Rasulullah saw, kata imam al-Ghazali, adalah orang yang paling penyantun di antara semua manusia. Paling pemberani, paling adil, paling pemaaf. Tangannya belum pernah disentuh oleh wanita kecuali orang-orang yang beliau nikahi atau oleh mahram-mahram beliau. Rasulullah saw adalah orang paling dermawan. Tidak pernah ada uang barang satu dinar atau satu dirham pun yang sempat “menginap” di tangannya dan tidak pernah ada pemberian apapun sempat bertahan tanpa beliau berikan kepada orang lain.

Beliau menjahit sandal dan menambal bajunya sendiri, membantu keluarganya dengan ikut memotong daging bersama mereka, memerah susu kambing, memberi makan atau menambatkan unta, memperbaiki rumah dengan tangan beliau sendiri, dan makan bersama khadam (pembantu)nya. Bila membeli sesuatu dari pasar, beliau tidak pernah merasa malu untuk membawanya sendiri barang-barangnya atau membungkusnya dengan ujung bajunya.

Kepada setiap orang yang ditemuinya, baik kaya ataupun miskin, tua atau muda, hitam maupun putih, hamba sahaya atau hamba merdeka, Nabi saw pasti menyampaikan salam lebih dahulu. Beliau tidak pernah segan untuk mendatangi undangan dan tidak pula ada orang yang malu untuk mengundang beliau.
Lemah lembut tutur bahasanya, halus sikapnya, indah pergaulannya, cerah wajahnya, selalu tersenyum tanpa tertawa hingga mengeluarkan bunyi, sedih tetapi tidak sampai masam (wajahnya), keras tetapi tidak kasar, tawadhu’ tetapi tidak rendah diri, dermawan tetapi tidak berlebih-lebihan, lembut hati dan selalu berfikir (tentang kebesaran Allah swt). Beliau tidak pernah bersendawa karena kekenyangan dan tidak pernah tamak barang sedikitpun.

Nabi saw adalah orang yang sangat pemalu. Beliau mau menerima hadiah sekalipun itu hanya secangkir susu atau sepotong kecil paha kelinci, tetapi tidak mau menerima zakat. Apabila marah, maka marahnya karena Tuhannya Azza wa Jalla dan bukan karena dirinya. Beliau pun suka membayarkan hak orang lain sekalipun menyusahkan dirinya.
Nabi pernah mengganjal perutnya dengan batu karena laparnya. Beliau pun suka menyantap apa yang disodorkan kepadanya tanpa memilih. Bila tidak ada buah anggur, kurma pun jadi. Dan kalau hanya menemukan susu tanpa roti, minuman itu beliau anggap cukup. Nabi tidak pernah makan sambil bertelekan. Tidak pula makan kenyang dalam tiga hari berturut-turut hingga akhir hayatnya. Beliau selalu mendahulukan orang miskin daripada diri beliau sendiri, dan tidak pernah kikir. Beliau selalu memenuhi undangan, mengunjungi orang sakit, menyaksikan pemakaman jenazah.

Nabi berani berjalan sendirian di tengah-tengah musuh-musuhnya tanpa pengawal. Beliau adalah orang yang paling tawadhu dan tidak pernah bersikap sombong. Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana. Sesekali baju kurung, sesekali burdah buatan Yaman dan sesekali jubah terbuat dari tenunan bulu domba. Sesekali beliau menunggang unta, kuda atau keledai, tetapi lain kali berjalan kaki, tanpa rompi, tanpa sorban, atau penutup kepala lainnya.

Senang duduk-duduk bersama orang-orang fakir dan makan bersama orang-orang miskin. Menghormati orang-orang yang berakhlak mulia dan akrab dengan orang-orang yang terpandang karena kebajikannya. Beliau selalu menyambungkan tali persaudaraan tanpa mendahulukan yang kaya dari yang miskin.
Nabi saw adalah orang yang tidak berkata-kata, kecuali kebenaran. Pakaian beliau tidak pernah lebih bagus dari pakaian hambanya, demikian pula dalam hal makanan. Waktu-waktu beliau tidak pernah lewat tanpa terisi amal untuk Allah  swt dan hal-hal yang mashlahat bagi dirinya.

Nabi saw tidak pernah membalas kejelekan dengan kejelekan, tetapi selalu memaafkannya. Bila mengambil sesuatu (dalam hidangan), beliau tidak pernah menjulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu yang jauh, sehingga orang lain akan mengikutinya, yang dengan begitu tangan mereka akan bersimpang siur. Kalau bertemu dengan salah seorang di antara para sahabatnya, beliaulah yang lebih dahulu menjulurkan tangan untuk berjabatan. Beliau tidak pernah berdiri atau duduk tanpa ingat kepada Allah  swt (berdzikir). Bila ada yang sedang menunggu beliau sedang shalat. Lalu segera menemuinya dan bertanya “Ada perlu apa?” Bila keperluan tersebut sudah beliau penuhi, beliau kembali melanjutkan shalatnya.

Di tengah-tengah para sahabatnya. Nabi saw sulit dibedakan. Dalam majelis seperti itu, acapkali beliau duduk menghadap kiblat. Beliau selalu menyambut kedatangan mereka, bahkan tidak jarang menghamparkan jubah beliau untuk diduduki para sahabatnya. Kalau sahabat itu menolak, beliau mendesaknya agar duduk di situ. Semua itu tidak dianggap oleh siapapun, kecuali sebagai sikap hormat kepada sahabatnya.

Nabi saw adalah orang yang tidak mudah marah, tetapi murah maaf, lembut dan santun kepada semua orang dan paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain dibandingkan siapapun.

Apabila menghadapi hidangan, beliau menempatkan di antara kedua lututnya dan kedua telapak kakinya, sebagaimana ketika beliau duduk dalam shalat. Hanya saja salah satu lututnya berada di atas lutut yang lain, sedangkan salah satu telapak kakinya berada di atas telapak kaki lainnya (bersila).

Nabi mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seorang hamba Allah swt yang makan sebagaimana semua hamba lainnya makan dan duduk sebagaimana halnya hamba yang lainnya.” Nabi tidak pernah makan makanan yang masih panas. Dikatakannya, bahwa makanan yang masih panas itu tidak mengandung berkah. Diambilnya makanan dekat beliau, lalu memakannya dengan tiga jari dan kadang-kadang dengan empat jari.

Sedangkan bila minum, beliau melakukannya dengan tiga tegukan, dengan tiga kali bismillah dan tiga kali hamdalah di akhirnya.Nabi saw adalah orang yang memiliki telapak tangan paling bagus, dada paling bidang dan ucapan paling tetap di antara manusia lainnya. Beliau juga merupakan orang yang paling memenuhi janji, paling halus gerak-geriknya dan paling menghormati keluarganya. Siapa saja yang melihat penampilannya, pasti tertarik oleh wibawanya yang besar, sedangkan yang bergaul dengannya pasti menyukainya. Siapapun juga yang memanggilnya, beliau menyahut dengan ucapan “labbaik”. Setiap orang yang pernah bertemu dengan beliau, pasti mengatakan bahwa sifat beliau belum pernah dia lihat sebelum dan sesudahnya pada diri orang lain.

Pada diri beliau terhimpun sejarah hidup yang mulia dan tata cara yang sempurna, padahal beliau adalah seorang ummi yang tidak bisa membaca dan menulis, serta dibesarkan di negeri Jahiliyah dalam keadaan yatim piatu tanpa ayah dan ibu. Beliau dididik langsung oleh Allah swt dengan segala akhlak terpuji dan ditunjukkan pula kepada beliau jalan-jalan yang ditempuh oleh orang terdahulu dan yang terkemudian. Yang mana di antara yang bisa mengantarkan pada keselamatan dan yang mana yang bakal mencelakakan di dunia dan di akhirat. Beliau selalu menunaikan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang tidak perlu.

Karena itu, barangsiapa yang menginginkan segala kebaikan, hendaknya mencontohkan dalam segala perilakunya. Apabila ada seseorang yang menganggap dirinya lebih dari Rasulullah saw, maka alangkah bodohnya orang itu. Bagaimana mungkin dia bisa beranggapan seperti itu kalau Rasulullah saw adalah makhluk Allah swt yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya di dunia dan di akhirat.

Tidak ada kemuliaan dan keagungan yang bisa diperoleh, kecuali dengan meneladani beliau. Sebaliknya, tidak akan ada kecelakaan dan kesengsaraan, kecuali dengan melakukan bid’ah dan menyimpang dari petunjuk dan sunnahnya.

Sahabat, uraian mengenai sifat, perilaku dan akhlak Rasulullah saw. sebagaimana yang diuraikan oleh imam al-Ghazali di atas, tentulah hanya sebagian saja dari sunnah yang seyogyanya kita ikuti. Masih banyak sunnah yang lainnya yang bisa kita pelajari melalui ribuan hadits shahih yang telah sampai kepada kita sekarang ini. Sekiranya kita belum bisa mengikuti seluruhnya, tak apalah bila kita menerapkannya satu per-satu dalam perilaku keseharian kita. Sesuai dengan kemampuan kita. Siti ‘Aisyah pernah berkata, bahwa Allah swt itu amat menyukai hamba-Nya yang melakukan suatu amal shalih yang sedikit dan ringan, tetapi dilakukannya secara mudawwamah (terus-menerus).

Ingat, barangsiapa yang mengikuti Rasul-Nya, niscaya Allah swt akan mencintai dan mengampuni habis segala dosanya. Ini jaminan dari Allah Azza wa Jalla. Mudah-mudahan Allah yang Maha Perkasa menganugerahi kita kekuatan dan kesanggupan untuk bisa meneladani beliau dengan sebaik-baiknya, lahir maupun bathin, dalam semua tingkah laku kita. Dan semoga pula umat kita selalu berada dalam garis sunnah-nya serta menghimpun kita semua dalam kemuliaan, di dunia maupun di akhirat nanti.

Kesemua keutamaan Rasul yang diceritakan di atas hanya sepercik keutamaan dan keagungan beliau. Sifat-sifat sempurna tersebut terlahir dari kedalaman hati yang bening, ikhlas dan penuh kasih sayang pada hamba-hamba Allah. Inilah yang menyebabkan jiwa manusia merasa dekat padanya, membuat hati mencintai beliau dan selalu dirindu. Sampai-sampai orang yang mempunyai sikap keras dan memusuhi lalu menjadi luluh merasakan keindahan pribadinya. Akhirnya dapat kita saksikan kini, banyak orang yang berbondong-bondong masuk Islam, agama yang diridhai oleh Allah swt.

<Aa Gym>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *