DOA BERLINDUNG DARI ORANG ZHALIM

Doa berlindung dari orang zalim

Hanya kepada Allah kita meminta dan memohon perlindungan, termasuk dari ancaman orang-orang zalim.

Al Qur’an mengabadikan kisah Nabi Musa yang meminta kepada Allah untuk menyelamatkannya dari orang-orang zalim di kotanya.
.
فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ
.
Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim itu.”

-Surah Al-Qasas:21

www.dtjakarta.or.id

#doa #doaquran #islam #daaruttauhiid #daaruttauhiidjkt #pesantrendtserua

ZIARAH TIGA NEGERI PARA NABI (JORDANIA, PALESTINE, DAN MESIR) SEPTEMBER

wisata hikmah aqsha

18 – 28 September 2019

FULL TRIP 11 HARI 9 MALAM
———————————————
Biaya $2,250**
Plus tipping $70

• Uang Pendaftaran $1,000
• By Oman Air
• Max pelunasan 30 Juli 2019
• Passport masih berlaku 9 bulan sebelum jadwal keberangkatan

Destinasi:
Masjid Al Aqsha, Amman, Jordan, Palestine, Jerussalem, Kairo, Mesir, dan berbagai destinasi kisah dalam Al Qur’an & Para Nabi

*Contact:*
0852-8910-2222 / http://bit.ly/WisataHikmah
0812-0812-3311 / http://bit.ly/WisataHikmah-2
021-7235255
wisatahikmah@dtjakarta.or.id
http://wisatahikmah.id

Wisata Hikmah Daarut Tauhiid; Ikhtiar Meraih Keberkahan Sepanjang Perjalanan

Harga dan jadwal dapat berubah sewaktu-waktu

Mau mendapatkan tips, hikmah dan program WH terbaru, bisa bergabung di grup WA, klik http://bit.ly/WAGWisataHikmah2

Dia yang Menunggu di Telaga Al Kautsar

Telaga Al Kautsar
Ilustrasi telaga Al Kautsar
Ilustrasi telaga Al Kautsar

Dari Anas, ia berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi kami dan saat itu beliau dalam keadaan tidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa, wahai Rasulullah?” “Baru saja turun kepadaku suatu surat”, jawab beliau. Lalu beliau membaca,

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).

Kemudian beliau berkata, “Tahukah kalian apa itu Al Kautsar?” “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, jawab kami. Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Al Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang nanti akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat nanti. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang di langit. Lalu ada seorang hamba dari umatku terhalang darinya, aku berkata, ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya dia termasuk umatku’. Allah berfirman, ‘Kamu tidak tahu sesuatu yang terjadi setelah (meninggalmu)’” (HR. Muslim)

Di telaga itu Rasulullah menanti umatnya yang dicintai. Beliau  menyambut mereka yang kehausan. “Aku menunggu kalian di al Haudh, telaga. Siapa yang mendatanginya, dia akan minum airnya. Dan siapa yang minum airnya, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari)
“Telagaku panjangnya sejauh perjalanan satu bulan. Sudutnya pojoknya sama. Airnya lebih putih dari pada susu, baunya lebih wangi dari pada misk. Gayungnya seperti bintang di langit. Siapa yang minum sekali, tidak akan haus selamanya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Rasulullah Menyambut Umatnya

Di tepi telaga yang luas itu, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman, beliau berdiri menantikan umatnya. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Beliau menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap yang hadir di sana dengan sepenuh dirinya. Beliau memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  berseri dan senyumnya merekah bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Beliau bersabda, ”Kalian memiliki tanda yang tidak dimiliki oleh umat sebelumnya. Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan dan betis yang berkilauan karena bekas air wudhu,” (HR. Muslim)

Di telaga itu kelak, Rasulullah setia menanti umatnya dengan cinta dan kasih sayangnya. Tiada yang patut dilakukan, kecuali senantiasa memohon, agar bila tiba saatnya nanti, Allah memudahkan kita untuk mendatangi al Haudh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bisa menikmati airnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad hingga Yaumat Tanaad (hari kiamat saat manusia diseru di padang Mahsyar).

Ya Allah, kami bersaksi Engkaulah Tuhan Kami

Allah, kami bersaksi Engkaulah Tuhan kami

Sebelum manusia lahir ke muka bumi ini, Allah SWT menanyai ruh manusia tentang kesiapan  mereka mengakui Allah SWT sebagai Tuhannya di alam rahim. Ruh – ruh manusia menjawab bahwa mereka bersaksi tiada Tuhan  selain Allah yang berhak manusia sembah . Tentunya tidak ada manusia yang mengingat akan hal itu. Meskipun demikian, Allah telah mengabadikan perjanjian yang manusia lakukan kepadaNya dalam  Al Quran surat Al Araf sebagai berikut.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap (ketauhidan) ini” (QS. Al-A’raf: 172)

Saat lahir ke dunia ini, bayi dalam  keadalaan fitrah (suci). Fitrah adalah  jiwa yang suci yang menjelma dalam tauhid, ketundukan dan penghambaan, serta memelihara kesucian diri sebagai hamba Allah SWT.  Fitrah merupakan ketentuan Allah (Sunnatullah) yang melekat pada diri manusia. Sunatullah yang yang memiliki sifat kebaikan dan kesucian dan bisa dijadikan potensi dasar. Potensi dasar yang menggerakkan manusia menuju ke arah tujuan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

 “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah fitrah Allah. Yang Allah menciptakan manusia diatas fitrah itu. Itulah agama yang lurus. Namun kebanyakan orang tidak mengetahuinya( Q.S Ar-Rum : 30)

Fitrah manusia  bukanlah satu-satunya potensi yang dimiliki, karena manusia juga memiliki potensi nafsu yang memiliki kecenderungan pada kejahatan. Untuk itu manusia perlu menjaga fitrahnya agar tidak terpedaya hawa nafsu.

Seorang muslim yang memelihara fitrahnya maka  akan selalu mengokohkan ketauhidah. Tidak menjadikan segala sesuatu selain Allah sebagai sumber pengharapan. ia pun akan memelihara komitmennya dalam beribadah, diantaranya :

1.      memelihara shalat yang diwajibkan kepadanya dan melengkapinya dengan shalat-shalat sunnah

2.       menjalankan  puasa wajib, ia juga melengkapinya dengan puasa-puasa sunnah.

3.      Mengeluarkan zakat dan menyempurnakannya dengan infak dan sedekah.

4.      Melaksanakan haji ke Baitullah dan menyempurnakannya dengan umrah.

Dengan  terus mengokohkan ketauhidan,  istiqomah dalam beribadah dan menegakkannya secara sempurna, seorang muslim In Sya Allah  akan terpelihara fitrah kesuciannya.

Hati-hati Ghibah Online

ghibah online

Dalam sebuah mejelisnya bersama Abu Dzar, Rasulullah pernah memberi nasehat berikut :
“Wahai Abu Dzar, hindari dari perlakuan GHIBAH (menggunjing) karena dosanya lebih berat dari pada zina”.

“Ya Rasulullah apa itu ghibah?”

“Ghibah yaitu menyebut-nyebut saudaramu dengan yang tidak disukai.”

“Ya Rasulullah walaupun sesuatu itu ada pada dirinya”

“Ya apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun bila kau sebut aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memFITNAHnya.

——-<<<<<<<<
Ghibah (menggunjing) termasuk dosa besar, namun sedikit yang mau menyadari hal ini.
—————————————
“Ghibah itu Apa?” Sekarang kita akan melihat dalil yang menunjukkan bahwa ghibah tergolong dosa dan perbuatan haram, bahkan termasuk dosa besar.

Kata seorang ulama tafsir, Masruq, “Ghibah adalah jika engkau membicarakan sesuatu yang jelek pada seseorang. Itu disebut mengghibah atau menggunjingnya. Jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak benar ada padanya, maka itu berarti menfitnah (menuduh tanpa bukti).” Demikian pula dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri. (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 167).

Ghibah yang terjadi bisa cuma sekedar dengan isyarat. Ada seorang wanita yang menemui ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tatkala wanita itu hendak keluar, ‘Aisyah berisyarat pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa wanita tersebut pendek. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

قَدِ اغْتَبْتِيهَا

“Engkau telah mengghibahnya.” (HR. Ahmad 6: 136. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Dosa ghibah sudah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Asy Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Allah Ta’ala memisalkan ghibah (menggunjing orang lain) dengan memakan bangkai seseorang. Karena bangkai sama sekali tidak mengetahui siapa yang memakan dagingnya. Ini sama halnya dengan orang yang hidup juga tidak mengetahui siapa yang menggunjing dirinya. Demikianlah keterangan dari Az Zujaj.” (Fathul Qadir, 5: 87)

Asy Syaukani rahimahullah kembali menjelaskan, “Dalam ayat di atas terkandung isyarat bahwa kehormatan manusia itu sebagaimana dagingnya. Jika daging manusia saja diharamkan untuk dimakan, begitu pula dengan kehormatannya dilarang untuk dilanggar. Ayat ini menjelaskan agar setiap muslim menjauhi perbuatan ghibah. Ayat ini menjelaskan bahwa ghibah adalah perbuatan yang teramat jelek. Begitu tercelanya pula orang yang melakukan ghibah.” (Idem)

Ibnu Jarir Ath Thobari berkata, “Allah mengharamkan mengghibahi seseorang ketika hidup sebagaimana Allah mengharamkan memakan daging saudaramu ketika ia telah mati.” (Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 168).

Qatadah rahimahullah berkata, “Sebagaimana engkau tidak suka jika mendapati saudarimu dalam keadaan mayit penuh ulat. Engkau tidak suka untuk memakan bangkai semacam itu. Maka sudah sepantasnya engkau tidak mengghibahinya ketika ia masih dalam keadaan hidup.” (Lihat Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayil Qur’an, 26: 169).

Ghibah termasuk dosa karena di akhir ayat disebutkan Allah Maha Menerima Taubat. Artinya, apa yang disebutkan dalam ayat termasuk dalam dosa karena berarti dituntut bertaubat. Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa ghibah termasuk perbuatan yang diharamkan, lihat Syarh Shahih Muslim, 16: 129.

Dalam Kunuz Riyadhis Sholihin (18: 164) disebutkan, “Para ulama sepakat akan haramnya ghibah dan ghibah termasuk dosa besar.”
————————–————————
Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa dalil yang melarang kita dari perbuatan ghibah yang kami ringkaskan dari kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An Nawawi rahimahullah ta’ala.

1. Firman Allah ta’ala:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Janganlah kalian menggunjingkan satu sama lain. Apakah salah seorang dari kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Tawwab (Maha Penerima taubat) lagi Rahim (Maha Menyampaikan rahmat).” [QS Al Hujurat: 12]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “Di dalamnya terdapat larangan dari perbuatan ghibah.”

As Sa’di rahimahullah berkata di dalam tafsirnya: “(Allah) menyerupakan memakan daging (saudara)nya yang telah mati yang sangat dibenci oleh diri dengan perbuatan ghibah terhadapnya. Maka sebagaimana kalian membenci untuk memakan dagingnya, khususnya ketika dia telah mati tidak bernyawa, maka begitupula hendaknya kalian membenci untuk menggibahnya dan memakan dagingnya ketika dia hidup.”

2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم. قال: ذكرك أخاك بما يكره. قيل: أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال: إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه فقد بهته

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi berkata: “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika padanya ada apa saya bicarakan?” Beliau menjawab: “Jika ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau berbuat buhtan terhadapnya.” [HR Muslim (2589)]

Hadits di atas menerangkan tentang definisi ghibah. Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau aib seorang muslim dengan tidak secara langsung di hadapannya. Sedangkan buhtan adalah berkata dusta terhadap seseorang di hadapannya mengenai sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.

3. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata:

قلت للنبي صلى الله عليه وسلم: حسبك من صفية كذا وكذا – تعني قصيرة. فقال: لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته! قالت: وحكيت له إنسانا، قال: ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا

“Saya berkata kepada Nabi صلى الله عليه وسلم : “Cukuplah bagi anda dari Shafiyyah begini dan begini -maksudnya dia itu bertubuh pendek.” Beliau berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan kalimat yang kalau dicampur dengan air laut niscaya dapat merubah (rasa dan bau)nya!” Aisyah berkata: “Saya juga menceritakan tentang seseorang kepada beliau. Lalu beliau menjawab: “Saya tidak suka menceritakan seseorang sedangkan pada diriku terdapat (kekurangan) ini dan ini.” [HR Abu Daud (4875) dan At Tirmidzi (2502)]

Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini merupakan larangan yang paling tegas dari perbuatan ghibah.”

4. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم. كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Cukuplah kejelekan bagi seseorang dengan meremehkan saudara muslimnya. Setiap muslim haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim yang lain.” [HR Muslim (2564)]

Hadits di atas menerangkan larangan untuk menumpahkan darah, mengambil harta, dan menodai kehormatan sesama muslim. Dan perbuatan ghibah adalah salah satu bentuk pelecehan terhadap kehormatan seorang muslim yang tidak dibenarkan di dalam Islam.

5. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لما عرج بي، مررت بقوم لهم أظفار من نحاس يخمشون وجوههم وصدورهم. فقلت: من هؤلاء يا جبريل؟ قال: هؤلاء الذين يأكلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم

“Ketika saya dimi’rajkan, saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka. Saya bertanya: “Siapakah mereka ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan melecehkan kehormatan mereka.” [HR Abu Daud (4878). Hadits shahih.]

Hadits ini menerangkan bentuk hukuman yang dialami oleh orang-orang yang gemar membicarakan kejelekan dan menjatuhkan kehormatan orang lain.

Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur`an dan hadits yang melarang kita dari perbuatan ghibah. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita semua untuk dapat meninggalkannya.
—————-

Wallahu a’lam. Moga Allah menjauhkan dari setiap dosa besar termasuk pula perbuatan ghibah. Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini supaya senantiasa berkata yang baik.