Kunci Menghadapi Persoalan Hidup

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Segala puji hanya milik Allah, Dzat yang menurunkan ketenangan dan ketenteraman kepada hati orang mukmin. Shalawat juga salam tersampaikan pada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam.

Sahabat, manakah yang paling berbahaya ? Ujian kepahitan atau ujian kesenangan ?

Allah berfirman dalam Al Quran surat Al-Anbiya ayat 35 :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Yang paling berbahaya adalah segala urusan yang membuat kita lalai dari mengingat Allah. Sering kali ujian wabah virus dianggap berbahaya bagi kehidupan kita. Padahal yang berbahaya adalah ujian kelapangan. Karena ketika lapang akan sering lupa dan lalai untuk mengingat Allah. Apabila dalam kesulitan akan mudah mengingat Allah. Dari semua ujian kesenangan atau kesulitan, yang Allah inginkan adalah kita menjadi dekat kepada Allah.

Wabah yang Allah hadirkan ini adalah karunia bagi kita semua. Karena dengan hadirnya wabah ini menjadikan kita lebih serius memohon pertolongan dan perlindungan pada Allah daripada sebelumnya, dan semakin menjadikan kita dekat pada Allah.

Banyaknya dari kita menganggap bahwa ujian virus ini amat berat dan menjadikan kesulitan dalam hidup. Sebetulnya ujian yang paling berat adalah kelapangan dalam kehidupan, seperti kelapangan rezeki, kemudahan beraktivitas dan juga keleluasaan lainnya dalam hidup. Sebab hal itu akan membuat kita sulit mengingat Allah dan lalai untuk mendekatkan diri pada Allah. Sholat di akhirkan, membaca Al Quran di sisa waktu, ikut kajian jika sempat dan semua kelalaian akan mudah saat kita lapang.

Sekarang ini kita oleh Allah disempitkan berada di rumah bersama keluarga, bisa tilawah Quran bersama, sholat bersama, mencari ilmu bersama yang sebelumnya memang sulit untuk kita dapatkan kebersamaan itu.

Jadi, ujian wabah ini kita syukuri atau kita sabari ?

Apabila seseorang mengikuti ujian, maka ada yang lulus dan ada pula yang tidak lulus. Yang lulus dari ujian adalah orang yang benar dalam bersikap. Dan orang yang tidak lulus bukan karena soalnya yang salah. Namun yang salah adalah jawabannya sehingga menyebabkan dia tidak lulus.

Jawaban yang Allah inginkan dari setiap ujian yang hadir di tengah kita adalah syukur dan sabar. Rasulullah bersabda yang artinya,“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Syukur dan Sabar

Jadi yang harus kita waspadai pada diri kita adalah kurangnya syukur dan kurangnya sabar. Pandemi virus menjadi peringatan bagi kita untuk sabar dari ujian yang telah Allah tetapkan dan bersyukur atas kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat hidup, nikmat melihat, bernafas, mendengar, nikmat iman Islam, nikmat masih bisa berjumpa dengan Ramadhan dan nikmat-nikmat lainnya yang jarang kita syukuri.

Ukuran sabar melalui Pikiran, hati, lisan dan tubuhnya saat ditimpa musibah dan diberikan kesenangan. Apabila pikirannya mengingat Allah, hatinya memohon pada Allah, lisannya mengagungkan Allah dan tubuhnya mendekat kepada Allah saat senang ataupun sulit, maka itu tergolong kepada orang yang sabar.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“…(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,’Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sungguh segala sesuatu hanya milik Allah dan sungguh semua akan kembali kepada-Nya).” (Al-Baqarah ayat 156)

Orang yang sabar adalah orang yang tidak bisa berpaling pikirannya, hatinya, tubuhnya dari Allah Ta’ala. Ketika sudah sabar dengan hatinya, pikiran, lisan dan tubuhnya kepada Allah maka Allah akan menurunkan as sakinah (ketenangan) kepada kehidupannya. Lalu Allah berikan petunjuk dalam setiap ujian yang ada di kehidupannya. Yakinlah setiap ujian pasti ada akhirnya dan yakin pula bahwa setiap ujian yang Allah hadirkan pasti itu adalah kebaikan bagi kita. Serta lakukan rumus 5 AT :

  1. TekAT yang kuat dan bulat untuk selalu dekat dengan Allah.
    Sebab Allah mengetahui tekad seseorang. Tidak ada yang bisa dekat dengan Allah kecuali dengan bersungguh-sungguh.
  2. Perbanyak tobAT.
    Karena bala menimpa kita karena maksiat dan dosa yang kita perbuat, serta bala diangkat karena tobat.
  3. Jauhi maksiAT.
    Hindari semaksimal mungkin kemaksiatan. Mata hindari dari melihat yang bukan haknya, telinga menghindar dari omongan yang tidak perlu, dan mulut juga mengurangi bicara dari yang tidak bermanfaat.
  4. Tingkatkan taAT.
    Perbanyak sujud, karena sujud adalah jarak terdekat kita dengan Allah. Orang yang dekat dengan Allah, maka dia akan banyak bersujud kepada-Nya.
  5. Tebar manfaAT.
    Allah senang dengan hambanya yang menolong kepada sesama. Terlebih pada bulan yang penuh berkah ini, maka Allah akan memudahkan orang yang memberikan kemudahan kepada sesama makhluk Allah.

Semoga ini bisa menjadi bekal untuk kita bersyukur mengingat Allah dalam keadaan senang, dan sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan Allah. Semua ini adalah ikhtiar bagi kita untuk mendekatkan diri pada Allah Yang Maha Pengasih dan Dzat Yang Maha Memberi Pertolongan.

Datangkan Pertolongan Allah dengan Doa

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Segala puji hanya milik Allah Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, Maha Menyaksikan, Maha Tahu segala isi hati kita, Maha Mengatur segalanya dengan sempurna dan tidak ada satu pun yang ada di alam semesta ini kecuali takluk atas pengaturan Allah ta’ala, serta apa pun yang Allah tidak inginkan maka tidak akan pernah terjadi. Oleh sebab itu kita harus benar-benar meyakini bahwa segala sesuatu akan menjadi baik ketika Allah yang mengurusnya.

Rasulullah berpesan kepada putrinya Fatimah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan’

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.” (HR. Ibnu As Sunni) Doa ini akan lebih baik jika sering kita ulang-ulang agar permasalahan yang ada dalam hidup kita seperti masalah perekonomian, pendidikan, kesehatan, bisnis, hutang, pekerjaan, dan semua masalah yang sedang kita hadapi kita serahkan pada Allah, maka sudah pasti akan terasa mudah serta tuntas. Doa ini adalah doa tauhid yang sangat penting untuk kita pahami karena dalam doa ini meyakini bahwa urusan kita sepenuhnya ada dalam genggaman Allah dan urusan kita akan menjadi baik jika Allah yang menolong.

Kita juga dianjurkan untuk memperbanyak doa Nabi Yunus :

Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (Q.S. Al Anbiya : 87)

Dari doa Nabi Yunus ini terdapat tiga unsur, yaitu Tauhid (mengesakan Allah), prasangka baik pada Allah, dan pengakuan atas dosa dan kesalahan kita.

Kedua doa ini akan mengantarkan kita kepada keselamatan dunia dan akhirat, apabila kita sering berdoa dengan keyakinan penuh kepada Allah swt. Terlebih lagi dalam kondisi dan situasi seperti pandemi wabah virus sekarang ini.

Doa pertama (pesan Rasul pada Fatimah) mengajak kita yakin bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Menyaksikan, Maha Teliti dengan apa yang kita pikirkan dan ‘Al Qoyyum’ yaitu Allah Yang Maha Menguasai segalanya. Jika kita menginginkan sesuatu, maka itu ada dalam kekuasaan Allah. Dan jika kita takut pada sesuatu, maka yang kita takuti ada dalam genggaman Allah. Apabila Allah ingin mudahkan, maka akan mudah dan jika tidak Allah mudahkan, maka tidak akan pernah berhasil.

Begitu juga dengan doa kedua (Doa Nabi Yunus) yang diawali dengan ketauhidan pada Allah: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau (Allah)’ yaitu tidak ada Illah yang patut disembah dan diibadahi, semua lahir dan batin hanya untuk Allah semata. Dilanjutkan dengan prasangka baik pada Allah bahwa Allah Yang Maha Suci, Maha Sempurna, dan kekurangan hanya milik Ciptaan Allah serta semua yang Allah kehendaki pasti baik dan sempurna. Kemudian ditutup dengan memohon ampun atas dosa dan maksiat yang sudah kita lakukan. Kitalah yang hina penuh dengan dosa dan kita pula yang mendzholimi diri kita. Hanya pada Allah kita memohon ampun dan hanya pada Allah kita kembali. Semakin mengakui kesalahan pada Allah dan bersimbah air mata penuh dengan permohonan ampun, maka pertolongan Allah akan hadir di tengah kita.

Besar harapan dengan keadaan seperti ini untuk memohon pertolongan pada Allah pada waktu mustajab, terlebih dalam sepertiga malam kita untuk membaca doa-doa ini dengan penuh keyakinan pada Allah. Dua doa inilah Insyaallah dengan izin Allah apabila kita berdoa dengan kesungguhan hati, maka akan datang pertolongan Allah kepada kita semua. Aamiin.. Yaa Rabbal ‘alamin..

Antara Syirik dan Munafik

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

Segala puja dan puji hanya milik Allah Yang Maha Menyaksikan tanpa ada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya. Allah Yang Maha Membalas segala sesuatu yang kita kerjakan. Karena sejatinya kebaikan yang kita lakukan tidak akan tertukar untuk kembali kepada kita, dan keburukan yang kita lakukan tidak akan pernah meleset untuk kembali kepada kita. Jika kita berbuat kebaikan, maka itu hidayah, taufik dan pertolongan Allah semata. Namun jika kita berbuat keburukan, maka itu adalah pilihan kita sendiri.

Pada saat berusaha dan berjuang untuk membersihkan hati, harus selalu berhati-hati akan penyakit syirik, munafik, takabur, iri, dengki, ujub, dan cinta dunia. Berikut penjabaran untuk syirik dan munafik.

Syirik

Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah atau dengan kata lain menuhankan selain daripada Allah. Orang yang berpenyakit syirik hingga meninggal dunia tidak akan mendapat ampunan Allah. Sebab Allah mengampuni seluruh dosa-dosa kecuali syirik. Walaupun berjihad dan terbunuh di medan perang, atau seorang penghafal Al-Qur’an, atau pemilik ilmu yang banyak dan berdakwah siang hingga malam, atau ahli sedekah, maka itu semua akan percuma jika kita syirik. Kebaikan yang kita lakukan bukan karena Allah, melainkan untuk dipandang hebat dan ini termasuk kepada mengambil hak Allah karena beribadah untuk selain daripada Allah ta’ala. Inilah bukti bahwa kebaikan kita akan terancam sia-sia jika tidak kita niatkan karena Allah semata.

Munafik

Ada dua jenis munafik. Pertama munafik aqidah, yaitu orang yang terlihat keislaman dari luar, namun hatinya mendustakan islam. Kedua munafik akhlak, yaitu orang yang benar-benar terlihat islam, tetapi perilakunya tidak menggambarkan Islam.

Adapun ciri-ciri orang yang munafik, yaitu :

Pertama, jika berkata akan dusta (berbohong). Akan mudah sekali bagi orang-orang munafik saat menggunakan lisannya untuk berbohong. Apabila sedang berbicara dia berbohong, saat bercanda dia akan berbohong, melebih-lebihkan ucapan saat berbicara dan tidak ada rasa takut saat berbohong. Oleh sebab itu berhati-hatilah ketika kita berbicara, jangan pernah mengada-ada dan utamakan untuk berkata jujur walaupun menyakitkan.

Kedua, apabila berjanji tidak ditepati. Orang yang munafik sangat mudah untuk membuat janji dengan orang banyak dan tidak ditepati apa yang sudah dijanjikannya. Sayidina Ali berkata “Janganlah mengambil keputusan di saat sedang marah, dan jangan pula mengumbar janji pada saat gembira.” Selalu menjaga kondisi kita pada saat marah dan juga saat gembira. Sebab orang yang takut pada Allah akan sangat berhati-hati dalam membuat janji. Karena setiap perbuatan pasti akan ada balasannya dari Allah.

Ketiga, ketika diberi amanah akan khianat. Mudah bagi orang yang munafik ketika diberikan sebuah amanah dalam bentuk apa pun, maka dia akan ringan untuk mengkhianati amanah tersebut.

Dalam situasi dan kondisi wabah seperti ini Allah memberikan waktu luang untuk kita berpikir, bermuhasabah untuk mengoreksi diri. Janganlah kita melihat siapa yang munafik, namun koreksi diri. Apakah diri ini munafik? Sudahkah kita melihat isi hati kita? Karena orang yang munafik akan sibuk memperbaiki luarnya agar terlihat bagus, tetapi dalamnya (hatinya) tidak pernah dihiraukan.

Kitab Riyadus Shalihin

Bab Sabar
Ust. Shofar Mawardi

Adanya penyakit dan permasalahan lainnya yang menimpa manusia adalah cara Allah menguji hamba-hambanya, adakah mereka sabar atau berkeluh kesah karenanya. Termasuk hal yang berkaitan dengan kondisi saat ini yang tengah diwaspadai dan ditakuti oleh manusia di seluruh dunia yaitu virus corona.

Satu hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam bukhari dan Imam Muslim.   Dari ‘Atha’ bin Abu Rabah, katanya: “Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan padaku: “Apakah engkau suka saya tunjukkan seorang wanita yang tergolong ahli syurga?” Saya berkata: “Baiklah.” Ia berkata lagi: “Wanita hitam itu pernah datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasalam lalu berkata: “(Ya Rasulallah) sesungguhnya saya ini terkena penyakit ayan dan sebab itu tersingkap aurat tubuhku. Oleh karenanya (Ya Rasul) haraplah Tuan mendoakan untuk saya kepada Allah (agar saya sembuh).” Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Jikalau engkau mau bersabarlah maka bagimu syurga, tetapi jikalau engkau mau maka saya akan mendoakan untukmu kepada Allah Ta’ala agar penyakitmu itu disembuhkan olehNya.” Wanita itu lalu berkata: “Saya akan bersabar,” lalu katanya pula: “Sesungguhnya karena penyakit itu, tersingkap aurat saya. Sudilah Tuan mendoakan untuk saya kepada Allah agar tidak sampai tersingkap aurat saya ketika itu.” Nabi shalallahu alaihi wasalam lalu mendoakan untuknya -sebagaimana yang dikehendakinya itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari hadis tersebut bisa diambil hikmah kalau seseorang sedang tertimpa penyakit, ada dua pilihan baginya:

yang pertama yaitu dengan berikhtiar dengan cara berobat agar Allah sembuhkan penyakitnya.

Yang kedua boleh dengan bersabar dan mengharap pahala dari Allah, dengan syarat ketika ia memilih untuk bersabar ia tidak ngresulo, tidak mengeluh karena sakit yang dirasakannya tersebut. Sebaliknya jikalau tidak sabar dan uring-uringan (berkeluh kesah) serta mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, maka bukan pahala yang didapatkan, tetapi makin menambah besarnya dosa.

Setiap musibah atau apapun itu adalah cara lain Allah menggugurkan dosa dosa kita, dalam hadis yang lain Rasulullah menyampaikan

Dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: “Tidak suatupun yang mengenai seorang muslim -sebagai musibah- baik dari kelelahan, tidak pula sesuatu yang mengenainya yang berupa kesakitan, juga kesedihan yang akan datang ataupun yang lampau, tidak pula yang berupa hal yang menyakiti -yakni sesuatu yang tidak mencocoki kehendak hatinya, ataupun kesedihan -segala macam dan segala waktunya, sampai pun sebuah duri yang masuk dalam anggota tubuhnya, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya -yakni sesuai dengan musibah yang diperolehnya- itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Selain menjadi wasilah diampuninya dosa-dosa, sabar juga bisa menjadi wasilah diangkatnya derajat seseorang. Dikalangan para nabi dan rosul ada yang dijuluki Nabi dan Rasul Ulul Azmi, mereka mendapatkan kemuliaan derat tersebut karena telah melewati ujian-ujian yang banyak dengan kesabaran yang sempurna.

Maka jika ada seseorang yang ingin mendapatkan derajat yang tinggi baik di dunia maupun akhirat tetapi enggan bersabar dengan menghadapi ujian-ujiannya maka sebenarnya orang tersebut tengah bermimpi. Karena tidak mungkin orang mendapat gelar sarjana tetapi tidak mengikuti ujian tingkat S1, ataupun mendapat gelar master tanpa mengikuti ujian S2 dan seterusnya.

Selain tidak boleh berkeluh kesah yang dilarang lainnya ketika ditimpa penyakit yang dirasa sangat berat atau musibah yang tidak berkesudahan (misalnya) adalah berdoa meminta segera dimatikan. karena itu adalah salah satu bentuk keputus asaan.

Ada doa yang diajarkan oleh rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah hadis

Dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: “Janganlah seorang dari kalian mengharap-harapkan segera tibanya kematian dengan sebab sakit yang menimpanya. Tetapi jikalau ia terpaksa harus berbuat demikian maka hendaklah mengatakan: “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupanku merupakan kebaikan untukku dan matikanlah aku apabila kematian itu merupakan kebaikan untukku.” (Muttafaq ‘alaih).

Salah satu cara agar kita mampu bersabar saat ditimpa musibah adalah membandingkan dengan mereka yang mendapat musibah lebih besar dari kita namun mereka tetap bersabar.

Khabbab bin Arat adalah seorang tukang pandai besi, ketika memutuskan masuk islam segera ia ditangkap oleh para pembesar kafir quraisy kemudian menyiksanya dengan cara mengikatnya didekat tungku pembakaran kemudian mereka kafir quraisy memanaskan besi hingga membara lalu ditempelkannya besi itu ke tubuhnya yang tak berbaju.

Mengalami ujian sedemikian itu Khabbab mengadu kepada nabi yang ketika itu sedang berada di bawah naungan ka’bah.

Dari Abu Abdullah, yaitu Khabbab bin Aratti radhiyallahu anhu, katanya: “Kita mengadu kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan beliau ketika itu meletakkan pakaian burdahnya di bawah kepalanya sebagai bantal dan berada di naungan Ka’bah, kita berkata: Mengapa Tuan tidak memohonkan pertolongan -kepada Allah- untuk kita, sehingga kita menang? Mengapa Tuan tidak berdoa sedemikian itu untuk kita?” Beliau lalu bersabda: “Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelummu -yakni zaman Nabi-nabi yang lalu, yaitu ada seorang yang diambil- oleh musuhnya, karena ia beriman, kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi, selanjutnya didatangkanlah sebuah gergaji dan ini diletakkan di atas kepalanya, seterusnya kepalanya itu dibelah menjadi dua. Selain itu iapun disisir dengan sisir yang terbuat dari besi yang dikenakan di bawah daging dan tulangnya, semua siksaan itu tidak memalingkan ia dari agamanya -yakni ia tetap beriman kepada Allah. Demi Allah sesungguhnya Allah sungguh akan menyempurnakan perkara ini -yakni Agama Islam, sehingga seorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau karena takut pada serigala atas kambingnya -sebab takut sedemikian ini lumrah saja. Tetapi engkau semua itu hendak bercepat-cepat -ingin kemenangan- saja.” (Riwayat Bukhari)

Ada masa dimana sabar adalah menjadi satu-satunya solusi dalam menghadapi ujian-ujian berat, salah satunya masa awal dakwah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya ketika itu, maka rasul menghibur mereka dengan menceritakan betapa orang-orang terdahulu juga mengalami ujian yang berat, bahkan lebih berat. Namun mereka tetap sabar menghadapinya.

Tetapi selain itu, rasulullah juga memberikan motivasi dan optimisme bahwa Allah pasti menyempurnakan perkara ini.  

pict from : printerest.com

(teguh/wildan)

Jurnal Syukur

SOLVER HM. HARI SANUSI

Allah banyak memberikan nikmat kepada kita, namun selalu saja kita mengeluh akan ujian yang allah berikan kepada kita. Apapun yang sudah kita jalani, apapun yang sedang kita jalani dan apapun yang akan kita jalani itu sudah tercatat di lauhul mahfuz. Tinggal kita saja yang harus memilih ingin melewatinya dengan keluh kesah, atau dengan cara selalu senang dan mensyukuri apapun yg ada pada diri kita. Jadikan setiap apa saja yang ada pada diri kita menjadi imun untuk iman kita. Ada kejadian menyenangkan atau menyusahkan pada kita, semua itu sama saja untuk selalu menikmati dan menjadikan kita selalu bersyukur pada allah.

Terkadang kita ketika ingin pergi ke kantor, pergi ke luar rumah akan resah saat handphone kita tertinggal, dan kita tidak ragu untuk kembali ke rumah mengambil handphone yang tertinggal. Apakah pernah kita merasakan hal yang sama saat al quran kesayangan kita tertinggal pada saat keluar rumah?

Tabungan yang kita miliki di dunia selalu kita catat dan selalu kita perhitungkan, selalu kita tambah dan tambah terus setiap harinya. Sudahkah kita memperhitungkan tabungan kita untuk di akhirat? Sudahkan kita untuk selalu menambahkan tabungan akhirat kita?

Kita selalu menikmati hiburan yang ada di televisi, menikmati hiburan yang ada di handphone, dan kadang kita sanggup berlama lama untuk menikmati hiburan tersebut. Sudahkah kita menikamti untuk berlama lama pada kajian ilmu? Menikmati untuk membaca al quran dan berlama lama saat bermesraan dengan al quran?

Jadikan setiap kegiatan kita untuk taqorub, yakni mendekati diri kita pada Allah.

Begitupun perilaku kita kepada sesama makhluk allah. Jadikan setiap hubungan kepada manusia menjadi pendekatan kita pada Allah. Bukan hanya kepada manusia, namun kepada tumbuhan, hewan, dan seluruh makhluk Allah yang Allah ciptakan. Kepada tumbuhan jangan kita rusak, kepada hewan jangan kita usik dan jika kita melihat hewan yang butuh pertolongan kita maka kita harus bersegera menolong hewan tersebut. Sebab boleh jadi pertolongan yang kita berikan pada hewan, akan menjadikan penolong bagi kita di akhirat. Seperti hal nya seorang wanita pezinah yang melihat anjing kehausan, dan bersegera wanita menggunakan sepatunya untuk mengambil air dan di berikan kepada anjing yang kehausan tadi. Lantas Allah maha melihat dan maha mengetahui bahwa makhluknya di tolong wanita tersebut dengan ikhlas, maka allah mudahkan wanita itu masuk kedalam surganya Allah.

Hewan saja yang tidak memiliki akal dapat menjadi asbab kita di tolong Allah. Apalagi saat kita menolong kepada makhluk Allah yang memiliki akal, yaitu manusia. Saat kita duduk di kereta dan melihat orang tua atau wanita hamil yang berdiri, lantas kita pura pura untuk tidak melihat dan tidak mengetahui. Padahal saat kita memberikan tempat duduk kita kepada orang tua tersebut atau wanita hamil. Allah melihat dan mengetahui perbuatan kita, maka akan mudah pertolongan Allah untuk datang kepada kita.

Begitulah hati kita yang selalu berubah ubah. Terkadang berhadap pada Allah, terkadang berhadap pada dunia, berhadap pada manusia, dan selalu berubah ubah arahnya. Sudah saatnya kita selalu menghadapkan hati kita pada allah. Ketika hati ini berpaling pada Allah, maka sesegera mungkin kita kembalikan hati ini untuk berhadap dan berharap pada Allah. Ketika ada orang yang berhutang pada kita dan hati ini berhadap pada dunia, maka kita akan selalu mengingat hutang itu. Ingat kapan tanggal tagihan hutang tersebut dan selalu menagih hutang itu. Tetapi saat hati berhadap pada Allah, maka hutang itu akan menjadi amal sedekah bagi kita selama hutang itu belum di bayar.

Memang hati ini begitu cepat untuk memalingkan hadapan daripada Allah kepada yang lain. Pagi hari kita niat untuk bersedekah 50.000. Begitu menjelang sholat menjadi 20.000. Dan begitu kita di hadapan kotak amal, lantas 2.000 yang kita masukan ke kotak amal itu. Sebelum membaca quran kita niat untuk membaca 1 juz. Saat quran sudah di tangan niat membaca menjadi ½ juz. Lantas saat membaca al quran beberapa ayat, fikiran sudah kemana mana dan tidak fokus. Maka dari itu sudah sepantasnya kita menjaga hati ini agar selalu bersih, terhindar dari penyakit. Nyalakan alarm saat hati berpaling dari Allah. Maka dengan memaksimalkan usaha kita menghadapkan hati pada Allah dan menyerahkan segalanya pada Allah. Dengan semua itu hidup kita selalu dalam ridho Allah.

Kajian Dzuhur Spesial

KH. Abdullah Gymnastiar

kajian aagym
kajian islam
aagym
kajian dzuhur
daarut tauhiid jakarta

Asma Allah Ar – Rabb

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.

Ar-Rabb adalah Dzat yang memiliki rububiyah atas semua makhluknya, mulai perancangan, penciptaan, pengurusan, pengaturan. Semua itu ada dalam genggaman Allah.

Ar-Rabb adalah Allah, sang pencipta segalanya. Tidak ada suatu apapun di alam semesta ini kecuali ciptaan Allah. Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada Allah. Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan. (Q.S. Ar-Rahman : 29). Allah yang menciptakan, mematikan, menghidupkan, memberi makan, mengangkat, menurunkan, menakdirkan sakit, menyembuhkan, dan semua yang ada di jagat ini dalam kekuasaan Rabb semesta alam.

Ketika mendengar virus corona, maka jangan sering teringat dengan virusnya. Namun ingatlah Allah pencipta segalanya. Tidak ada yang bisa memilih akan menjadi apa saat Allah sedang mencipta. Semua adalah kehendak Allah, Dzat yang Maha Berkuasa. Menambahkan rasa mahabbah kita pada Allah dengan setiap melihat ciptaan, hati mengingat sang pencipta yaitu Allah.

Virus tidak akan membawa mudharat ketika Allah tidak mengkhendaki kemudharatan di dalamnya. Virus tidak akan menyebabkan kematian saat Allah tidak mengkehendaki kematian di dalamnya. Semua yang ada adalah kehendak Allah. Mudah bagi Allah untuk membuat apapun dan mudah merubah keadaan apapun.

Jangan pernah merasa paling hebat, merasa paling mampu, merasa paling keren, merasa yang lebih baik dari semuanya. Sebab Allah yang menciptakan segala sesuatu. Sudah sepantasnya ciptaan selalu mengingat Sang Pencipta. Karna kehebatan apapun bersumber pada Dzat yang Maha Hebat yaitu Allah. Mata melihat ciptaan, hati mengingat pencipta.

Ingat selalu saat kesombongan terlintas dalam hati :

  1. Allah yang menciptakan segalanya
  2. Allah yang memberikan kebaikan dan mencabut kebaikan
  3. Allah yang memudahkan dan mencabut kemudahan
  4. Allah yang menutupi aib dan membuka aib (keburukan)

Setiap masalah yang hadir bukan untuk menjauh dari Allah, dan bukan untuk menyulitkan kehidupan. Namun setiap masalah yang hadir, bertujuan untuk mendekatkan diri pada Allah. Sejatinya kehidupan adalah sebuah perpindahan dari satu masalah kepada masalah yang lainnya. Sudah sepantasnya manusia mendekatkan diri pada Allah, dan memohon kebaikan serta kemudahan terhadap setiap masalah yang di hadapi.

Kantor Daarut Tauhiid Jakarta

Kantor Daarut Tauhiid Jakarta

Secara struktur organisasi, Kantor Daarut Tauhiid Jakarta berada di bawah Lembaga Wakaf Yayasan Daarut Tauhiid.  Secara legalitas, Yayasan Daarut Tauhiid atau yang lebih sering disingkat dengan DT, telah memiliki Akta Notaris Hj. Tetty Surtianti, SH, No.8 tanggal 26 September 2012. Sebelumnya, Yayasan DT berakta Notaris Hj. Ahmadi, SH tanggal 4 September 1990.

Kantor DT Jakarta secara efektif menjalankan aktivitasnya sejak tahun 1998. Bermula dari kelompok kajian-kajian KH. Abdullah Gymnastiar di Jakarta, berkembang ke bidang dakwah dan sosial lainnya. Masjid Daarut Tauhiid Jakarta sendiri yang merupakan tanah dan bangunan wakaf mulai dibangun sejak tahun 2012, dan sejak itu dimakmurkan dengan berbagai kegiatan dakwah.

Hingga kini Kantor DT Jakarta memiliki beragam program, antara lain: Kajian Internal dan Eksternal, penghimpunan dan pengelolaan Wakaf, KBIH, Wisata Hikmah, DT Event Organizer, dan Warung DT.