Naik Level Puasa: Bekal Persiapan Ramadhan dari Aa Gym

Materi ini disampaikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar pada saat Kajian Tauhiid di Masjid Baitul Ihsan (23/4)

Aa Gym di Kajian Tauhiid BI

Naik Level Puasa

يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman, 55: 29).

Menciptakan, mematikan, menghidupkan, meniadakan, memberikan sakit

Tidak ada satupun yang terjadi kecuali dengan kekuasaan Allah SWT, dan do’a adalah salah satu yang Allah sukai dari hamba-hambaNya yang bisa mengubah dari satu takdir ke takdir lain.

Ada rumus: Gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan kegagalan.

Kita sudah tahu keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, tapi kita harus evaluasi, mengapa setiap Ramadhan hanya seperti sebuah rutinitas, sehingga daya ubah-nya kurang. Kita coba sekarang ramadhan kita tidak hanya shaum perut, tapi shaum organ yang lainnya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS.  Al Baqarah: 185)

Cek Level Ibadah Kita: Jangan dijadikan sekedar rutinitas

Jamaah Kajian Tauhiid BI

Jamaah Kajian Tauhiid BITidak ada satupun yang lebih mencintai kita selain pencipta kita. Allah memberikan perintah/kewajiban (kalau dalam kitab Al Hikam) karena Allah mewajibkan kita ke syurga. Semua kewajiban-kewajiban itu mutlak hanya untuk kita. Supaya kita bahagia, mulia, dan selamat dunia akhirat.

Allah menyuruh kita shalat, sama sekali Ia tidak memerlukan shalat kita. Tapi kitalah yang memerlukan shalat. Jika shalatnya baik, maka shalat itu akan menjadi kebaikan; bagi lahir, batin, dan jiwa kita; bagi dunia dan akhirat. Maka jika shalat kita bermasalah, hidup kita bermasalah.

Shalat tepat pada waktunya adalah amal yg dicintai Allah. Tetapi mengapa ada yang shalat namun masih maksiat? Berarti shalatnya kurang bagus. Karena shalat itu ada manfaat pencegahannya.
Cek Shalatnya.
Mungkin niatnya kurang benar, atau mungkin bacaan tidak mengerti, atau hanya sebagai rutinitas.

Cek shaum juga. Jangan dijadikan rutinitas.
Kita coba hal ini, tetapi jangan menunggu ramadhan nanti, dicicil dari sekarang. Siapa tahu umur kita tidak sampai ramadhan tidak hidup.

Dan persiapan ini dilakukan agar Allah menjamu kita di bulan Ramadhan (dengan karuniaNya) seperti menjamu tamu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Perintah shaum ini adalah agar kita mencapai derajat taqwa. Karena orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang palong bertakwa.

Shaum yang seperti apa kira-kira yang bisa membuat kita meraih derajat taqwa?

  • Kalau shaum perut sepertinya sudah biasa. Mungkin bisa ditingkatkan levelnya dengan tidak lapar mata ketika berbuka.
  • Shaum Mata. Maksiat sangat mudah diakses dengan gadget. Jaga pandangan. Hindari maksiat dalam kesendirian. Perbaiki interaksi dengan Qur’an. Kurangi sosial media. Tidaklah qur’an turun kecuali membuat baik dan mulia. Qur’an turun melalui Jibril yang menjadikannya Malaikat termulia. Qur’an turun kepada Rasulullah Muhammad SAW yang menjadikannya Rasul termulia. Qur’an turun untuk kita yang menjadikan kita umat terbaik dan termulia. Ramadhan menjadi bulan terbaik karena turunnya qur’an. Demikian rasakan bedanya kalau mata yang selalu akrab dengan qur’an maka akan menjadi mata yang selalu terjaga. Demikian juga dengan hati yg selalu terikat dengan qur’an maka akan menjadi hati yang terbaik, demikian pula hari-hari kita akan menjadi hari-hari terbaik karena Qur’an.
  • Shaum telinga. Jangan terlalu sengaja mendengar semuanya dan mengorek-orek kesalahan orang lain. Teladan dari Syekh Ali: Suatu saat ada seseorang yang ingin memberitahukan kepada beliau tentang orang yang berbicara kurang baik tentang beliau. Namun Syekh Ali tidak mau mendengarnya. Menurutnya, kebaikan baginya adalah asal hatinya bersih dan jauh dari dengki.
Ingat Allah

Ingat Allah dalam segala apapun
Termasuk saat pilkada dan pilpres. Jangan dipikir tidak ada Allah. Jangan sampai tidak ingat Allah. Jangan sampai hanya mikir kampanye, usaha, dll.

Karena Allah-lah yang Maha Memberikan kekuasaan

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِك الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَ تَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَ تُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَ تُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ‏ِ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Q.S Ali Imran:26

Kita ciptaan Allah, maka latih mulai sekarang: tiap pikir jadi dzikir.

Orang Islam yang berdosa biasanya ditutup dulu aibnya sama Allah supaya bisa taubat. Tidak ada yang jago menyembunyikan maksiat. Yang ada cuma 1: Allah masih menutupi, dibuka aibnya oleh Allah, atau suul khotimah.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Pilihannya hanya ada dua: berkata baik atau diam. Bicara terkuat bukan dengan kata-kata melainkan dengan akhlak dan perbuatan.

Tidak usah memaksakan kelihatan pintar, hebat, dan serba tahu, yang penting tahu dan benar-benar mendalam. Tidak usah dipamerkan.

Jangan merokok.

Tidak terbayang jika Rasulullah melakukan kesia-siaan tersebut. Terbayang tidak, jika di zaman tersebut ada rokok, apakah Rasulullah, para sahabat: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali akan merokok? Terbayang tidak ulama-ulama besar (Imam Malik, Imam Hanafi, imam Nawawi, Imam Syafi’i) merokok?

Jamaah Kajian Tauhiid BI
Jangan terlalu melekat kepada makhluk.

Tingkat kemelekatan (dan kesakitan ketika barang/makhluk itu ditarik) berbanding lurus dengan menyekutukan benda/makhluk tersebut dengan Allah. Aa selalu dinasihati oleh guru Aa: pantangan terbesar adalah jangan berharap pada makhluk.
Oleh karena itu Sahabat periksa diri: jangan sampai terlalu banyak memikirkan selain Allah.

Muhasabah: apa saja yang selama ini melekat, gempur dengan istighfar dan dzikrullah
Harus ada mujahadah untuk itu.

Berdo’alah
“Allahumma innaa na’udzubika min annusyrika bika syay’an na’lamahu wa nastaghfiruka limaa laa na’lamuhu”

(Ya Allah kami berlindung pada Engkau dari syirik terhadap Engkau yang kami sadari, dan kami memohon ampun dari sesuatu yang kami tak ketahui)

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik” (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

 

Hal ini penting, karena Allah melihat hati dan amal. Mari kita jadikan shaum ini melewati shaum perut, tapi juga shaum mata, shaum telinga, shaum mulut, dan shaum keinginan.

(Humas DT Jakarta)