Membahas tentang Rasulullah, manusia  agung, manusia termulia, manusia terkasih, manusia tersayang, manusia yang paling dicinta Allah SWT dan seharusnya juga menjadi manusia yang paling dicinta oleh kita, semoga kita bisa menjadikan beliau sebgai suri tauladan. Kalau bicara tentang akhlak, perilaku, jalan hidupnya Nabi Muhammad, maka yang kita hadapi adalah seindah-indah akhlak, perilaku dan jalan. Allah SWT mengatakan, “Sungguh Engkau wahai Nabi Muhammad, berada di atas budi pekerti yang mulia.”

Semua orang yang akhlaknya bagus jika dibandingkan dengan akhlaknya Nabi, jadi tidak kelihatan apa-apanya. Saat kita kagum dengan sabarnya seseorang, andai kita tahu seperti apa sabarnya Nabi, kita akan melihat bahwa orang itu tidak ada apa-apanya. Begitu juga dengan tawakalnya, ikhlasnya, ridhonya, cintanya, kasih sayangnya, dibandingkan dengan dengan Baginda kita, Nabi besar Muhammad SAW.

Semua Hal di Diri Rasulullah Istimewa
Abdullah bin Zubair, keponakan Sayyidah Aisyah pernah bertanya bertahun-tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW, “Wahai Bibi, kasih tahu saya tentang hal paling istimewa yang engkau dapati dalam diri Nabi Muhammad?” Saat ditanya itu, Sayyida Aisyah hening, tidak langsung menjawab, air matanya mengalir, mulai menangis sampai sesenggukan, sampai sedu sedan, sampai tangisan yang begitu menyayat hati, hingga Abdullah bin Zubair berpikir mungkin dia bertanya pada momen yang tidak tepat, “Bibi kalau tidak bisa jawab sekarang tidak apa-apa.”

Di sela-sela tangisnya, Aisyah berkata, “Oh… rindunya hati ini dengan Nabi Muhammad. Tidak tahan kangennya sama Nabi Muhammad.” Sampai beberapa menit kemudian beliau terdiam, menahan tangisnya kemudian menjawab, “Wahai anakku, kau bertanya padaku tentang hal paling istimewa yang aku dapati dalam diri Nabi Muhammad, aku tak tahu bagaimana menjawabnya karena seluruhnya yang ada dalam diri Nabi Muhammad adalah istimewa.”

Satu kali Sayyidah Aisyah juga pernah ditanya bagaimana akhlaknya Nabi Muhammad, beliau menjawab, “Nabi Muhammad itu akhlaknya adalah Al Quran.” Apa maksudnya? Al Quran bercerita tentang orang-orang yang sabar. Ketahuilah, Nabi Muhammad adalah yang nomor satunya. Ketika Al Quran bercerita tentang orang-orang yang sholat khusyuk, maka Nabi Muhammad adalah orang yang nomor satunya. Ketika Al Quran memerintahkan tentang sedekah, ikhlas, memaafkan siapa saja yang bersalah, maka Nabi Muhammad adalah orang yang nomor satunya. Andai ada orang yang tidak membaca sekalipun, melihat Nabi Muhammad, bisa terbayang isinya Al Quran itu seperti apa.

 Akhlak Rasulullah pada Allah
Sayyidah Aisyah menceritakan, Rasulullah SAW sholat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya oleh Aisyah, “Ya Rasulullah, mengapa engkau memaksakan diri sampai sedemikian? Bukankah jika engkau lakukan itu karena takut kepada Allah? Bukankah Allah telah menjaminmu, mengampuni seluruh kesalahn dan dosamu jika ada yang lalu maupun yang akan datang?”

Nabi tersenyum dan mengatakan, “Wahai Aisyah, jika aku telah diberi segala sesuatunya oleh Allah SWT, ampunan, jaminan, surga, cinta, kasih sayang Allah, diangkat jadi Rasul, diangkat jadi manusia paling mulia di sisinya, diangkat jadi manusia paling dicintai di hadapan Allah, bukankah aku ingin jadi seseorang hamba yang mengerti bagaimana berterima kasih kepada Tuhannya? Bukankah aku ingin jadi seseorang hamba yang bersyukur atas segala nikmat dan karunia dari Tuhannya?”

Akhlaknya kepada Allah adalah, beliau selalu bersyukur atas apapun yang sudah Allah berikan padanya. Itu nilai tingkatan akhlak yang paling tinggi. Dikasih apa saja, sikapnya tidak hanya sabar, tapi juga berterima kasih. “Ya Allah, Engkau datang kepadaku dengan anugerah yang tidak ada habis-habisnya. Tapi maafkan aku yang selalu datang kepada-Mu dengan dosa-dosa yang juga tidak ada habis-habisnya,” ucapnya tiap pagi dan petang. Padahal Nabi tidak punya dosa.

Akhlak Rasulullah pada Sesama Hamba Allah
Saya melihat jika ada orang yang benci pada Nabi Muhammad di zamannya Nabi Muhammad saat masih hidup, pasti dia adalah orang kafir. Karena tidak ada orang Islam yang tidak suka pada Nabi Muhammad. Dan orang kafir pun, kalau sebenarnya hatinya ada kemungkinan baiknya, pasti akan jatuh cinta pada Rasulullah SAW. Semua syarat jatuh cinta kepada seseorang, kumpul pada diri Nabi Muhammad: wajahnya tampan, senyumnya manis, tubuhnya bagus, wangi lagi, apalagi akhlaknya yang paling baik.

Ada perbandingan orang yang berusaha berakhlak mulia, yaitu yang di dalam hatinya tidak timbul suatu ucapan atau perbuatan. Sementara yang akhlaknya mulia, antara hati dan tingkah lakunya sudah sama-sama baik. Sementara Nabi Muhammad, hatinya justru lebih baik daripada dzahir-nya. Kalau hatinya Nabi dibuka, semua isinya rahmat dan cinta. Makanya yang keluar di dalam diri beliau adalah tindak tanduk yang semuanya mulia.

Bersama dengan kemuliaan itu, beliau tawadhu sekali. Pernah Nabi, diundang ke rumah sahabatnya. Kemudian budaknya datang membawakan makanan buat Nabi sambil gemetaran seluruh badannya. Nabi kemudian berkata, “Bu, santai saja, tenang saja, Saya ini hanya anaknya Abdullah bin Muthalib. Saya ini cuma orang yang suka makan ikan asin (jika di tempat kita, ikan asin sama dengan makanan-makanan rendah– red). Ibu tidak usah ketakutan seperti itu.”

Bahkan kepada makanan pun Nabi tidak pernah mencelanya. Saat di rumahnya hanya ada roti dan cuka, beliau memakannya secara bersamaan. Ketika ditanya oleh isterinya bagaimana rasanya, beliau menjawab sambil tersenyum, “Saya baru tahu lauk yang paling enak itu cuka.” Subhanallah

Ustadzah Halimah Alaydrus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *