Bila keyakinan bahwa Allah mengetetahui segalanya sudah mendarah daging dalam diri kita, akhlak akan langsung berubah. Kalau kita sering mendengar akhlak Rasulullah: indah, kuat, tegar, sabar, syukur, sejuk, mantap. Semua itu buah keyakinan kepada Alloh. Jadi kalau kita mempelajari shirah Nabawiyah, kita mempelajari sejarah Nabi. Kenapa beliau begitu kuat ketika berdakwah seorang diri, ditinggalkan oleh sanak saudara, dijauhi oleh kawan, dimusuhi oleh lingkungannya, diboikot, dihina habis-habisan, ditumpahi kotoran Unta. Diusir. Kenapa Alloh kuat sekali menghadapi semua ini? Penyebabnya adalah, karena beliau ikhlas melakukan apapun hanya karena Alloh. Orang ikhlas tuh buah dari keyakinan. Kalau tauhiid, keyakinan pada Alloh sedang menghujam, langsung berubah.

Jadi kalau ada yang bertanya, “Mengapa suami saya rajin Jumatan. Ngajinya banyak? Ilmunya banyak? Tapi kelihatannya ke Allohnya, akhlaknya belum sesuai dengan ilmunya.” Penyebabnya adalah tauhid-nya. Karena kalau tauhid sudah benar, yakin dia berubah. Seperti yang dikatakan tadi, kalau orang selalu merasa ditatap Alloh, dia tidak berani berbuat maksiat. Di mana kita bisa berbuat maksiat? Sedangkan setiap saat Alloh Menyaksikan. Ada kamera saja orang tidak berani mencuri. Ada kamera di dalam lift, orang nggak mau berbuat maksiat. Alloh Maha Melihat, Alloh Maha Menatap. Asy Syahid, Alloh Maha Menyaksikan. Ada orang, tidak ada orang, sama bagi orang yang merasa disaksikan oleh Alloh.

Dakwah Pertama Rosul tentang Tauhiid

Wa kafa billah hi shahida. Orang yang iklas itu adalah orang yang yakin Alloh Maha Melihat, Allah Maha Menyaksikan. Kalau orang yakin Alloh Maha Mendengar, apakah mungkin dia berghibah? Jawab… Mungkinkah mulut akan sembarang bicara? Tidak mungkin! Orang yang yakin Alloh Mendengarkan setiap kata-katanya, pasti sedikit bicara. Falyaqul khairan aw liyasmut. Berkata baik, benar, atau diam. Tidak ada bohong. Mau apa bohong? Tidak ada ghibah, tidak ada menyebar fitnah, tidak akan ngobrolin kejelekan orang. Kalau orang banyak bicara, banyak bergurau sia-sia. Banyak berkata maksiat, itu ciri-ciri dia tidak merasa dilihat oleh Alloh, didengar oleh Alloh. Padahal Alloh SWT dalam surat Qaaf  ayat 18 : Ma yalfizu min qoulin illa ladaihi roqib wa atid. Tidak ada satupun kata-kata kecuali ada malaikat pengawas yang selalu mencatat. Alloh Tahu isi hati, malaikat mencatat apa yang terucap. Alloh Tahu apa yang menjadi sumber dalam setiap ucapan. Jadi kalau ada ibu-ibu rajin ke pengajian tapi masih sering ngobrolin orang, yang tidak sepantasnya diobrolkan, berarti tauhid-nya belum bagus. Ilmu boleh banyak, ibadah boleh rajin, tapi kalau tauhid tidak bagus, akhlak sudah berubah.

Bisa jelas, hadirin? Itulah sebabnya 13 tahun pertama Rasulullah berdakwah adalah tentang tauhid. Sebelum perintah muamalah, sebelum perintah perang, sebelum perintah poligami, sebelum perintah bersedekah, sebelum perintah berzakat, sebelum perintah lain, yang pertama dididik adalah tauhid. Karena kalau tauhid sudah masuk ke dalam hati, dunia hilang. Tidak berat menafkahkan harta, bahkan nyawa sekalipun. Tapi kalau Alloh belum masuk ke hati, dunia Tuhannya. Pelit ini terjadi karena belum yakin rejeki dari Alloh. Kalau yakin Alloh yang membagikan rejeki, enggak ada licik. Mau apa licik? Alloh Maha Kaya, tidak perlu pakai licik. Alloh melarang licik. Masa’  karena kita jujur kita tidak diberi?

Tidak akan ada korupsi. Kenapa di Indonesia korupsi merajalela. Karena tauhid-nya belum bagus. Kalau tauhid bagus, mau apa korupsi, hah? Alloh Maha Kaya memberi rezeki kepada makhluk-makhluk yang segini banyaknya, beres. Benar? Kalau yakin kepada Alloh, Tauhid bagus. Adem!

Kenapa hati gelisah? Karena berharap sesuatu dari selain Alloh. Berharap dipuji, gelisah. Berharap dihargai, gelisah. Berharap dibeli, gelisah. Berharap dicintai, gelisah. Makin berharap dari selain Alloh, nggak enak di hati. Benar? Tapi kalau harapannya hanya kepada Alloh, adem. Alloh Maha Dekat. Orang, siapa yang dekat dengan kita? Sedeket-deketnya orang, banyak jauhnya.

Tauhiid: Sumber Keyakinan Rosul dalam Hidupnya

Kenapa Rasul rendah hati? Kenapa Rasul dermawan? Kenapa Rasul akhlaknya indah? Kenapa Rasul sangat kuat menghadapi cobaan? Kenapa Rasul pemberani? Semua sumbernya satu. Apa? Tauhid. Keyakinan kepada Laa ilaaha Illallah. Contoh, Rasulullah berani bertempur. Perang, berada di barisan yang paling depan. Suatu saat di Madinah, ada suatu ledakan. Para sahabat berkumpul. Ketika mendekat ke sana, Rasulullah sudah datang dari sana. Rasulullah tidak takut melawan siapapun karena makhluk itu ciptaan? Alloh. Orang Quraisy ciptaan siapa? Alloh. Siapa yang ngasih makan orang Quraisy? Siapa yang Ngasih rejeki mereka? Alloh melihat rahasia orang Quraisy? Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sofyan mengadakan rapat. Alloh tahu tidak rapatnya? Tahu, tidak? “Tapi mereka rapatnya di tempat yang tersembunyi.” Adakah yang tersembunyi bagi Alloh? Mereka bisik-bisik. Adakah yang tidak terdengar oleh Alloh? Tidak ada! Semuanya! Allah Maha Melihat! Wallohu khobirum bima ta’malun. “Dan Alloh Maha Mengenal, Maha Mengetahui apapun yang kamu lakukan.” Tidak ada yang tersembunyi. Sama. Jaman sekarang juga sama. Yang mau bersiasat, sok aja siasat. Alloh Maha Mendengar, Maha Mengenal.

Saat Perang, Rosul tahu nyawa tuh tidak pernah tertukar. Tidak ada yang mati, kecuali memang sudah ajalnya. Walikulli ummatin ajal, fa iza jaa a ajaluhum la yastak khiruna saa’ah wa la yastaqdimun. “Setiap umat sudah ada ajalnya. Kalau datang yang ditetapkan, tidak bisa mundur, tidak bisa maju.” Yang belum waktunya meninggal,  Khalid bin Walid, itu perang begitu banyak. Apa beliau terbunuh di medan perang? Tidak, walaupun dia sangat ingin. Jadi, lebih tenang hidup ini. Rasululloh juga dermawan. Punya selembah kambing, ambil (semuanya diberikan). Punya emas, ambil (semuanya diberikan).

Makin yakin ke Alloh, tingkatan yakin beragam. Abu Bakar Asy Shiddiq, yakin ke Alloh. Harta semua diberikan. Umar bin Khattab, semoga Alloh Ridho, yakin ke Alloh, separuh hartanya diberi. Kita? Abu Bakar seluruhnya, Umar bin Khattab setengahnya. Kita? (jamaah ada yang jawab: “Seperempat”). Seperempat? Kita buktikan nanti, ya. Ketika waqaf dibagikan, kita lihat apa yang nanti dikeluarkan.

Alloh Maha Tahu Lebih dari yang Kita Tahu

Itulah keyakinan kita. Kalau yakin Alloh Maha Melihat, ini harta milik Alloh, waqaf itu bekal kembali ke kita, tidak berkurang harta dengan sedekah. Keluarkan semuanya. Bagaimana dia bisa mengeluarkan semua isi sakunya? Karena sudah tahu isinya dua ribu. Ya? (bergurau, jamaah tertawa).

Yakin rejeki itu milik Alloh? Hah, bagaimana tidak yakin kita, ya? Di perut ibu dulu kita nggak ngerti apa-apa, cukup rejeki kita, ya? Tangan jadi, kepala jadi, rambut jadi, tanpa mengerti, dan ibu pun nggak mengerti, bagaimana bikin rambut anak, jantung anak. Apa ibu makan sari ijuk untuk menumbuhkan rambut? Tidak… Waktu bayi, tidak ada tenaga, tidak ada ilmu, tidak ada pengalaman, rejeki cukup? Cukup… (Lalu kita) Makan… Sampai bisa sebesar ini. Sampe sekarang rezeki cukup? Jangan mengeluh kalau kita makannya sederhana. Alloh tahu makanan sederhana. Makanya, ada waktunya Alloh Ngasih gado-gado, sate, kerupuk udang, es krim di kondangan ya? (jamaah tertawa). Itu perbaikan gizi. Eh, beneran hadirin. Alloh Menciptakan syareat aqiqah di antaranya untuk yang jarang makan daging. Semuanya udah sempurna., jangan risau. Ini yang manjangin kuku, coba lihat. Karena Alloh yang maha Sempurna, mengatur semuanya. Yang manjangin kuku, ada perintah gunting kuku, dibuat kuku ini tidak ada rasanya. Coba kalau digunting, sakit. Haduuh… jerit tiap jumatan (saat memotong kuku). Ini benar tidak ada rasanya kuku ini, hadirin. Alloh yang Menciptakan perintah gunting kuku, Alloh Tahu kalau kuku ini sakit kita nggak akan gunting-gunting. Makanya yang manjangin kukunya, bukan jarinya. Alhamdulillah…

Rambut, segini banyaknya, tidak ada rasanya (waktu) digunting, tuh. Alloh Maha Tahu karena dia yang menciptakan rambut. Dia yang kasih makan ke tukang cukur, Alloh kasih makan ke pabrik gunting cukur, dipanjangkan rambut. Nggak ada rasa nih rambut. Coba kalau tiap rambut perih, ke tukang cukur akan jadi ladang pembantaian. Kalau tiap rambut mengeluarkan darah seperti apa, hadirin? Muncrat, itu. Makanya jangan ragu, beres kok semuanya. Ya? Ini harus nambah iman, nih. Kenapa mata nggak? Kan bahaya ini. Gigi gimana? Kalo kepanjangan?? (Jamaah tertawa). Makanya, udahlah, beres. Jangan risau. Alloh yang cukupi. Tinggal patuh ke Alloh. Jangan cemas tentang janji dan jaminan Alloh. Innallaha la yukhliful mi’ad. “Janji Alloh itu pasti.” Alloh lagi Mendengarkan kita. Jangan takut dengan segala janji dan jaminan Alloh. Itu pasti. Yang takut itu justru bukan tidak punya rejeki, tapi takut tidak yakin kepada Alloh yang Memberi rejeki. Takut tidak punya jujur ketika kita menjeput rejeki kita. Takut tidak punya syukur kalau Alloh sudah Ngasih. Takut tidak punya sabar ketika Alloh mengambil rejeki. Takut hati kotor kepada rejeki yang Alloh berikan ke orang lain. Kalau orang sudah yakin kalo Alloh Maha Pembagi rejeki, tidak akan kita mau licik.

(Misalnya) Kita dagang berlima, jualannya sama, nggak apa-apa. Tidak jadi beli ke kita, trus beli ke dia, nggak apa-apa. Sesuka Alloh, iya kan? Lah dia juga hamba Alloh, masa’ nggak boleh dia dapet rejeki? “Iya, tapi saya ini dapetnya cuma lima ribu, masa’ dia sepuluh ribu?” (mungkin) Alloh tahu kontrakannya mau abis. Anaknya mau sekolah. Cicilannya jatuh tempo. Alloh Maha Tahu persoalan sebelah kita ini, kenapa kita nggak rela? Suka-suka Alloh dong ngasih rejeki sepanjang halal, berkah, kita ikut senang. Benar? Enak tidak kira-kira kalau seorang pedagang yang ma’rifat ke Alloh. Enak tidak? Nggak ada takutnya. “Wah, ini musim krisis ekonomi” Ya nggak papa ini dari dulu sudah krisis. “Uh, bensin naik.” Hah, dari dulu juga udah sering bensin naik, masih pada hidup, kan? Yang kasihan pada demo, trus ada yang dijahit.mulutnya. Habis itu dibuka lagi, makan lagi. Nggak usah risau. Benar? Yakin, Tauhid ke Alloh. Jangan takut. Takut tuh kalau tidak punya keyakinan. Itu yang masalah. Anna inda zhanni `abdi. Aku sesuai dengan prasangka hambaKu.

Yakin kalau Alloh bakal ngebayarin utang? Alloh pasti tahu nih, kita berpikir “Alloh Maha Kaya”. Saya inget waktu mau beli tanah, dulu, buat bangun pesantren. Harganya naik terus. Tegang nih. Sekarang masih 200 ribu, tiba-tiba jadi 300 ribu, trus jadi 500 ribu. “Kiyai, gimana nih, harga tanah naik terus, kita nggak punya uang.” Saya bilang, “Kenapa pakai tegang? Minta sedikit ke Alloh, minta banyak ke Alloh. Minta banyak aja sekalian.” Eeeh, lunas tuh. Beres. Ada seorang ulama pimpinan pesantren, “Ayo, dibongkar ini masjidnya.” Lalu stafnya bilang, “Uang dari mana, jamaah kita kenclengnya pada sedikit.” “Karena kamu nganggep rumah Alloh tuh datang dari kencleng, maka jadinya cuma segitu. Rumah Alloh nih milik Alloh! Alloh yang membangun. Minta ke Alloh! Bikin perencanaan yang bagus, bikin manajemen yang bagus, yakin Alloh yang ngebangun. Terserah Alloh. Nggak usah ngandelin kencleng.” Akhirnya jadi tuh, sekarang sedang ditiru di pesantren. “Wah, ini memerlukan 1,7 miliar.” Alloh Maha Kaya. Anehnya, sampai saat ini cukup aja untuk membayar bangunan. Makanya nanti sodara mau diberi kesempatan. Ini bukan minta, tapi ngasih kesempatan. Kalau mau wakaf, manfaatkan. Masjid Daarut Tauhiid, dengan ijin Alloh, tiap waktu sholat penuh orang. Pahalanya sampai kepada yang mewakafkan. Yakin ke Alloh, sempurnakan syareat, jalan. Jelas hadirin?

Yakin ke Alloh tentang Jodoh

Bagi orang yang yakin kalau jodoh Alloh yang Ngatur, nggak tegang, tuh. “Tapi umur saya udah kepala empat, A’.” Memang Alloh terpengaruh dengan umur saudara? Hah? Ini baru kejadian kemarin, tuh. Ada (orang) sekitar umur 56, ketemu dengan yang umurnya 56. Jodoh! Itu pacar waktu SMP katanya. Yang ngasih umur, Alloh. Yang ngasih jodoh Alloh. Masa’ Alloh terhalang oleh umur? Sedang umur dia yang Nyiptakan. “Tapi hidung saya pesek, A’.” wah, menghina banget kepada Alloh. Jangan nyebut pesek, pesek juga berlubang, kan?! Sodara, yang bikin wajah kita siapa? Alloh. Mungkinkah Alloh terhalang jodoh untuk kita gara-gara wajah yang Dia Bikin? Jawab. Kan nggak masuk di akal? Mungkin Alloh nanti Ciptakan si calonnya memang spesialis yang seneng yang pesek. Jadi kalau nanti ngeliat yang pesek tuh katanya seksi. Lihat yang bibir tebel ada yang seneng, ya? Kata orang, kamu mah kayak radial. Kata jodohnya sih enggak.

Masih inget Kang Atok? Dia lumpuh. Tangan kaku, bicara susah. Bergerak sulit. Tapi karena punya keyakinan ke Alloh, “To, apa keinginannya?” “Saya ingin punya anak, A’.” “Kenapa?” “Saya kalo meninggal, ingin didoakan oleh anak. Saya nggak sekolah tinggi, mudah-mudahan anak saya bisa jadi ulama. Bermanfaat.” Saya ingat banget perkataan beliau. “Tapi kan punya anak, harus punya isteri dulu.” “Ya iya, saya juga ngerti.” “Gimana nyari isterinya, To?” “Kan ada Alloh, A’. Alloh yang Nyiptakan laki-laki, Alloh yang Nyiptakan perempuan. Alloh yang menjodoh-jodohkan. Orang lain juga dikasih jodoh. Masa’ saya enggak. Gini-gini saya juga bikinan Alloh.” Ada, Alloh Mendengar (omongannya). Alloh Maha Mendengar. Digerakkan itu akhwat, Mbak Kustinah. Datang, “Saya siap jadi isterinya.” “Gimana dengan orang tua?” Dibalikkan oleh Alloh (hati) orang tuanya, setuju. Nikah. Sah. Hamil. Melahirkan. Selamat, baru sesudah itu ibunya meninggal. Atok diurus oleh anak dan isterinya. Beberapa tahun lalu (dia) nelepon, “A’, doakan, A’…” “Kenapa, To?” “Isteri saya…” “Kenapa isterinya?” “Hamil lagi…” (Jamaah tertawa) Sekarang sepasang tuh, anaknya.

Ada yang punya harta melimpah, belum punya anak. Atok, diem-diem, dua tuh (anaknya). Sepasang.  Alloh yang Ngatur jodoh. Bergerak susah, dari sini ke sana mungkin satu jam. Bibirnya sudah pecah, giginya sudah habis karena jatuh ke depan. Alloh yang Mengurus, digerakkan seorang akhwat. Alloh Penguasa segala-galanya. Innallah ‘ala kulli syaiin qādir. Tuh, menangnya husnudzon ke Alloh kayak gitu. Sudah, sudah… ini yang belum punya jodoh ada harapan lagi sekarang. Kemarin sudah hampir punah harapan (jamaah tertawa). Tapi jodoh nggak harus ketemu di dunia semua, ya? Adik saya meninggal sebelum menikah. Padahal sebelum meninggal ada tuh akhwat yang mau jadi isterinya. Adik saya lumpuh juga. Kaku, berbaring karena keadaannya yang semakin parah. Tapi sebelum menikah, meninggal. Usia 25. Mudah-mudahan ketemu jodohnya nanti di surga. Nah, buat yang nggak kebagian di dunia, jangan putus harapan. Asal ke sorga… karena kalau di tempat yang satu lagi (neraka) nggak sempat. Pas lagi direbus… air nanah… wah repot. Na’udzubillahi min dzalik.

Yang belum punya jodoh, sing yakin ke Alloh. Dunia cuma sebentar. Nggak lama, lah. Mau kulit item, putih, tinggi, pendek, semuanya milik Alloh. Kalo Alloh mau memberi, Innama amruhu iza arada sai an ayyaqula lahu kun fayakun, selalu ada jalan. Kalau Alloh Menetapkan sebuah takdir, maka Alloh Menciptakan takdir, menciptakan sebab, sampai terwujudnya takdir ini. Nih, seperti hari ini (MMQ di Masjid Istiqlal). Takdirnya, kita harus jumpa. Diciptakan penyebabnya oleh Alloh. Saya dibuat sehat, dari BSD ke sini tidak bawa kendaraan, digerakkan, ada yang mau nganter sampai sini (Masjid Istiqlal). Sodara macem-macem dari sana-sini, karena takdirnya hari ini ketemu, ada yang dibonceng kawan. Ada yang naik ojek, tukang ojeknya ikut ngaji. Iya, nggak? Ada yang diancam oleh suami, “Ngaji nggak, bu?” (bergurau, jamaah tertawa). Maka jangan pernah putus harapan dari Alloh.

Alloh suka: lakukan, Alloh tidak suka: tinggalkan

Itulah salah satu di antara mengapa kita paham Rosululloh itu tidak kenal menyerah, tidak mengenal lelah, tidak ada keluh-kesah! Ini penting nih. Pernah ada riwayat tentang Rosul yang mengeluh? “Aduh, Asyiah… Kacau, kacau… repot tuh orang Tho’if. Ya dihajar ajalah…” Nggak ada tuh kata-kata itu. Rosul capek. Pulang ke rumah isteri sudah tidur, pintu dikunci. Tidur di luar. Beres. Tidak ada keluh kesah. Anak beliau meninggal, beliau keluar air mata. Ditanya, “Engkau menangis ya, Rosul?” “Ini air mata sayang” Tapi tidak ada hati tidak terima terhadap takdir Alloh. Makanya, orang-orang yang tauhid-nya bagus, nggak mau keluh-kesah. Mau ngapain mengeluh ke orang?

Begini, kalau lampu lagi mati, trus ada yang memukul, “Wah, siapa nih yang mukul?” sambil marah-marah. Lalu begitu lampu nyala, ternyata yang mukul itu guru atau ustadz kita, eh, malah nyium tangannya. Kenapa? Karena beliau tahu, “Oh, ini guru saya, yang tiap hari ngajarin ilmu, yang tiap hari ngedoain, yang malah ngasih rejeki”. Dipukul oleh orang yang dia hormati, nggak marah. Kita, disentuh sedikit (Oleh Alloh), masa’ kita ngambek sama Alloh? Sedangkan yang menciptakan kita siapa? Yang Ngasih rezeki setiap saat siapa? Kita tinggal di bumi milik siapa? Siang-malam yang ngurus tubuh kita siapa? Yang nutipin aib siapa? Yang ngasih pahala siapa? Masa’ disentuh, kita ngambek? Protes? “Saya nggak terima.” Mau nggak terima gimana? Kita nih milik Alloh, mau sesuka Alloh Digimanain juga. Iya, kan?! Pasti baik kok (maksudnya). Mungkinkah kita adukan perbuatan Alloh ke orang? Berani? Masa’ Alloh disebut ngasih takdir nggak bener, segini rapihnya, ya? (sampai menunjuk wajah). “Masa’ saya ada jerawat dua tahun? (menunjuk ke pipi)” Kenapa jerawat yang dipikir, tetangganya jerawat, hidung, nggak diomongin? Segini komplit, lengkap, beres, ya kan? Pori-pori nggak usah kita urus, diurusnya oleh Alloh. Coba kalau tiap pori-pori harus diurus oleh kita?

Adakah ujian dari Alloh yang tidak diukur oleh Alloh? Alloh sudah tahu keadaan kita? Mungkinkah Alloh Memberi cobaan yang tidak sanggup kita memikulnya? Alloh Maha Adil, artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Alloh yang Maha Baik, yang selama ini berbuat baik kepada kita, suatu saat Alloh akan membersihkan kita dari dosa, suatu saat Alloh akan mengangkat derajat kita, masa’ kita protes? Pantes, nggak? Jangan… Bulan lalu saya masih dikejar-kejar wartawan  keluar pas keluar dari sini, ya? Tungguin aja, sok… sampai habis omongan dia. Dia nggak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mau caci maki, sok caci maki. Pasti balik kepada yang nulisnya. Nggak akan kena ke kita omongan orang. Yang kena ke kita omongan kita sendiri. Nggak bahaya… yang bahaya itu keburukan kita.

Maka, sodaraku sekalian, sing sibuk dengan dua hal aja dalam hidup ini: Alloh suka, lakukan dan Alloh tidak suka, tinggalkan. “Hayya ‘ala solah…” Kita lagi ngobrol. Apa yang Alloh suka? Terusin ngobrol, atau ke masjid? “Eeeh… mau ke mana, men?” “Maaf, Alloh suka nih kalau saya ke masjid”. Wudhu di rumah atau wudhu di masjid? Di rumah. Jangan pas kebelet baru ke masjid. Sedekah cuma 500, septitank penuh. (jamaah tertawa). Sampai di masjid, langsung duduk nih. Alloh sukanya tahiyatul masjid atau langsung duduk? Tahiyatul masjid… Makanya saya tadi ngumpet dulu. Saya tadi juga milih, kalau saya tahiyatul masjid di sini (di depan jamaah), bisa rusak sholat saya, ya? “Wah, ruku’nya mesti dilamain, nih.” Maka sembunyi sajalah. Lebih aman. Kalau sholat jamaah, khususnya buat laki-laki, deket tiang atau di shaf utama? Maju… walaupun rada males.

Misalnya pas di dalam kabar mandi, kita sedang antri dan setelah ini giliran kita. Lalu di belakang ada orang yang sudah menyilangkan kakinya (tanda kebelet sekali). Artinya, itu emergency. Coba, mana yang Alloh sukai? Kita masuk dan kita puas dia “keberosotan” di sana atau kita menyilahkan dia duluan? Pikir, “Alloh pasti sukanya pasti menolong.” Nggak setiap hari posisi kayak gini. Iya nggak? Ini posisi emergency, siapa tahu suatu saat nanti kita mengalami posisi yang sama. Nggak ada urusan kita dengan dipuji. Urusan kita, Alloh suka, lakukan. Alloh tidak suka, tinggalkan. Kalo ada yang nanya: Kenapa kamu, kok baik banget, ngantrinya kan lama.” Jawab aja, “Alloh pasti suka”. Nggak ada urusan kita dengan dipuji. Urusan kita, Alloh suka: lakukan, Alloh tidak suka: tinggalkan.

Ada kucing, yang kepalanya dimasukin orang ke kantong kresek. Apa yang Alloh sukai? “Ya Alloh, Engkau takdirkan kucing ini lewat di depanku. Ada anak-anak kecil, emang salah satu dari anak itu anaknya kepala sekolah, anak atasan. Nggak papa, bilang “Nggak boleh gitu, sayang”. Bukain plastiknya. Ini memang udah takdir kita ngelihat zhaliman kecil-kecilan kayak gitu. Eh, udah dibuka, kucingnya malah ngencingin. “Kucing nggak tahu diri”. Kata kucing, “Mas… say amah cuma kucing…” mungkin ya (dia ngomong kayak gitu, “kerjaan saya bertasbih. Saya ngencingin pakaian mas, itu karena saya memang ditetapkan Alloh harus ngencingin Mas. Coba deh, tafakurin mas, berapa bulan celana ini nggak dicuci?” (Jamaah tertawa). Mungkinkah kucin ngencingin sarung kita sembarangan? Tidak! Kucing mah nggak ngerti apa-apa. Tergantung Alloh Menetapkan siapa yang harus dikencingin. Ya? “Makasih, Cing. Kamu saya tolong ngelepasin dari kantong kresek. Kamu nolong saya ngelepasin dari celana yang banyak kotorannya ini. Emang udah dua setengah bulan, Cing. Sengaja saya pakai celana hitam biar nggak kelihatan kotorannya.” (Jamaah tertawa)

Ah… kalau dengan Alloh terus mah, semua asyik. Lagi jongkok di WC, ada kecoa terpeleset sampai terlentang. Hayo… Alloh sukanya gimana? Pakai sandal jepit? (Jamaah ketawa). Jawab atuh hadirin, jangan ketawa, ini teh ilmu tauhiid. Apa? Ditolong. Itu kecoa lagi bertasbih.
Sampai keluar, mau naik angkot. Semua (yang di dalam) akhwat. Kita lelaki sendiri. Ini rejeki atau cobaan? Siapa yang bilang rejeki dicatet loh hadirin (jamaah tertawa). “Ya A’, akhwatnya juga majelis taklim kasepuhan.” Oh ya, rejeki kalo itu mah, yah. Siapa tahu nanti sodara disuruh ngangkut-ngangkut barangnya. Tapi kalau di dalamnya remaja semua, turun. “Wah, rugi A’, jarang ada momentum kayak gini.” Iya, sodara emang mau pas turun dikejar anjing. Cobaan, itu. Harus berani mikir lebih dalam.

Mau merokok, “Wah, Alloh ridho tidak, nih?” Alloh suka tidak, nih dengan rokok ini? Baca bungkusnya, Takdir Alloh, cuma nggak ditulis bungkusnya di sana, merokok dapat ditakdirkan berpenyakit kanker, serangan jantung, impoten, gangguan kehamilan dan janin. Ini pasti barang nggak bener, nih. Kalau barang bener, meminum obat ini: badan segar, fitalitas tinggi, sodara akan kuat dan prima.” Terbukti kan kalau kita merokok, pasti bermasalah. Kalau nggak percaya, beranikah sodara mati dalam keadaan menghisap rokok? Coba bayangkan kalau Rosululloh ngerokok, nggak kebayang sama sekali. Udahlah, jangan lakukan yang Alloh tidak ridho. Setuju?

Misalnya lagi makan permen. Bungkusnya mau dibuang sembarangan, taro di saku atau dikunyah? (jamaah tertawa). Bangun tidur, Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur. Tempat tidurnya, Alloh ridho yang mana? dibereskan atau dibiarkan berantakan? Beres-beres tempat tidur tuh bukan karena pengen kelihatan rapih, bukan masalah ingin dipuji. Enggak ada! Soalnya Alloh suka yang beres dan rapih. Buktinya, gigi kita beres. Alam ini beres. Pengen kan Alloh ridho terus sama kita. Trus lagi gosok gigi, keran dibuka, air terbuang. Alloh ridho tidak? Matikan… pakai air secukupnya. “Kenapa? Kamu kan punya uang cukup buat bayar air?” “Saya punya rejeki buat bayar air tapi setiap yang berlebihan, Alloh nggak suka.” Enak? Jelas hadirin?

Keluar dari WC, wah bau nih. Bukan gembira. “Wah, setelah yang masuk habis ini rasakan” (Jamaah tertawa). Itu zhalim, hadirin. Alloh Tahu, nih. Siapa yang buang angin pura-pura (nggak tahu), Alloh Tahu, tuh.

Ibu-ibu, perlukah ibu ikhtiar agar suami suka sama ibu? Tidak perlu… yang perlu mah ibu diridhoi oleh Alloh. Hati lelaki itu tidak di tangan ibu, tapi dalam kekuasaan Alloh. Perlukah seorang mubaligh dicintai umatnya? Jawab… tidak perlu! Keperluan dalam dakwah ini cuma satu: Alloh nerima, Alloh ridho. Cukup. Kalau Alloh mau, tinggal dibalik-balikkan hatinya. Begitulah hadirin. Kelihatannya Rosululloh di sana itu kuncinya. Tidak sibuk cari muka. Akibatnya, ribuan kilometer, ribuan tahun, cinta hati kita kepada Rosul. Alloh Maha Tahu isi hati. “Dan kami mengetahui apa yang dibisikkan di hatinya.’ Udah, sekarang mah, nyapu karena? Alloh… Beres-beres karena? Alloh… “Kenapa knaplotnya diganti dari yang (bunyinya) keras jadi kecil?” “Saya tahu lah kalau knalpotnya (suaranya) keras kayak gini Alloh nggak suka, ganggu tetangga.”

Ibu, kalau dandan, didempul misalkan lima lapis. Ibu jangan mikir ke mana-mana. “Alloh suka nggak, nih?” Pakai lipstik. Kalau tebel-tebel, Alloh suka nggak nih? “Ah, kayaknya kalo ketebelan Alloh kurang suka.” Lap saja pakai tisu. Yah? Ini (bedak) terlalu tebeal, ntar kalo wudhu suka nggak ikhlas. “Itu ada totol-totolnya tapi.” Nggak papa, itu nggak bahaya. Kalo ibu make up-nya kebetelan, pas gerimis (akan) stres, takut ikut hanyut make up-nya. Mau wudhu juga nggak tulus. (Aa Gym memperagakan tangan yang mencipratkan air dikit-dikit ke wajah). Mendingan ketauan sekalian, beres. Ya? Nggak usah takut oleh penilaian orang. Takut mah cuma satu: Alloh tidak ridho. Orang mau sebel ke kita, kalau Alloh ridho, rugi nggak? Nggak ada ruginya, nanti ada waktunya.

KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *