Menapaki Jalan Cinta, Menuju Cinta Allah

Ustadz Taufiq Al Miftah

Cinta adalah anugrah yang Allah berikan kepada hambanya. Siapapun butuh dengan yang namanya cinta. Bukan hanya sekedar mencintai ataupun dicintai, namun yang terpenting adalah bagaimana cara mencintai dengan cara yang benar. Sebab banyak sekali orang yang di anugrahkan cinta kepada dirinya, tetapi cinta itu di arahkan kepada hal-hal yang Allah haramkan. Na’uzubillah….

Tidak ada manusia yang meninginkan rasa mencintai namun tidak di cintai. Karna fitrah manusia adalah ingin mencintai dan juga di cintai. Cinta di dunia bersifat fana dan dia pastinya tidak abadi. Tetapi sebuah cinta akan menjadi kokoh, kuat dan abadi apabila di ikat dengan ikatan yang Maha Abadi yaitu Allah Subhanahu Wata’ala. Seperti halnya aktifitas apapun di dunia yang bersifat mubah pasti tidak akan abadi di akhirat nanti. Beda halnya dengan seseorang yang datang kepada kajian ilmu atau seseorang melakukan aktifitas apapun yang mendekatkan diri pada Allah, maka itu akan abadi di akhirat nanti sebab aktifitas itu di ikat dengan ikatan yang Maha Abadi. Itulah sesuatu apapun di dunia yang bersifat tidak abadi tetapi ketika di ikat dengan yang Maha Abadi, maka dia akan menjadi abadi.

Harta juga hal yang tidak abadi. Seperti banjir pada awal tahun kemarin, banyak sekali mobil dan barang lainnya yang hanyut serta hilang terbawa air. Tetapi jika harta di ikat dengan yang Maha Abadi, seperti halnya harta yang di sumbangkan dan di infaq kan untuk membantu masjid, membantu orang miskin, membantu duafa, maka harta itu terikat dengan ikatan yang Maha Abadi dan harta itu kelak menanti di akhirat.

Ali Bin Abi thalib karomahu wajhah beliau menerangkan ” Barang yang disedekahkan apa bila telah lepas dari tangan sang pemberi sedekah, ketika akan diterima oleh tangan orang yang menerimanya,  ia akan mengucapkan lima kalimat ” :

  1. Aku adalah barang yang kecil dan sedikit nilainya, sekarang engkau telah membesarkan aku dihadapan Allah SWT.
  2. Aku awalnya adalah Barang yang sedikit, tak begitu bernilai, sekarang karenamu aku telah jadi bernilai banyak di hadapan Allah SWT.
  3. Pada Awalnya Aku adalah musuhmu , sekarang aku telah menjadi sahabat karibmu.
  4. Semula aku adalh barang yang mudah rusak, tapi sekarang karenamu aku menjadi barang yang abadi.
  5. Dulu akulah yang engkau jaga dari para pencuri , sekarang kau akan kujaga dari siksa api neraka dan siksa kesusahan dan kesempitan.

Begitu juga dengan suami dan istri jika cintanya di ikat karna parasnya cantik atau ganteng, maka sudah pasti cinta itu tidak akan abadi. Sebab kecantikan akan sirna di telan usia. Apabila cinta di ikat karna nasab atau keturunan juga akan menjadi sia-sia. Jadi, jika seandainya sekarang kita memiliki cinta maka arahkan cintanya kepada cinta yang benar. Sebab cinta adalah anugerah dari Allah dan cara kita mensyukuri karunia Allah berupa cinta, cinta ini jagan salah di jatuhkan. Jangan sampai cinta kita ini menjerumuskan kepada azab api neraka.

Kesalahan kita yang sering kita lakukan adalah tidak mengikat cinta kita kepada sandaran cinta karena Allah. Kita memiliki harta tidak di ikat dengan cinta kepada Allah, kita punya keluarga tidak di ikat dengan cinta kepada Allah, kita punya ilmu tidak di ikat dengan cinta kepada Allah, kita punya jabatan tidak di ikat dengan cinta kepada Allah, sehingga semua itu tidak ada manfaatnya dan semuanya akan sia-sia. Jadi jika kita ingin memiliki segalaya yang ada di dunia ini, maka dekati Allah karena Allah pemilik segalanya. Cintai Allah, kita akan memiliki segalanya. Tetapi ketika kita tidak mencintai Allah di atas segalanya, maka kita akan kehilangan segalanya.

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” ( Q.S . Al-Baqarah : 165 ) Ayat ini menggambarkan bahwa di antara manusia ada yang menyembah selain daripada Allah. Yang di sembah bukanlah Allah dan mereka membuat tandingan-tandingan Allah. Mungkin ada berhala, mungkin jabatannya menjadi tandingan bagi Allah, atau mungkin hartanya atau juga mungkin popularitasnya. Mereka menyembah tandingan Allah itu dengan mereka mencintai semua itu seperti mereka mencintai Allah. Kita harus selalu berhati-hati perihal cinta kepada Allah dan tidak boleh menyamakan cinta kita kepada Allah dengan cinta kita kepada makhluk. Menyamakan cintanya kepada Allah dan cintanya kepada makhluk saja tidak boleh dan akan menjadikan kehidupan kita goyah. Apa lagi kita lebih mencintai makhluk daripada Allah, maka sudah bisa di pastikan akan hancur kehidupannya.

(wildan)

Ya Allah, kami bersaksi Engkaulah Tuhan Kami

Allah, kami bersaksi Engkaulah Tuhan kami

Sebelum manusia lahir ke muka bumi ini, Allah SWT menanyai ruh manusia tentang kesiapan  mereka mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya di alam rahim. Ruh – ruh manusia menjawab bahwa mereka bersaksi tiada Tuhan  selain Allah yang berhak manusia sembah . Tentunya tidak ada manusia yang mengingat akan hal itu. Meskipun demikian, Allah telah mengabadikan perjanjian yang manusia lakukan kepadaNya dalam  Al Quran surat Al Araf sebagai berikut.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap (ketauhidan) ini” (QS. Al-A’raf: 172)

Saat lahir ke dunia ini, bayi dalam  keadalaan fitrah (suci). Fitrah adalah  jiwa yang suci yang menjelma dalam tauhid, ketundukan dan penghambaan, serta memelihara kesucian diri sebagai hamba Allah SWT.  Fitrah merupakan ketentuan Allah (Sunnatullah) yang melekat pada diri manusia. Sunatullah yang yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian dan bisa dijadikan potensi dasar. Potensi dasar yang menggerakkan manusia menuju ke arah tujuan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

 “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah fitrah Allah. Yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya( Q.S Ar-Rum : 30)

Fitrah manusia  bukanlah satu-satunya potensi yang dimiliki, karena manusia juga memiliki potensi nafsu yang memiliki kecenderungan pada kejahatan. Untuk itu manusia perlu menjaga fitrahnya agar tidak terpedaya hawa nafsu.

Seorang muslim yang memelihara fitrahnya maka  akan selalu mengokohkan ketauhidah. Tidak menjadikan segala sesuatu selain Allah sebagai sumber pengharapan. ia pun akan memelihara komitmennya dalam beribadah, diantaranya :

1.      memelihara shalat yang diwajibkan kepadanya dan melengkapinya dengan shalat-shalat sunnah

2.       menjalankan  puasa wajib, ia juga melengkapinya dengan puasa-puasa sunnah.

3.      Mengeluarkan zakat dan menyempurnakannya dengan infak dan sedekah.

4.      Melaksanakan haji ke Baitullah dan menyempurnakannya dengan umrah.

Dengan  terus mengokohkan ketauhidan,  istiqomah dalam beribadah dan menegakkannya secara sempurna, seorang muslim In Sya Allah  akan terpelihara fitrah kesuciannya.