Sahabat yang baik,
Apa yang membedakan pecinta sejati dengan pecinta palsu? Pengorbanan-lah pembedanya. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang ia berikan untuk sesuatu yang dicintainya. Sejarah orang-orang mulia menunjukkan bahwa cinta dan pe-ngorbanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dan kita pun terlahir kedunia karena pengorbanan hidup dan mati ibunda kita mengandung dalam lemah dan berat serta melahirkan dalam sakit dan kepayahan.

Sahabat yang penuh cinta,
Bercerminlah dari sahabat Abu Bakar Shiddiq. Pembelaannya terhadap Rasulullah saw demikian hebatnya. Kecintaannya sungguh besar. Saat situasi genting menjelang hijrah Rasulullah saw. ke Madinah, Abu Bakar -semoga Allah meridhoinya- tampil dengan segala pe-ngorbanan. Ia membersamai Rasulullah saw dengan segala risiko, menjadi tameng Rasulullah saw. dari segala kemungkinan buruk yang direncanakan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ia korbankan pula seluruh hartanya. Bahkan ia kerahkan anggota keluarganya untuk menolong dakwah Islam. Apa yang beliau lakukan itu sesuai dengan ungkapannya sendiri, “Hal yanqushud-dinu wa ana hayyun” (Tidak boleh Islam berkurang sementara saya masih hidup).

Sahabat,
Seorang da’i bernama Hasan Al Banna menyeru jalan kebangkitan dan salah satu pilarnya adalah pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran.

Mari belajar kepada seorang sahabat bernama Basyir Bin Al-Khashashiyyah. Ia datang kepada Rasulullah saw. untuk berbai’at atas Islam. Rasulullah saw. mensyaratkan kepadanya untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah abdi dan utusan-Nya; melaksanakan shalat lima waktu; berpuasa di bulan Ramadhan; mengeluarkan zakat; menunaikan haji; dan berjihad di jalan Allah. Mendengar itu semua, Basyir menyahut, “Ya Rasulullah, yang dua hal (terakhir itu), saya tidak mampu. Tentang zakat, saya tidak punya harta selain sepuluh ekor unta. Dan itu adalah andalan dan kendaraan keluarga saya. Sedangkan tentang jihad, saya dengar orang-orang mengatakan bahwa siapa yang lari dari medan jihad maka ia akan mendapatkan murka Allah. Dan saya memang orang yang penakut.” Mendengar itu Rasulullah menarik kembali tangannya kemudian menggerak-gerakkannya seraya mengatakan, “Wahai Basyir, tanpa shadaqah dan tanpa jihad? Lalu dengan apa kamu akan masuk surga?” Basyir akhirnya menjawab, “Jika demikian, saya berbai’at untuk semua itu.” (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al- Baihaqi, dan lain-lain)

Di momen yang lain, saat kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Quraisy dalam perang Badar, Rasulullah saw. mengatakan kepada para sahabat, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Demi mendengar kalimat itu, ‘Umair bergumam, “Surga seluas langit dan bumi? Wah, wah!” Mendengar itu Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang membuatmu mengucapkan kata itu?” ‘Umair menjawab, “Tidak apa-apa, saya cuma ingin termasuk penghuninya.” Rasulullah saw. menjawab, “Ya kamu termasuk penghuninya.” ‘Umair yang tengah memakan kurma pun lantas berkata, “Sungguh terlalu lama bila saya harus menunggu habisnya kurma ini.” Maka ia pun meletakkan kurma-kurma di tangannya lalu menyeruak masuk ke tengah barisan musuh untuk bertarung hingga mati syahid. (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

Sahabat,
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) bagaikan pohon yang baik. Akarnya menghujam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Tuhannya.” (Q.S. Ibrahim: 25)
Pengorbanan generasi-generasi terdahulu telah ditorehkan. Atas izin Allah, dengan pengorbanan mereka, keindahan Islam menyebar ke tengah manusia, menyebarkan cahaya dan membuat berbondong-bondong manusia mendapatkan cahaya hidayah.
Lalu, apa pengorbanan kita?

Ust. H.M. Hari Sanusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *