Orang yang paling beruntung adalah orang paling sulit lupa kepada Allah dan orang yang paling rugi adalah orang yang paling sulit ingat kepada Allah. Jika seseorang sudah diberi karunia rahmat yang besar dari Allah, maka dia akan senantiasa ingat pada Allah. Dan ingat kepada Allah ini akan mengubah perilakunya menjadi indah, sabar dan sangat syukur terhadap sekecil apapun nikmat serta kepahitan demi kepahitan yang menimpanya. Orang yang sudah yakin kepada Allah akan ringan untuk berbuat kebaikan dengan tulus. Makin susah mengingat Allah, semakin susah tenang, susah bahagia, susah sabar, susah syukur, susah sedekah karena semua amal terbaik itu mudah bagi orang yang yakin kepada Allah.

Tiga sifat manusia yang merusak adalah kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan.” (HR Imam Thabrani)

Sa’id bin Zabir berkata dalam majmu Al- Fatawa, “Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan perbuatan kebaikan lalu perbuatan kebaikan itu menyebabkan ia masuk neraka dan ada orang yang berbuat perbuatan buruk, lalu perbuatan buruknya itu membuat dia masuk surga hal itu dikarenakan perbuatan baiknya membuat dia jadi bangga akan dirinya sendiri, sedangkan perbuatan buruk orang itu bisa membuat tersungkur mohon ampun kepada Allah.”

Hati-hati bagi yang saat ini sedang diuji dengan harta dan merasa segala yang didapatnya ini murni karena jerih payah sendiri tanpa mengakui bahwa itu semua adalah titipan Allah. Begitu juga dengan mereka yang bangga akan kecerdasannya. Ilmu juga bisa jadi hijab (penghalang kedekatan dengan Allah) jika tidak digunakan untuk kebaikan dan jalan syukur pada Allah.

Makanya kalau ada harta, gelar, pangkat, ilmu, kedudukan, jabatan, popularitas, jangan sampai membuat kita “ngangkat”, harus terus merunduk. Bagaiman latihannya? Yaitu dengan tidak membuat status tersebut menjadi sesuatu yang spesial. Rasulullah di rumahnya tetap menyapu, menjahit sandalnya yang putus jahit, memmbawa belanjaan sendiri saat ke pasar.
Doa yang Dapat Mendatangkan Rahmat Allah
•    QS Al-Kahfi (18) ayat 10: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”
•    QS Ali Imran (3) ayat 8: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”
•    QS Al-A’raaf (7) ayat 23: “Ya Allah ya Tuhan kami, kami mengaku sudah zolim kepada diri sekiranya Engkau tidak memberikan rahmat, tidak memberikan ampunanMu, tidak mencurahkan rahmatMu, niscaya kami jadi orang yang rugi.”

Salah Satu Tempat Datangnya Rahmat Allah
Dari Abu Hurairah RA, dia menceritakan bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, dari rumah-rumahnya, mereka membaca kitab Allah, kemudian mempelajarinya dan berdzikir kepada Allah, melainkan Allah akan menurunkan kepadanya sakinah (ketenangan) dan Allah akan menghujaninya dengan rahmat kemudian akan diliputi oleh para malaikat dan akan disebutkan disisi Allah oleh Allah, di sisi mahluknya yang paling mulia.” (HR Muslim)

Jadi kalau Allah sudah melimpahkan rahmat, hati itu menjadi tenang, kuat, lebih siap menghadapi hidup, lebih mantap, lebih siap untuk berbuat, berjuang, berkorban. Jika seseorang sudah dilimpahi rahmat yang besar, dia akan bergerak terus seperti penebar cahaya kebaikan, dengan ringan dan tulus dan indah. Rasulullah adalah salah satu contoh yang penuh dengan rahmat Allah.

Cara Mendatangkan Rahmat Allah
Jadi sekarang kalau kita ingin mendapatkan rahmat yang besar dari Allah, syukuri rahmat yang Allah berikan ada pada diri kita, dengan memberi rahmat tersebut kepada:
1.    Orang tua. Bagaimanapun keadaan orang tua kita, darah dagingnya ada pada tubuh kita, itu takdir. Kalau orang tua bergelimang dosa kita yang harus ada dibarisan depan agar berharap ampunan kepada Allah.
2.    Keluarga dan anak-anak. Jangan merasa berjasa, jangan merasa sebagai orang tua yang udah berkorban.
3.    Anak-anak yatim
4.    Orang-orang fakir miskin dan janda. Jika ingin memberi bantuan kepada mereka, dilakukan dengan diam-diam lebih baik, tanpa perlu mengundang atau memberitahukan yang lain.
5.    Orang sakit dan mereka yang ditimpa musibah. Salah satu teknik agar kita lebih ringan membantu mereka adalah dengan menyadari dan mensyukuri bahwa bukan kita yang mengalami hal tersebut. Kalau mau membantu, bisa jadi yang takdirnya kita sakit jadi tertolak karena kita menolong mereka.
6.    Khodimat (yang membantu). Sebetulnya orang-orang yang membantu itu adalah saudara- saudara kita. “Para pembantu adalah saudara-saudaramu. Allah telah menjadikan mereka sebagai satu golongan yang berada di bawah kekuasaanmu. Maka barangsiapa yang telah menjadikannya berada dalam kekuasaannya, hendaklah memberi makan yang sama dengan yang dia makan, memberi pakaian yang sama dengan yang dia pakai dan tidak memberikan tugas yang memberatkannya. Jikalau memberikan tugas berat, hendaklah kamu membantunya.” (HR At- Tirmidzi)

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits, ketika seseorang datang kepada Rosululloh SAW yang banyak berbuat maksiat dan hampir putus asa kemudian Rosululloh SAW mengajarkan satu doa, “Ya Allah, sesungguhnya ampunan Mu lebih luas dari pada dosa-dosaku dan rahmat-Mu lebih aku butuhkan dari pada amal-amalku.”

Demikian, kita tidak akan selamat dengan mengandalkan amal karena amal kita adalah untuk mengundang rahmat Allah. Kita mengejar rahmat Allah dengan meningkatkan amal-amal karena amal-amal kita yang mendatangkan rahmat Allah. Insya Allah.

KH. Abdullah Gymnastiar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *