“Dengan hati yang tunduk, air mata yang mengalir dan nafsu yang terkendali. Dengan itulah seharusnya kau jelang Ramadhanmu .”
(Habib Ali Al Jufri)
Tak sabar menunggumu… Selayak kemarau menanti penghujan. Semisal petani menunggu panenan. Ramadhan… Kutunggu gerimis cahayamu menerpaku

Dipertemukan dengan Ramadhan adalah bersimpuh di pintu-Nya. Mengetuk-ngetuk rahmat sebulan penuh. Jika bersungguh-sungguh, Engkau akan dibukakan-Nya pintu.

Telah lewat purnama Sya’ban. Kini, menunggu sabit Ramadhan Dengan tak sabaran.

Ketika Bulan Mulia ini Datang Kembali…
Selagi ada bulan dan matahari, Ramadhan akan selalu datang lagi, namun ia tidak peduli adakah engkau di atas bumi atau ke kubur telah kembali. Maka Ramadhan kali ini bisa jadi adalah Ramadhanmu yang terakhir… jangan sia-siakan…

Noda dan aib diri yang mengotori ruang hati kami selama ini. Basuhkan dengan tetes-tetes rahmat yang Kau guyurkan di bulan mulia ini.

Alangkah indahnya mereka itu, yang baru puasa sehari saja telah ditetap bebas neraka, dipandang dengan cinta, dipakaikan pakaian takwa.

Aku mencari-Mu dalam lapar hausku, aku mencari-Mu dalam sembah sujudku, aku mencari-Mu dalam hijaiyah ayat-Mu, Engkau masih begitu jauh. Rabbi… dalam Ramadhan ini, ajarkan kami mendapati-Mu.

Ya Allah… maafkan… sujud, ruku, sholat kami masih hanya gerakan, belum kekhusukan dan ketundukan.

Puasa kami hanya penahanan haus lapar, belum menahan nafsu dan keinginan.
Namun jika Engkau hanya berkenan menerima yang baik dari ibadah hamba, kepada siapa sholat dan puasa kami persembahkan?

Hikmah Selepas Perang Badar
Telah tercacat 10 Ramadhanmu. Akankah kala diajukan padamu nanti ia layak menggurat senyum bangga. ataukah penyesalannya mengalirkan air mata?

“Kalian pulang dari perang kecil menuju perang besar,” sabda Nabi selepas Perang Badar, “yaitu perang kalian menghadapi hawa nafsu sendiri.”

17 Ramadhan tahun ke 2 H tahun terjadinya perang badar. Ya Allah karuniai kami semangat mereka dalam berjuang meraih ridho-Mu.

Teruntuk 313 Sahabat Nabi SAW yang bertempur dalam medan pertempuran badar, kami umat Nabi zaman ini mengucap terima kasih atas tiap tetes keringat, darah bahkan nyawa yang telah kalian korbankan, atas tiap keberanian, ketulusan dan cinta kepada Nabi yang telah kalian buktikan, semoga kami bisa menapaki langkah dan rasa yang sama dengan kalian di dunia ini, hingga di telaga kautsar kita akan dipertemukan.

Saat Ramadhan akan Berakhir…
Saat di pintu-Nya mengemis, segera akan habis Saat syetan terikat, segera akan bebas. Air mata apa yang sebanding untuk kehilangan semacam ini??

Saat hujan ampunan, segera akan terhenti. Saat doa diijabah, segera akan menyudah. Air mata apa yang sebanding untuk kehilangan semacam ini??

Saat pahala berlipat, segera akan berangkat. Saat anugrah diberi, segera akan pergi. Air mata apa yang sebanding untuk kehilangan semacam ini??

Tunggulah aku Ramadhan… Jangan dulu bergegas…!! Belum banyak kucatatkan padamu hal yang membanggakan di hadapan Tuhan.

Ramadhan… Di gerbang perpisahan ini, Aku berharap tahun depan dapat bertemu denganmu kembali.

Ya Allah…
Gemakan takbir dalam hati kami…
Gemakan takbir untuk sisa hari-hari kami…
Gemakan takbir untuk seluruh hidup kami…
Hingga hanya nama-Mu yang tergema
Di saat tutup usia kami…

*Diambil dari Buku Tutur Hati Halimah Alaydrus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *