Antara Syirik dan Munafik

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

Segala puja dan puji hanya milik Allah Yang Maha Menyaksikan tanpa ada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya. Allah Yang Maha Membalas segala sesuatu yang kita kerjakan. Karena sejatinya kebaikan yang kita lakukan tidak akan tertukar untuk kembali kepada kita, dan keburukan yang kita lakukan tidak akan pernah meleset untuk kembali kepada kita. Jika kita berbuat kebaikan, maka itu hidayah, taufik dan pertolongan Allah semata. Namun jika kita berbuat keburukan, maka itu adalah pilihan kita sendiri.

Pada saat berusaha dan berjuang untuk membersihkan hati, harus selalu berhati-hati akan penyakit syirik, munafik, takabur, iri, dengki, ujub, dan cinta dunia. Berikut penjabaran untuk syirik dan munafik.

Syirik

Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah atau dengan kata lain menuhankan selain daripada Allah. Orang yang berpenyakit syirik hingga meninggal dunia tidak akan mendapat ampunan Allah. Sebab Allah mengampuni seluruh dosa-dosa kecuali syirik. Walaupun berjihad dan terbunuh di medan perang, atau seorang penghafal Al-Qur’an, atau pemilik ilmu yang banyak dan berdakwah siang hingga malam, atau ahli sedekah, maka itu semua akan percuma jika kita syirik. Kebaikan yang kita lakukan bukan karena Allah, melainkan untuk dipandang hebat dan ini termasuk kepada mengambil hak Allah karena beribadah untuk selain daripada Allah ta’ala. Inilah bukti bahwa kebaikan kita akan terancam sia-sia jika tidak kita niatkan karena Allah semata.

Munafik

Ada dua jenis munafik. Pertama munafik aqidah, yaitu orang yang terlihat keislaman dari luar, namun hatinya mendustakan islam. Kedua munafik akhlak, yaitu orang yang benar-benar terlihat islam, tetapi perilakunya tidak menggambarkan Islam.

Adapun ciri-ciri orang yang munafik, yaitu :

Pertama, jika berkata akan dusta (berbohong). Akan mudah sekali bagi orang-orang munafik saat menggunakan lisannya untuk berbohong. Apabila sedang berbicara dia berbohong, saat bercanda dia akan berbohong, melebih-lebihkan ucapan saat berbicara dan tidak ada rasa takut saat berbohong. Oleh sebab itu berhati-hatilah ketika kita berbicara, jangan pernah mengada-ada dan utamakan untuk berkata jujur walaupun menyakitkan.

Kedua, apabila berjanji tidak ditepati. Orang yang munafik sangat mudah untuk membuat janji dengan orang banyak dan tidak ditepati apa yang sudah dijanjikannya. Sayidina Ali berkata “Janganlah mengambil keputusan di saat sedang marah, dan jangan pula mengumbar janji pada saat gembira.” Selalu menjaga kondisi kita pada saat marah dan juga saat gembira. Sebab orang yang takut pada Allah akan sangat berhati-hati dalam membuat janji. Karena setiap perbuatan pasti akan ada balasannya dari Allah.

Ketiga, ketika diberi amanah akan khianat. Mudah bagi orang yang munafik ketika diberikan sebuah amanah dalam bentuk apa pun, maka dia akan ringan untuk mengkhianati amanah tersebut.

Dalam situasi dan kondisi wabah seperti ini Allah memberikan waktu luang untuk kita berpikir, bermuhasabah untuk mengoreksi diri. Janganlah kita melihat siapa yang munafik, namun koreksi diri. Apakah diri ini munafik? Sudahkah kita melihat isi hati kita? Karena orang yang munafik akan sibuk memperbaiki luarnya agar terlihat bagus, tetapi dalamnya (hatinya) tidak pernah dihiraukan.