Wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah saw: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.”(Qs. al-`Alaq: 1). Dari ayat inilah Rasulullah saw memulai membangun peradaban jenius, membebaskan manusia dari buta huruf dimulai dari membaca. Sejak turunnya ayat pertama diatas Rasulullah saw memulai membuat peradaban sebagai berikut:
1.  Mengembangkan metodologi belajar mengajar, pengembangan intelektual, menghafal, memahami, mengamalkan, membaca alam semesta yang dikaitkan dengan nama Allah.
2.  Membuat lembaga yang bernama KUTAB untuk belajar bertempat di Daarul Arqam.
3.  Membuat materi-materi pembelajaran (kurikulum), dimana Rasulullah saw menyuruh Sayyidina `Ali ra membuat huruf hijaiyyah, praktek ibadah, dll.

Metodologi pengajaran Rasulullah saw adalah metodologi utama yang sampai saat ini dipakai dalam dunia pendidikan. Dan peradaban yang dimulai oleh Rasulullah saw berdampak besar terhadap perkembangan Islam berikutnya. Sebuah fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri pada zaman kejayaan Islam adalah hasil pola pendidikan ala Rasulullah saw.

Perbandingan Peradaban Islam dan Eropa
Seperti kembali ke abad ke-10 Masehi (ke-4 Hijriah) dan terbang menyusuri kota-kota dunia Islam dan kota-kota dunia Barat, kita akan terkaget-kaget melihat perbedaan besar antara kedua dunia itu. Kita akan tercengang melihat sebuah dunia yang penuh dengan kehidupan, kekuatan dan peradaban, yakni dunia Islam, dan sebuah dunia lain yang primitif, sama sekali tidak ada kesan kehidupan, ilmu pengetahuan dan peradaban yakni dunia Barat. Marilah kini kita bandingkan kota-kota di dunia itu. Kita mulai dengan dunia Barat untuk melihat bagaimana kehidupan penduduknya, keluasan kota-kotanya dan martabat orang-orangnya.

1. Keadaan dunia Eropa yang Primitif
Dalam buku sejarah umum karya Lavis dan Rambou dijelaskan bahwa Inggris Anglo-Saxon pada abad ke-7 M hingga sesudah abad ke-10 M merupakan negeri yang tandus, terisolir, kumuh, dan liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tidak dipahat dan diperkuat dengan tanah halus. Rumahnya dibangun di dataran rendah, berpintu sempit, tidak terkunci kokoh, dan dinding serta temboknya tidak berjendela. Wabah-wabah penyakit berulang-ulang berjangkit, menimpa binatang-binatang ternak yang merupakan sumber penghidupan satu-satunya. Tempat kediaman dan keamanan manusia tidak lebih baik dari hewan.

Pada masa itu Eropa penuh dengan hutan-hutan belantara. Sistem pertaniannya terbelakang. Dari rawa-rawa yang banyak terdapat di pinggiran kota, tersebar bau-bau busuk yang mematikan. Rumah-rumah di Paris dan London dibangun dari kayu dan tanah yang dicampur dengan jerami
dan bambu (seperti rumah-rumah desa kita setengah abad yang lalu). Rumah-rumah itu tidak berventilasi dan tidak punya kamar-kamar yang teratur.

Mereka tidak mengenal kebersihan. Kotoran hewan dan sampah dapur dibuang di depan rumah sehingga menyebarkan bau-bau busuk yang meresahkan, tidak ada lampu penerangan di jalanan.
Begitulah keadaan bangsa Barat pada abad pertengahan sampai abad ke-11 Masehi, menurut pengakuan para sejarawan mereka sendiri.

2. Dunia Islam Abad Pertengahan
Kini marilah kita beralih ke Timur, ke kota-kota besar Islam seperti Baghdad, Damaskus, Cordoba, Granada, dan Sevilla marilah kita tengok kota-kota di Andalusia yang bertetangga dengan Eropa.
Cordoba adalah ibukota Andalus. Malam hari kota itu diterangi lampu-lampu sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya dialasi dengan batu ubin. Sampah-sampah disingkirkan dari jalan-jalan.

Cordoba dikelilingi taman-taman yang hijau. Orang yang berkunjung ke sana biasanya bersenang-senang terlebih dahulu di kebun-kebun dan taman-taman itu sebelum sampai di kota. Penduduknya lebih dari satu juta jiwa (pada masa itu kota terbesar di Eropa penduduknya tidak lebih dari 25.000 orang). Tempat-tempat mandi berjumlah 900 buah dan rumah-rumah penduduknya berjumlah 283.000 buah. Gedung-gedung sebanyak 80.000 buah, masjid ada 600 buah dan luas kota Cordoba adalah delapan farsakh (30.000 hasta).

Masyarakat di situ semua terpelajar. Di pinggiran kota bagian timur terdapat 170 orang wanita penulis mushaf dengan Khat Kufi. Di seluruh Cordoba terdapat lima puluh rumah sakit dan delapan puluh sekolah. Orang-orang miskin menuntut ilmu secara cuma-cuma.

Adapun mesjidnya sampai sekarang bekas-bekasnya masih merupakan bukti abadi dalam seni dan kreasi. Tinggi menaranya 40 hasta dengan kubah yang menjulang berdiri di atas batang-batang kayu berukir yang ditopang oleh 1.093 tiang yang terbuat dari berbagai macam marmer. Di malam hari masjid itu diterangi dengan 4.700 buah lampu yang setiap tahun menghabiskan 24.000 liter minyak. Di sisi selatan masjid tampak 19 pintu berlapiskan perunggu yang sangat menakjubkan kreasinya, sedang di pintu tengahnya berlapiskan lempengan-lempengan emas. Di sisi sebelah timur dan barat juga tampak 9 buah pintu yang serupa. Menurut sejarawan barat mihrabnya merupakan fenomena paling indah yang terlihat mata manusia. Tidak ada dalam peninggalan manapun (entah klasik atau modern) yang melebihi keindahan dan keagungannya.

Di Cordoba terdapat istana az-Zahra yang abadi dalam sejarah karena nilai seni dan kecanggihannya. Kubu-kubu bangunan itu berdiri di atas 4.316 tiang yang terbuat dari berbagai macam marmer yang terukir secara sistematis. Lantainya beralaskan batu-batu marmer yang berwarna-warni dengan formula yang indah. Dinding- dindingnya dilapisi lempengan-lempengan lazuardi keemasan. Di serambi-serambinya terdapat mata air. Air tawar yang memancar dan tertuang ke kolam-kolam yang terbuat dari marmer putih beraneka bentuk, kemudian bermuara ke sebuah kolam di kamar khalifah. Di bagian tengah kolam ini terdapat angsa emas yang di kepalanya bergantung sebutir mutiara. Ikan-ikannya beraneka macam dalam jumlah ribuan ekor. Roti-roti yang dilemparkan ke situ sebagai makanan ikan-ikan itu mencapai 12.000 potong setiap hari.

Di istana az-Zahra terdapat majelis bernama Qashrul Khalifah (semacam istana kepresidenan). Langit-langit dan dinding-dindingnya terbuat dari emas dan marmer tebal yang jernih warnanya dan beraneka macam jenis. Di bagian tengahnya terdapat sebuah kolam besar yang penuh dengan air raksa. Di setiap sisi mejelis terdapat delapan pintu melengkung yang terbuat dari gading dan kayu jati yang dihias dengan emas dan macam-macam permata yang berdiri tegak di atas lantai marmer berwarna dan Kristal jernih. Matahari masuk melalui pintu-pintu itu dan sinarnya jatuh mengenai bagian tengah majelis dan dinding-dindingnya sehingga terpancar dari situ sinar yang sangat menyilaukan.

An-Nasir jika ingin menakut-nakuti salah seorang anggota majelisnya ia memberikan isyarat kepada pelayan agar menggerak-gerakkan air raksa di kolam sehingga tampak dalam majelis itu kilauan sinar seperti kilat yang mengiriskan hati. Bahkan setiap orang dalam majelis mengkhayalkan mereka telah diterbangkan oleh tempat itu selama air raksa bergerak-gerak.

Istana az-Zahra dikelilingi taman-taman yang hijau dan lapangan-lapangan yang luas. Di samping itu ada tembok besar yang melingkupi bangunan menakjubkan yang memiliki 300 benteng pertengahan. Az-Zahra berisikan rumah kediaman Khalifah, para Amir, dan keluarga. Ruangan-ruangan besar untuk singgasana raja terletak di sebuah tempat yang diberi nama Assatul Mumarrad yang memiliki kubah dengan bahan baku emas dan perak.

Di dalam az-Zahra terdapat gedung-gedung industri dan peralatan seperti gedung industri alat perang, gedung industri busana hias, gedung industri seni pahat, ukir dan patung, dan lain sebagainya.
Pembangunan az-Zahra memakan waktu 4 tahun. Rata-rata batu yang dipahat setiap hari sebanyak 6.000 buah di samping batu-batu yang dipakai untuk pengerasan lantai. Buruh yang bekerja di situ berjumlah 10.000 orang setiap hari, dibantu oleh 1.400 ekor bagal, dan setiap hari dipasok 1.100 muatan bata dan gamping.

Adapun pembangunan masjid az-Zahra setiap hari dikerjakan oleh 1.000 orang tukang ahli yang terdiri dari 300 orang tukang batu, 200 orang tukang kayu, dan 500 orang buruh berikut tukang-tukang lainnya. Pembangunan itu dirampungkan hanya dalam tempo 40 hari. Ini sebuah prestasi kerja kilat yang hampir tak ada bandinganya.

Di istana agung inilah Khalifah al-Mustansir (tahun 351 H) menyambut Raja Spanyol Kristen, Ardoun Alfonso. Ketika memasuki az-Zahra, raja Spanyol itu tercengang melihat kemegahan dan keagungan istana tersebut, begitu pula ketika melihat para pelayan, laskar dan senjata-senjatanya. Ia lebih tercengang lagi tatkala berada di majelis (singgasan) Khalifah al-Mustansir. Ia melihat khalifah didampingi para bangsawan, pembesar kerajaan, tokoh-tokoh ulama, khatib dan panglima-panglima besar.

Seperti halnya Cordoba begitupun Granada, Sevilla, Baghdad dan negara-negara islam lainnya, kemajuan dan kecanggihannya jauh lebih hebat lagi. Itulah hasil sistem pendidikan yang dicanangkan oleh Rasulullah saw.

<Ustadz Edi Abu Marwa>

One thought on “Sistem Pendidikan Rasulullah Melahirkan Peradaban Tinggi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *