Jurnal Syukur

SOLVER HM. HARI SANUSI

Allah banyak memberikan nikmat kepada kita, namun selalu saja kita mengeluh akan ujian yang allah berikan kepada kita. Apapun yang sudah kita jalani, apapun yang sedang kita jalani dan apapun yang akan kita jalani itu sudah tercatat di lauhul mahfuz. Tinggal kita saja yang harus memilih ingin melewatinya dengan keluh kesah, atau dengan cara selalu senang dan mensyukuri apapun yg ada pada diri kita. Jadikan setiap apa saja yang ada pada diri kita menjadi imun untuk iman kita. Ada kejadian menyenangkan atau menyusahkan pada kita, semua itu sama saja untuk selalu menikmati dan menjadikan kita selalu bersyukur pada allah.

Terkadang kita ketika ingin pergi ke kantor, pergi ke luar rumah akan resah saat handphone kita tertinggal, dan kita tidak ragu untuk kembali ke rumah mengambil handphone yang tertinggal. Apakah pernah kita merasakan hal yang sama saat al quran kesayangan kita tertinggal pada saat keluar rumah?

Tabungan yang kita miliki di dunia selalu kita catat dan selalu kita perhitungkan, selalu kita tambah dan tambah terus setiap harinya. Sudahkah kita memperhitungkan tabungan kita untuk di akhirat? Sudahkan kita untuk selalu menambahkan tabungan akhirat kita?

Kita selalu menikmati hiburan yang ada di televisi, menikmati hiburan yang ada di handphone, dan kadang kita sanggup berlama lama untuk menikmati hiburan tersebut. Sudahkah kita menikamti untuk berlama lama pada kajian ilmu? Menikmati untuk membaca al quran dan berlama lama saat bermesraan dengan al quran?

Jadikan setiap kegiatan kita untuk taqorub, yakni mendekati diri kita pada Allah.

Begitupun perilaku kita kepada sesama makhluk allah. Jadikan setiap hubungan kepada manusia menjadi pendekatan kita pada Allah. Bukan hanya kepada manusia, namun kepada tumbuhan, hewan, dan seluruh makhluk Allah yang Allah ciptakan. Kepada tumbuhan jangan kita rusak, kepada hewan jangan kita usik dan jika kita melihat hewan yang butuh pertolongan kita maka kita harus bersegera menolong hewan tersebut. Sebab boleh jadi pertolongan yang kita berikan pada hewan, akan menjadikan penolong bagi kita di akhirat. Seperti hal nya seorang wanita pezinah yang melihat anjing kehausan, dan bersegera wanita menggunakan sepatunya untuk mengambil air dan di berikan kepada anjing yang kehausan tadi. Lantas Allah maha melihat dan maha mengetahui bahwa makhluknya di tolong wanita tersebut dengan ikhlas, maka allah mudahkan wanita itu masuk kedalam surganya Allah.

Hewan saja yang tidak memiliki akal dapat menjadi asbab kita di tolong Allah. Apalagi saat kita menolong kepada makhluk Allah yang memiliki akal, yaitu manusia. Saat kita duduk di kereta dan melihat orang tua atau wanita hamil yang berdiri, lantas kita pura pura untuk tidak melihat dan tidak mengetahui. Padahal saat kita memberikan tempat duduk kita kepada orang tua tersebut atau wanita hamil. Allah melihat dan mengetahui perbuatan kita, maka akan mudah pertolongan Allah untuk datang kepada kita.

Begitulah hati kita yang selalu berubah ubah. Terkadang berhadap pada Allah, terkadang berhadap pada dunia, berhadap pada manusia, dan selalu berubah ubah arahnya. Sudah saatnya kita selalu menghadapkan hati kita pada allah. Ketika hati ini berpaling pada Allah, maka sesegera mungkin kita kembalikan hati ini untuk berhadap dan berharap pada Allah. Ketika ada orang yang berhutang pada kita dan hati ini berhadap pada dunia, maka kita akan selalu mengingat hutang itu. Ingat kapan tanggal tagihan hutang tersebut dan selalu menagih hutang itu. Tetapi saat hati berhadap pada Allah, maka hutang itu akan menjadi amal sedekah bagi kita selama hutang itu belum di bayar.

Memang hati ini begitu cepat untuk memalingkan hadapan daripada Allah kepada yang lain. Pagi hari kita niat untuk bersedekah 50.000. Begitu menjelang sholat menjadi 20.000. Dan begitu kita di hadapan kotak amal, lantas 2.000 yang kita masukan ke kotak amal itu. Sebelum membaca quran kita niat untuk membaca 1 juz. Saat quran sudah di tangan niat membaca menjadi ½ juz. Lantas saat membaca al quran beberapa ayat, fikiran sudah kemana mana dan tidak fokus. Maka dari itu sudah sepantasnya kita menjaga hati ini agar selalu bersih, terhindar dari penyakit. Nyalakan alarm saat hati berpaling dari Allah. Maka dengan memaksimalkan usaha kita menghadapkan hati pada Allah dan menyerahkan segalanya pada Allah. Dengan semua itu hidup kita selalu dalam ridho Allah.

Berkawan dengan Ujian

USTADZ KOMARUDIN CHALIL. M.Ag

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ   ۙ  قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

(Q.S. Al-Baqarah : 155 – 156)

Karena kehidupan adalah perpindahan dari ujian ke ujian berikutnya. Setiap kita pasti memiliki ujian ataupun masalah. Sebab itu adalah sebuah kepastian, maka dari itu jangan pernah lari dari ujian. Jangan juga kita salah saat berdoa, karna banyak dari kita berdoa pada Allah “Ya saya capek atas masalah ini dan itu, jauhkan lah saya dari masalah, saya sudah tidak kuat dan tidak tahan ya allah”. Kehidupan itu ujian kan? Maka yang tidak ingin masalah dan ujian berarti dia tidak menginginkan kehidupan. Berdoalah agar Allah selalu berikan kita kekuatan atas segala ujian yang ada, dan minta lah pada Allah untuk di permudah atas segala ujian. Sisanya serahkan pada Allah, karna Allah tidak akan menimpahkan ujian di luar batas kemampuan hambanya.

Tugas kita bukan takut dan lari dari ujian atau masalah, tapi tugas kita adalah mendekatkan diri pada Allah. Setiap ada ujian dan masalah, lari ke Allah. Dekatkan diri kepada Allah dan berserah dirilah kita kepada Allah.

Kenapa Allah ciptakan rasa takut? Yaitu untuk kita mendekatkan diri pada allah. Jadi semakin kita takut, maka semakin kita dekat pada Allah. Begitulah Islam “Laa Ilaha Illallah” tidak ada daya dan upaya melainkan kekuatan Allah.

Mulai saat ini kita harus berkawan dengan ujian atau masalah. Kuncinya ialah ikhlas dan ridho di atas ujian ataupun masalah apapun yang Allah berikan pada kita.

Hujan datang bisa menjadi masalah saat kita tidak terima, saat kita tidak ikhlas dan tidak ridho atas ketentuan Allah. “Kenapa hujan ini datang, padahal saya kan baru cuci kendaraan. Atuh nyusahin wae nih hujan” Ini adalah tanda tidak ikhlas dan tidak ridhonya manusia kepada ketentuan Allah. Padahal ketika kita mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada, akan terasa nikmat di hati. “Alhamdulillah hujan, tumbuhan jadi dapat asupan, tukang payung laku, tukang cuci kendaraan laku”. Begitulah ketika kita mensyukuri segala ketentuan Allah.

“Siapa hambaku yang tidak sukur dengan ketentuanku, dengan segala keputusanku. Maka carilah tuhan selain aku” (Hadis Qudsi)

Maukah kita di hempaskan Allah? Di husir oleh Allah untuk mencari tuhan selain Allah? Jika tidak ingin, maka dari itu sudah selayaknya kita ridho dan ikhlas atas ketentuan Allah, kita cari hikmah atas semua yang ada. Saat ikhlas dan ridho menghadapi ujian atau masalah, kita juga perlu sabar di atas itu semua. Karna tidak sedikit dari kita yang tidak sabar saat melewati ujian atau masalah yang Allah berikan. Ada seorang anak yang setiap hari pergi kesekolah bersama ayahnya. Saat sampai di sekolah, ayahnya selalu memeluk dan mencium sang anak, sebagai bentuk kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak kini sudah memasuki sekolah menengah pertama. Begitu dia pergi ke sekolah dengan ayahnya dan sampai di depan gerbang sekolah, sang ayah memeluk si anak. Sontak si anak tadi berkata pada ayahnya “ayah, aku kan sudah besar. Sudah seharusnya ayah tidak memeluk dan menciumku lagi. Aku ini sudah besar ayah”. Ayahnya hanya bisa tersenyum menatap anaknya. Ke esokan harinya juga sama, begitu sampai di depan gerbang sekolah ayahnya hendak memeluk si anak. Anak itu lantas membentak ayahnya “Ayah! Aku kemarin kan sudah bilang, aku ini sudah besar ayah. Mulai hari ini dan seterusnya, jangan ayah peluk peluk aku lagi!!!”. Sang ayah hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada anaknya sebagai tanda sayang ayah pada anaknya. Lalu anak itu tersadar, bahwa kali itu adalah pelukan dan lambaian tangan dari ayahnya yang terakhir kalinya. Karna Allah telah memanggil sang ayah untuk menghadap Allah.

Begitulah ketika kita tidak ikhlas dan tidak ridho atau tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Di dalamnya juga terdapat ketidak sabaran sang anak kepada ayahnya. Maka dari itu nikmatilah setiap moment apapun dalam hidup kita dengan ikhlas, ridho, bersyukur dan sabar.

Ketika kita sekolah dan dapat melewati ujian, kita akan mendapat nilai dan dapat meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ketika nilai itu tinggi, maka kita akan mendapat penghargaan dari sekolah. Begitupun ujian dari Allah. Saat kita dapat melewati ujian dengan benar, setiap ujian yang datang menjadikan kita dekat pada Allah. Maka pada waktu yang sama Allah telah menyiapkan penghargaan berupa derajat yang tinggi di sisi Nya. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang dengan derajat yang tinggi di sisi Allah.

Aamiin… Yaa Robbal’alamiin…

(wildan)

pict from : www.suaraislam.id

Gaya Hidup Sehat itu Pilihan Kita

Ustadz Fatih Karim

Apa yang terjadi di muka bumi ini adalah atas kehendak Allah SWT, termasuk bencana dan musibah yang menimpa. Kita sebagai makhlukNya hanya bisa menerima semua takdir yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Namun kita diberi kesempatan untuk berupaya menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Pada Kajian MQ Series yang diselenggarakan oleh DT Peduli di Menara 165 (11/1) lalu, Ustadz Fatih Karim menyampaikan bahwa salah satu penyebab bencana alam dan musibah yang menimpa kita adalah karena adab kita kurang terhadap lingkungan.

Berikut beberapa padangan Ustadz kelahiran 30 Juli 1979 ini ketika ditanya tentang upaya menjaga bumi dalam Islam.

Menurut Ustadz, apakah bencana-bencana alam yang terjadi salah satunya akibat dari perbuatan manusia yang kurang menjaga alam?

Iya betul, itulah yang disebut dalam Al-Qur’an

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S Ar Rum:41)

 Misalkan bencana banjir yang baru-baru ini kita alami. Itu juga adalah faktor manusia yang menyebabkannya. Pertama membuang sampah sembarangan, lingkungan yang tadinya seharusnya menjadi daerah resapan air dibangun perumahan dan gedung-gedung, pohon-pohon ditebangi sembarangan, pasir diambil sesuka hati, sehingga tidak lagi sesuai pada jalurnya sehingga terjadilah banjir di mana-mana.

Mengenai Go Green, bagimana pendapat Ustadz perihal beberapa lembaga dan komunitas dakwah dan masjid yang saat ini mencoba menerapkan konsep tersebut?

Alhamdulillah, kita bersyukur dengan masjid atau lembaga, majelis taklim, dan komunitas-komunitas sudah peduli kepada isu go green, dan memang seharusnya begitu. Islam mengajarkan kita bukan menjadi ummat yang cuek tetapi menjadi ummat yang peduli, apalagi kepada lingkungan dan alam sekitar. Meskipun masih banyak juga di antaranya yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga lingkungan.

Padahal Islam adalah agama yang sangat menjaga kebersihan. Bahkan kalau mengaku beriman harus menjaga kebersihan, karena kebersihan adalah sebagian tanda keimanan. Jadi kalau mengaku beriman, tentu kita harus bersih: bersih hatinya, bersih pikirannya, bersih majelis ta’limnya dan bersih semuanya.

Menurut Ustadz, selain mengurangi sampah plastik, apa lagi yang perlu kita lakukan agar bumi ini tetap terjaga?

Tentu selain menjaga kebersihan lingkungan kita mempertahannya, kita bisa kampanye untuk menanam pohon. Bayangkan, ada kisah bagaimana seorang Umar bin Khattab yang ketika ia menanam pohon kurma ditanya oleh sahabat yang lain; Untuk apa menanam pohon kurma nanti pohon itu besar ia sudah tiada. Nah, beliau kemudian berkata, “Aku tanam bukan untuk aku tapi generasi-generasi setelahku.” Bayangkan betapa besar perhatian Umar kepada generasi setelahnya.

Jadi bukan hanya membersihkan sampah, tapi kita bantu menanam pohon, membantu reboisasi (penghijauan), membantu kampanye untuk tidak merokok, mengurangi polusi udara, dan lain sebagainya.

Selain Go Green, belakangan juga banyak ajakan tentang pola hidup sehat. Bagaimana pola hidup sehat yang Ustadz lakukan sehari-hari?

Pola hidup sehat itu paling tidak ada tiga; yang pertama pola pikir

Pola pikir yang sehat adalah pola pikir yang hanya memikirkan perkara-perkara yang memang harus dipikirkan jadi tidak memikirkan hal-hal yang tidak perlu sehingga kita stres, cemas, was-was. Pola pikir yang sehat adalah pola pikir yang sesuai dengan Islam.

Yang kedua adalah pola jiwa yang sehat

Sehat jiwa bisa diperoleh dengan ibadah ritual, misalnya shaum senin kamis, menjaga tidur agar bisa sholat malam, rajin shalat dhuha, rajin membaca Al-Qur’an selalu menghafalkan dan mentadabburi ayat-ayatnya.

Yang ketiga adalah sehat fisik

Yaitu dengan olahraga yang teratur, misalnya lari, sepeda, berenang dan memanah, agar terjaga fisik kita. Jadi, pikiran, jiwa, dan fisik kita harus sehat. Tentu ditambah pola makan dan pola tidur yang teratur, sehingga makanan yang kita makan itu efektif diserap oleh tubuh dan menjadi darah daging yang halal.

Sejak kapan Ustadz menerapkan pola hidup sehat?

Saya mulai sadar pola hidup sehat semenjak berumah tangga. Setelah menjadi ayah, saya mulai berpikir kalau nanti sudah punya anak dan saya sakit akan merepotkan banyak orang, belum lagi biaya pengobatan tidak murah. Apalagi di awal-awal pernikahan ekonomi sedang sulit sehingga tidak ada pilihan selain kita harus lebih sehat secara pola makan, pola pikir dan pola fisiknya.

Apa saja manfaat yang Ustadz rasakan dengan pola hidup sehat yang sudah dijalani?

Manfaat yang saya rasakan luar biasa karena sehat itu ‘kan nikmat yang tak ternilai. Kita bisa makan dan tidur dengan nikmat adalah sebuah karunia. Tidak ada orang yang mau mengganti kesehatan badannya dengan uang sebanyak apapun. Maka sehat itu luar biasa. Jadwal saya berjalan lancar, jadwal kajian di berbagai tempat, ibadah lebih khusyuk, ibadah umroh lancar, alhamdulillah… tentu tidak akan mampu jika kita menghitung anugerah nikmat kesehatan.

Pesan-pesan dan ajakan apa yang ingin Ustadz sampaikan untuk sahabat-sahabat Daarut Tauhiid perihal go green dan pola hidup sehat?

Pesan saya kepada semua jamaah DT, para donatur dan seluruhnya, gaya hidup sehat itu pilihan kita. Kalau kemudian Allah memberi takdir sakit sedangkan kita sudah memilih hidup sehat itu urusan lain. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi anugerah dari Allah untuk hidup sehat. Mulai hari ini mari jaga kebersihan lingkungan, mulai dari hal yang kecil dari rumah sendiri. Kemudian ditambah dengan pola pikir, pola jiwa, dan pola fisik yang sehat. Sehingga dengan sehat itu kita bisa semakin taat semakin dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.

(ifa/wildan/titin)

pict from : www.mordenhillsurgery.co.uk

Hati-hati Ghibah Online

ghibah online

Dalam sebuah mejelisnya bersama Abu Dzar, Rasulullah pernah memberi nasehat berikut :
“Wahai Abu Dzar, hindari dari perlakuan GHIBAH (menggunjing) karena dosanya lebih berat dari pada zina”.

“Ya Rasulullah apa itu ghibah?”

“Ghibah yaitu menyebut-nyebut saudaramu dengan yang tidak disukai.”

“Ya Rasulullah walaupun sesuatu itu ada pada dirinya”

“Ya apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun bila kau sebut aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memFITNAHnya.

——-<<<<<<<<
Ghibah (menggunjing) termasuk dosa besar, namun sedikit yang mau menyadari hal ini.
—————————————
“Ghibah itu Apa?” Sekarang kita akan melihat dalil yang menunjukkan bahwa ghibah tergolong dosa dan perbuatan haram, bahkan termasuk dosa besar.

Kata seorang ulama tafsir, Masruq, “Ghibah adalah jika engkau membicarakan sesuatu yang jelek pada seseorang. Itu disebut mengghibah atau menggunjingnya. Jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak benar ada padanya, maka itu berarti menfitnah (menuduh tanpa bukti).” Demikian pula dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 167).

Ghibah yang terjadi bisa cuma sekedar dengan isyarat. Ada seorang wanita yang menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tatkala wanita itu hendak keluar, ‘Aisyah berisyarat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa wanita tersebut pendek. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

قَدِ اغْتَبْتِيهَا

“Engkau telah mengghibahnya.” (HR. Ahmad 6: 136. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Dosa ghibah sudah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Allah Ta’ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak mengetahui siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj.” (Fathul Qadir, 5: 87)

Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar setiap muslim menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.” (Idem)

Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Allah mengharamkan mengghibahi seseorang ketika hidup sebagaimana Allah mengharamkan memakan daging saudaramu ketika ia telah mati.” (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 168).

Qatadah rahimahullah berkata, “Sebagaimana engkau tidak suka jika mendapati saudarimu dalam keadaan mayit penuh ulat. Engkau tidak suka untuk memakan bangkai semacam itu. Maka sudah sepantasnya engkau tidak mengghibahinya ketika ia masih dalam keadaan hidup.” (Lihat Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 169).

Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Taubat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertaubat. Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.

Dalam Kunuz Riyadhis Sholihin (18: 164) disebutkan, “Para ulama sepakat akan haramnya ghibah dan ghibah termasuk dosa besar.”
————————–————————
Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa dalil yang melarang kita dari perbuatan ghibah yang kami ringkaskan dari kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An Nawawi rahimahullah ta’ala.

1. Firman Allah ta’ala:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Tawwab (Maha Penerima taubat) lagi Rahim (Maha Menyampaikan rahmat).” [QS Al Hujurat: 12]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “Di dalamnya terdapat larangan dari perbuatan ghibah.”

As Sa’di rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “(Allah) menyerupakan memakan daging (saudara)nya yang telah mati yang sangat dibenci oleh diri dengan perbuatan ghibah terhadapnya. Maka sebagaimana kalian membenci untuk memakan dagingnya, khususnya ketika dia telah mati tidak bernyawa, maka begitupula hendaknya kalian membenci untuk menggibahnya dan memakan dagingnya ketika dia hidup.”

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: ذكرك أخاك بما يكره. قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال: إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi berkata: “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika padanya ada apa saya bicarakan?” Beliau menjawab: “Jika ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau berbuat buhtan terhadapnya.” [HR Muslim (2589)]

Hadits di atas menerangkan tentang definisi ghibah. Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau aib seorang muslim dengan tidak secara langsung di hadapannya. Sedangkan buhtan adalah berkata dusta terhadap seseorang di hadapannya mengenai sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.

3. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata:

قلت للنبي صلى الله عليه وسلم: حسبك من صفية كذا وكذا – تعني قصيرة. فقال: لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته! قالت: وحكيت له إنسانا، قال: ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا

“Saya berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Cukuplah bagi anda dari Shafiyyah begini dan begini -maksudnya dia itu bertubuh pendek.” Beliau berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan kalimat yang kalau dicampur dengan air laut niscaya dapat merubah (rasa dan bau)nya!” Aisyah berkata: “Saya juga menceritakan tentang seseorang kepada beliau. Lalu beliau menjawab: “Saya tidak suka menceritakan seseorang sedangkan pada diriku terdapat (kekurangan) ini dan ini.” [HR Abu Daud (4875) dan At Tirmidzi (2502)]

Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini merupakan larangan yang paling tegas dari perbuatan ghibah.”

4. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم. كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Cukuplah kejelekan bagi seseorang dengan meremehkan saudara muslimnya. Setiap muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lain.” [HR Muslim (2564)]

Hadits di atas menerangkan larangan untuk menumpahkan darah, mengambil harta, dan menodai kehormatan sesama muslim. Dan perbuatan ghibah adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap kehormatan seorang muslim yang tidak dibenarkan di dalam Islam.

5. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لما عرج بي، مررت بقوم لهم أظفار من نحاس يخمشون وجوههم وصدورهم. فقلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم

“Ketika saya dimi’rajkan, saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka. Saya bertanya: “Siapakah mereka ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan melecehkan kehormatan mereka.” [HR Abu Daud (4878). Hadits shahih.]

Hadits ini menerangkan bentuk hukuman yang dialami oleh orang-orang yang gemar membicarakan kejelekan dan menjatuhkan kehormatan orang lain.

Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur`an dan hadits yang melarang kita dari perbuatan ghibah. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita semua untuk dapat meninggalkannya.
—————-

Wallahu a’lam. Moga Allah menjauhkan dari setiap dosa besar termasuk pula perbuatan ghibah. Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini supaya senantiasa berkata yang baik.

Belajar Taubat dari Nabi Yunus a.s

Ilustrasi Ikan Paus

Nabi Yunus a.s. diutus oleh Allah kepada kaum Ninawa untuk memberi petunjuk jalan kebenaran. Bertahun-tahun Nabi Yunus menyampaikan kebenaran kepada kaumnya, namun mereka mengingkari seruan Nabi Yunus. Karena marah dan putus asa, ia pun meninggalkan kaumnya.

 

Nabi Yunus a.s. melakukan perjalanan laut dengan menumpang kapal. Tiba-tiba di tengah perjalanan, topan pun mengancam keselamatan awak kapal. Demi mengurangi muatan, dilakukan pengundian untuk pengeluarkan salah satu penumpang dari kapal. Undian dilakukan tiga kali dan nama yang keluar selalu nama Yunus a.s. Dikeluarkanlah ia dari kapal ke lautan dan ia pun ditelan bulat-bulat oleh ikan besar (Paus). Namun atas kehendak Allah, Nabi Yunus masih tetap hidup di dalam perut ikan Paus. Ikan Paus itupun membawa Yunus a.s. kedalamnya lautan yang luas di tengah gelapnya malam.

Tiga kegelapan yang dialami Nabi Yunus a.s
Tiga kegelapan yang dialami Nabi Yunus a.s

Di dalam perut ikan yang gelap ditambah kegelapan dalamnya lautan dan malam hari, Nabi Yunus a.s menyadari akan dosa dan kekhilafannya karena meninggalkan kaumnya. Beliau pun bertobat dan memperbanyak doa :

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

 

Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (Ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat dzalim/aniaya”.

 

Doa ini pun Allah abadikan dalam Al-Quran:

 

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)

 

Setelah Yunus berdoa, Allah meminta agar ikan memuntahkannya di pantai. Maka ikan itu melakukan apa yang diminta Allah. Yunus dimuntahkan dalam keadaan sakit, kulitnya mengelupas dan tanpa kekuatan. Di tempat Yunus terdampar, Allah menumbuhkan pohon sejenis labu. Dikisahkan ketika telah keluar dari perut ikan, Yunus a.s. bernaung di bawah pohon itu dan makan darinya hingga memberikannya kekuatan untuk pulih.

 

Setelah pulih, Nabi Yunus a.s. kembali kepada kaumnya untuk melanjutkan kewajiban berdakwah yang ia tinggalkan. Sesampainya di tempat kaumnya berada, Allah hadiahkan kepada Yunus keimanan kaumnya atas taubat yang dilakukannya.

 

“Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih, sehingga mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.” (QS. As-Shaffat/37: 147-148)

 

اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ

“Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747

Hikmah Taubat Nabi Yunus a.s.:

  1. Bertaubat dengan pengakuan tauhid, kedzaliman diri, dan memohon ampun atas dosa
  2. Ketika dalam kesulitan sebesar apapun, tiada yang lebih kuasa untuk dimintai pertolongan selain Allah
  3. Allah membalas taubat hamba-Nya dengan pertolongan dan rahmat yang berlimpah

 

“Doa Dzun Nuun (Nabi Yunus) ketika ia berdoa dalam perut ikan paus adalah: “Laa ilaaha illaa anta, subhaanaka, innii kuntu minadz dzaalimiin”. (Artinya: Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau (ya Allah), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk di antara orang-orang yang berbuat zalim/aniaya). Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengannya dalam suatu masalah, melainkan Allah kabulkan baginya.” (H.R. At-Tirmidzi).

 

(Humas DT Jakarta)