Datangkan Pertolongan Allah dengan Doa

Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Segala puji hanya milik Allah Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, Maha Menyaksikan, Maha Tahu segala isi hati kita, Maha Mengatur segalanya dengan sempurna dan tidak ada satu pun yang ada di alam semesta ini kecuali takluk atas pengaturan Allah ta’ala, serta apa pun yang Allah tidak inginkan maka tidak akan pernah terjadi. Oleh sebab itu kita harus benar-benar meyakini bahwa segala sesuatu akan menjadi baik ketika Allah yang mengurusnya.

Rasulullah berpesan kepada putrinya Fatimah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan’

“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.” (HR. Ibnu As Sunni) Doa ini akan lebih baik jika sering kita ulang-ulang agar permasalahan yang ada dalam hidup kita seperti masalah perekonomian, pendidikan, kesehatan, bisnis, hutang, pekerjaan, dan semua masalah yang sedang kita hadapi kita serahkan pada Allah, maka sudah pasti akan terasa mudah serta tuntas. Doa ini adalah doa tauhid yang sangat penting untuk kita pahami karena dalam doa ini meyakini bahwa urusan kita sepenuhnya ada dalam genggaman Allah dan urusan kita akan menjadi baik jika Allah yang menolong.

Kita juga dianjurkan untuk memperbanyak doa Nabi Yunus :

Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (Q.S. Al Anbiya : 87)

Dari doa Nabi Yunus ini terdapat tiga unsur, yaitu Tauhid (mengesakan Allah), prasangka baik pada Allah, dan pengakuan atas dosa dan kesalahan kita.

Kedua doa ini akan mengantarkan kita kepada keselamatan dunia dan akhirat, apabila kita sering berdoa dengan keyakinan penuh kepada Allah swt. Terlebih lagi dalam kondisi dan situasi seperti pandemi wabah virus sekarang ini.

Doa pertama (pesan Rasul pada Fatimah) mengajak kita yakin bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Menyaksikan, Maha Teliti dengan apa yang kita pikirkan dan ‘Al Qoyyum’ yaitu Allah Yang Maha Menguasai segalanya. Jika kita menginginkan sesuatu, maka itu ada dalam kekuasaan Allah. Dan jika kita takut pada sesuatu, maka yang kita takuti ada dalam genggaman Allah. Apabila Allah ingin mudahkan, maka akan mudah dan jika tidak Allah mudahkan, maka tidak akan pernah berhasil.

Begitu juga dengan doa kedua (Doa Nabi Yunus) yang diawali dengan ketauhidan pada Allah: ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau (Allah)’ yaitu tidak ada Illah yang patut disembah dan diibadahi, semua lahir dan batin hanya untuk Allah semata. Dilanjutkan dengan prasangka baik pada Allah bahwa Allah Yang Maha Suci, Maha Sempurna, dan kekurangan hanya milik Ciptaan Allah serta semua yang Allah kehendaki pasti baik dan sempurna. Kemudian ditutup dengan memohon ampun atas dosa dan maksiat yang sudah kita lakukan. Kitalah yang hina penuh dengan dosa dan kita pula yang mendzholimi diri kita. Hanya pada Allah kita memohon ampun dan hanya pada Allah kita kembali. Semakin mengakui kesalahan pada Allah dan bersimbah air mata penuh dengan permohonan ampun, maka pertolongan Allah akan hadir di tengah kita.

Besar harapan dengan keadaan seperti ini untuk memohon pertolongan pada Allah pada waktu mustajab, terlebih dalam sepertiga malam kita untuk membaca doa-doa ini dengan penuh keyakinan pada Allah. Dua doa inilah Insyaallah dengan izin Allah apabila kita berdoa dengan kesungguhan hati, maka akan datang pertolongan Allah kepada kita semua. Aamiin.. Yaa Rabbal ‘alamin..

Antara Syirik dan Munafik

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar

Segala puja dan puji hanya milik Allah Yang Maha Menyaksikan tanpa ada satu pun yang luput dari pengawasan-Nya. Allah Yang Maha Membalas segala sesuatu yang kita kerjakan. Karena sejatinya kebaikan yang kita lakukan tidak akan tertukar untuk kembali kepada kita, dan keburukan yang kita lakukan tidak akan pernah meleset untuk kembali kepada kita. Jika kita berbuat kebaikan, maka itu hidayah, taufik dan pertolongan Allah semata. Namun jika kita berbuat keburukan, maka itu adalah pilihan kita sendiri.

Pada saat berusaha dan berjuang untuk membersihkan hati, harus selalu berhati-hati akan penyakit syirik, munafik, takabur, iri, dengki, ujub, dan cinta dunia. Berikut penjabaran untuk syirik dan munafik.

Syirik

Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah atau dengan kata lain menuhankan selain daripada Allah. Orang yang berpenyakit syirik hingga meninggal dunia tidak akan mendapat ampunan Allah. Sebab Allah mengampuni seluruh dosa-dosa kecuali syirik. Walaupun berjihad dan terbunuh di medan perang, atau seorang penghafal Al-Qur’an, atau pemilik ilmu yang banyak dan berdakwah siang hingga malam, atau ahli sedekah, maka itu semua akan percuma jika kita syirik. Kebaikan yang kita lakukan bukan karena Allah, melainkan untuk dipandang hebat dan ini termasuk kepada mengambil hak Allah karena beribadah untuk selain daripada Allah ta’ala. Inilah bukti bahwa kebaikan kita akan terancam sia-sia jika tidak kita niatkan karena Allah semata.

Munafik

Ada dua jenis munafik. Pertama munafik aqidah, yaitu orang yang terlihat keislaman dari luar, namun hatinya mendustakan islam. Kedua munafik akhlak, yaitu orang yang benar-benar terlihat islam, tetapi perilakunya tidak menggambarkan Islam.

Adapun ciri-ciri orang yang munafik, yaitu :

Pertama, jika berkata akan dusta (berbohong). Akan mudah sekali bagi orang-orang munafik saat menggunakan lisannya untuk berbohong. Apabila sedang berbicara dia berbohong, saat bercanda dia akan berbohong, melebih-lebihkan ucapan saat berbicara dan tidak ada rasa takut saat berbohong. Oleh sebab itu berhati-hatilah ketika kita berbicara, jangan pernah mengada-ada dan utamakan untuk berkata jujur walaupun menyakitkan.

Kedua, apabila berjanji tidak ditepati. Orang yang munafik sangat mudah untuk membuat janji dengan orang banyak dan tidak ditepati apa yang sudah dijanjikannya. Sayidina Ali berkata “Janganlah mengambil keputusan di saat sedang marah, dan jangan pula mengumbar janji pada saat gembira.” Selalu menjaga kondisi kita pada saat marah dan juga saat gembira. Sebab orang yang takut pada Allah akan sangat berhati-hati dalam membuat janji. Karena setiap perbuatan pasti akan ada balasannya dari Allah.

Ketiga, ketika diberi amanah akan khianat. Mudah bagi orang yang munafik ketika diberikan sebuah amanah dalam bentuk apa pun, maka dia akan ringan untuk mengkhianati amanah tersebut.

Dalam situasi dan kondisi wabah seperti ini Allah memberikan waktu luang untuk kita berpikir, bermuhasabah untuk mengoreksi diri. Janganlah kita melihat siapa yang munafik, namun koreksi diri. Apakah diri ini munafik? Sudahkah kita melihat isi hati kita? Karena orang yang munafik akan sibuk memperbaiki luarnya agar terlihat bagus, tetapi dalamnya (hatinya) tidak pernah dihiraukan.

Berkawan dengan Ujian

USTADZ KOMARUDIN CHALIL. M.Ag

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَالْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ  الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ۗ  وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ   ۙ  قَالُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”

(Q.S. Al-Baqarah : 155 – 156)

Karena kehidupan adalah perpindahan dari ujian ke ujian berikutnya. Setiap kita pasti memiliki ujian ataupun masalah. Sebab itu adalah sebuah kepastian, maka dari itu jangan pernah lari dari ujian. Jangan juga kita salah saat berdoa, karna banyak dari kita berdoa pada Allah “Ya saya capek atas masalah ini dan itu, jauhkan lah saya dari masalah, saya sudah tidak kuat dan tidak tahan ya allah”. Kehidupan itu ujian kan? Maka yang tidak ingin masalah dan ujian berarti dia tidak menginginkan kehidupan. Berdoalah agar Allah selalu berikan kita kekuatan atas segala ujian yang ada, dan minta lah pada Allah untuk di permudah atas segala ujian. Sisanya serahkan pada Allah, karna Allah tidak akan menimpahkan ujian di luar batas kemampuan hambanya.

Tugas kita bukan takut dan lari dari ujian atau masalah, tapi tugas kita adalah mendekatkan diri pada Allah. Setiap ada ujian dan masalah, lari ke Allah. Dekatkan diri kepada Allah dan berserah dirilah kita kepada Allah.

Kenapa Allah ciptakan rasa takut? Yaitu untuk kita mendekatkan diri pada allah. Jadi semakin kita takut, maka semakin kita dekat pada Allah. Begitulah Islam “Laa Ilaha Illallah” tidak ada daya dan upaya melainkan kekuatan Allah.

Mulai saat ini kita harus berkawan dengan ujian atau masalah. Kuncinya ialah ikhlas dan ridho di atas ujian ataupun masalah apapun yang Allah berikan pada kita.

Hujan datang bisa menjadi masalah saat kita tidak terima, saat kita tidak ikhlas dan tidak ridho atas ketentuan Allah. “Kenapa hujan ini datang, padahal saya kan baru cuci kendaraan. Atuh nyusahin wae nih hujan” Ini adalah tanda tidak ikhlas dan tidak ridhonya manusia kepada ketentuan Allah. Padahal ketika kita mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada, akan terasa nikmat di hati. “Alhamdulillah hujan, tumbuhan jadi dapat asupan, tukang payung laku, tukang cuci kendaraan laku”. Begitulah ketika kita mensyukuri segala ketentuan Allah.

“Siapa hambaku yang tidak sukur dengan ketentuanku, dengan segala keputusanku. Maka carilah tuhan selain aku” (Hadis Qudsi)

Maukah kita di hempaskan Allah? Di husir oleh Allah untuk mencari tuhan selain Allah? Jika tidak ingin, maka dari itu sudah selayaknya kita ridho dan ikhlas atas ketentuan Allah, kita cari hikmah atas semua yang ada. Saat ikhlas dan ridho menghadapi ujian atau masalah, kita juga perlu sabar di atas itu semua. Karna tidak sedikit dari kita yang tidak sabar saat melewati ujian atau masalah yang Allah berikan. Ada seorang anak yang setiap hari pergi kesekolah bersama ayahnya. Saat sampai di sekolah, ayahnya selalu memeluk dan mencium sang anak, sebagai bentuk kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak kini sudah memasuki sekolah menengah pertama. Begitu dia pergi ke sekolah dengan ayahnya dan sampai di depan gerbang sekolah, sang ayah memeluk si anak. Sontak si anak tadi berkata pada ayahnya “ayah, aku kan sudah besar. Sudah seharusnya ayah tidak memeluk dan menciumku lagi. Aku ini sudah besar ayah”. Ayahnya hanya bisa tersenyum menatap anaknya. Ke esokan harinya juga sama, begitu sampai di depan gerbang sekolah ayahnya hendak memeluk si anak. Anak itu lantas membentak ayahnya “Ayah! Aku kemarin kan sudah bilang, aku ini sudah besar ayah. Mulai hari ini dan seterusnya, jangan ayah peluk peluk aku lagi!!!”. Sang ayah hanya tersenyum dan melambaikan tangan kepada anaknya sebagai tanda sayang ayah pada anaknya. Lalu anak itu tersadar, bahwa kali itu adalah pelukan dan lambaian tangan dari ayahnya yang terakhir kalinya. Karna Allah telah memanggil sang ayah untuk menghadap Allah.

Begitulah ketika kita tidak ikhlas dan tidak ridho atau tidak bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Di dalamnya juga terdapat ketidak sabaran sang anak kepada ayahnya. Maka dari itu nikmatilah setiap moment apapun dalam hidup kita dengan ikhlas, ridho, bersyukur dan sabar.

Ketika kita sekolah dan dapat melewati ujian, kita akan mendapat nilai dan dapat meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya. Ketika nilai itu tinggi, maka kita akan mendapat penghargaan dari sekolah. Begitupun ujian dari Allah. Saat kita dapat melewati ujian dengan benar, setiap ujian yang datang menjadikan kita dekat pada Allah. Maka pada waktu yang sama Allah telah menyiapkan penghargaan berupa derajat yang tinggi di sisi Nya. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang dengan derajat yang tinggi di sisi Allah.

Aamiin… Yaa Robbal’alamiin…

(wildan)

pict from : www.suaraislam.id

Lima Amalan yang Jangan Sampai Lepas

Aa Gym
Aa Gym
Aa Gym

Hadirin, jangan sampai lepas mengamalkan 5 amalan ini:

  1. Shalat. Perbanyak shalat. Kalau bisa minimal 40 rakaat sehari (17 fardhu, 10 Rawatib, 11 Tahajud+Witir, 2 duha)
  2. Qur’an. Jangan pernah lepas dari Qur’an. Tiap hari harus baca Qur’an, tidak boleh kalah dengan sibuk di Sosial Media. Usahakan 1 juz, mudah bila dicicil satu lembar sebelum shalat, dan satu lembar sesudah shalat. Cobalah hadirin, ajaib hidup ini bila kita semakin banyak sibuk dengan Qur’an
  3. Shalawat. “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali” (H.R. Al Baihaqi). Jadi, Allah akan membalas shalawat dengan kebaikan untuk kita. Lebih khusyuk jika sambil shalawat, mengenang perjuangan Rasulullah SAW.
  4. Istighfar. Perbanyak istighfar. Selain berharap terhapusnya dosa, ada 3 keutamaan istighfar: “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad) Rasulullah yang bebas dari dosa saja 100x istighfar setiap hari. Bagaimana dengan kita?
  5. Shadaqah. Siapkan di saku ini siap sedekah. Lebih afdhol lagi, guru dari Aa Gym berpesan agar sedekah yang siap makan (misal beras), karena besar sekali pahala memberi makan.

kajian tauhid
Kajian Dzuhur di Masjid DT Jakarta

Lebih lanjut, Aa Gym menyampaikan tentang Sabar dan Shalat

“Hai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan Salat; sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. 2 / Al Baqarah : 154).

Sabar bukan berarti pasif, tetapi aktif mengendalikan diri tetap berada di jalan yang Allah sukai. Pikiran terkendali, perkataan dan perbuatan terkendali.

Setelah itu baru kita kerahkan diri untuk meminta tolong pada Allah dengan shalat. Jika shalatnya baik, maka segala aspek kehidupan akan menjadi lebih baik. Sebelum meminta tolong ke orang, sebelum bicara dengan orang, minta tolonglah ke Allah (sholat). Nanti Allah pertemukan kita dengan orang yang tepat yang bisa menjadi solusi. Karena Dia yang Maha Tahu setiap manusia.

Jangan takut dengan persoalan hidup, tapi takutlah tidak ditolong Allah. Jika Allah mempermudah urusan, maka urusan akan mudah, dan sebaliknya.

(Humas Daarut Tauhiid Jakarta)