tahajjud) dan kesabaran (urusan batiniah: sabar,ikhlas dan ridho): Watawaasaw  bil Haqqi wa tawaasaw bis sabr.

Nasihat-menasihati ini harus dilakukan dengan cara yang benar sebab jika caranya tidak benar akan percuma. Misalnya menegur di hadapan orang banyak, itu bisa jadi membuka aibnya. Salah satu dari bentuk saling menegur dalam kebaikan dan kesabaran adalah tidak berhenti untuk mendoakannya sambil terus menasehatinya. Begitupun jika kita ditegur, meskipun dengan berbahasa kasar, ketahuilah bahwa maksudnya baik, yaitu mengindarkan kita dari murkanya Allah berterima kasihlah.

Yuk, kita belajar untuk belajar menerima kritikan orang lain, untuk memberi masukan kepada orang lain, mendukung dan membantu orang lain dalam berbuat kebaikan dan menjadi orang yang siap menerima kritikan dan masukan dari orang lain (baik berupa amarah, teguran, omelan dan nasehat) dengan penuh rasa suka cita. Sehingga dengan cara itu kita keluar dari kerugian yang disebut Allah dalam QS Al Ashr. Semoga Allah SWT memberikan kita kemudahan untuk mengamalkannya, memberikan bantuan agar kita menjadikan kita hamba yang selalu berada dalam keridhoan Allah SWT. Aamiin…

Ustadzah Halimah Alaydrus

One thought on “Memahami QS Al ‘Ashr”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *