USTADZ KOMARUDIN CHALIL. M.Ag

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ   ۙ  قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

(Q.S. Al-Baqarah : 155 – 156)

Karena kehidupan adalah perpindahan dari ujian ke ujian berikutnya. Setiap kita pasti memiliki ujian ataupun masalah. Sebab itu adalah sebuah kepastian, maka dari itu jangan pernah lari dari ujian. Jangan juga kita salah saat berdoa, karna banyak dari kita berdoa pada Allah “Ya saya capek atas masalah ini dan itu, jauhkan lah saya dari masalah, saya sudah tidak kuat dan tidak tahan ya allah”. Kehidupan itu ujian kan? Maka yang tidak ingin masalah dan ujian berarti dia tidak menginginkan kehidupan. Berdoalah agar Allah selalu berikan kita kekuatan atas segala ujian yang ada, dan minta lah pada Allah untuk di permudah atas segala ujian. Sisanya serahkan pada Allah, karna Allah tidak akan menimpahkan ujian di luar batas kemampuan hambanya.

Tugas kita bukan takut dan lari dari ujian atau masalah, tapi tugas kita adalah mendekatkan diri pada Allah. Setiap ada ujian dan masalah, lari ke Allah. Dekatkan diri kepada Allah dan berserah dirilah kita kepada Allah.

Kenapa Allah ciptakan rasa takut? Yaitu untuk kita mendekatkan diri pada allah. Jadi semakin kita takut, maka semakin kita dekat pada Allah. Begitulah Islam “Laa Ilaha Illallah” tidak ada daya dan upaya melainkan kekuatan Allah.

Mulai saat ini kita harus berkawan dengan ujian atau masalah. Kuncinya ialah ikhlas dan ridho di atas ujian ataupun masalah apapun yang Allah berikan pada kita.

Hujan datang bisa menjadi masalah saat kita tidak terima, saat kita tidak ikhlas dan tidak ridho atas ketentuan Allah. “Kenapa hujan ini datang, padahal saya kan baru cuci kendaraan. Atuh nyusahin wae nih hujan” Ini adalah tanda tidak ikhlas dan tidak ridhonya manusia kepada ketentuan Allah. Padahal ketika kita mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada, akan terasa nikmat di hati. “Alhamdulillah hujan, tumbuhan jadi dapat asupan, tukang payung laku, tukang cuci kendaraan laku”. Begitulah ketika kita mensyukuri segala ketentuan Allah.

“Siapa hambaku yang tidak sukur dengan ketentuanku, dengan segala keputusanku. Maka carilah tuhan selain aku” (Hadis Qudsi)

Maukah kita di hempaskan Allah? Di husir oleh Allah untuk mencari tuhan selain Allah? Jika tidak ingin, maka dari itu sudah selayaknya kita ridho dan ikhlas atas ketentuan Allah, kita cari hikmah atas semua yang ada. Saat ikhlas dan ridho menghadapi ujian atau masalah, kita juga perlu sabar di atas itu semua. Karna tidak sedikit dari kita yang tidak sabar saat melewati ujian atau masalah yang Allah berikan. Ada seorang anak yang setiap hari pergi kesekolah bersama ayahnya. Saat sampai di sekolah, ayahnya selalu memeluk dan mencium sang anak, sebagai bentuk kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak kini sudah memasuki sekolah menengah pertama. Begitu dia pergi ke sekolah dengan ayahnya dan sampai di depan gerbang sekolah, sang ayah memeluk si anak. Sontak si anak tadi berkata pada ayahnya “ayah, aku kan sudah besar. Sudah seharusnya ayah tidak memeluk dan menciumku lagi. Aku ini sudah besar ayah”. Ayahnya hanya bisa tersenyum menatap anaknya. Ke esokan harinya juga sama, begitu sampai di depan gerbang sekolah ayahnya hendak memeluk si anak. Anak itu lantas membentak ayahnya “Ayah! Aku kemarin kan sudah bilang, aku ini sudah besar ayah. Mulai hari ini dan seterusnya, jangan ayah peluk peluk aku lagi!!!”. Sang ayah hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada anaknya sebagai tanda sayang ayah pada anaknya. Lalu anak itu tersadar, bahwa kali itu adalah pelukan dan lambaian tangan dari ayahnya yang terakhir kalinya. Karna Allah telah memanggil sang ayah untuk menghadap Allah.

Begitulah ketika kita tidak ikhlas dan tidak ridho atau tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Di dalamnya juga terdapat ketidak sabaran sang anak kepada ayahnya. Maka dari itu nikmatilah setiap moment apapun dalam hidup kita dengan ikhlas, ridho, bersyukur dan sabar.

Ketika kita sekolah dan dapat melewati ujian, kita akan mendapat nilai dan dapat meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ketika nilai itu tinggi, maka kita akan mendapat penghargaan dari sekolah. Begitupun ujian dari Allah. Saat kita dapat melewati ujian dengan benar, setiap ujian yang datang menjadikan kita dekat pada Allah. Maka pada waktu yang sama Allah telah menyiapkan penghargaan berupa derajat yang tinggi di sisi Nya. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang dengan derajat yang tinggi di sisi Allah.

Aamiin… Yaa Robbal’alamiin…

(wildan)

pict from : www.suaraislam.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *